Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Hatimu Hatiku


Edward terduduk di tepi ranjang, setelah pria itu memakai pakaiannya kembali. Berdiam diri dan merenung.......


Helaan napas kasar pria itu sangat terdengar, bingung akan dirinya sendiri. Memang tidak ada yang salah jika seorang istri memamerkan tubuhnya kepada suaminya. Tapi entah kenapa pria itu malah terlihat jijik, bukankah wanita tadi istri pilihannya, wanita yang dicintainya. Kenapa harus bingung sendiri.


“Ferdi......” panggil Edward dari dalam kamarnya.


“Ya Tuan, ada yang bisa saya bantu?”


“Bawa kopi ini ke laboratorium rumah sakit A, selidiki campuran kopi ini,” Edward menunjuk cangkir kopi yang masih tergeletak di meja.


“Baik Tuan.”


“Dan sekalian kamu panggil Pak Jaka, minta dia ganti seprai di kamar ini,” titah Edward, mengingat tadi Kiren tidur di atas ranjangnya.


“Baik Tuan,” Ferdi membawa cangkir kopi keluar kamar, dan segera memanggil Pak Jaka.


Tanpa menunggu lama Pak Jaka dan salah satu pelayan, membawa seprai baru, dan bergegas menggantikan dengan seprai baru.


Edward kembali duduk di sofa, sambil menunggu Pak Jaka menyelesaikan tugasnya.


Kali ini Edward mencoba menghubungi nomor ponsel Ria.


“Kenapa dari tadi nomornya Ria tidak aktif. Ghina.......saya merindukanmu.....!”gumam Edward, dan kembali lagi mencoba menghubungi Ria dengan ponselnya.


“Tuan, ranjangnya sudah rapi. Ada yang bisa saya bantu lagi,” tawar Pak Jaka.


“Buatkan saya roti panggang dengan selai coklat, sekalian minuman coklat hangatnya,” pinta Edward.


“Baik Tuan, akan saya buatkan segera.” Pak Jaka undur diri.


🌹🌹


Hotel di Yogyakarta.


Selesai makan nasi angkringan, lanjut cari counter handphone untuk beli nomor baru buat ponsel Ria.


Sekarang Ghina sudah kembali ke kamarnya. Diletakkan semua barang yang dibelinya di atas meja.


Setelah melepaskan sepatu, gadis itu bergegas membersihkan dirinya di kamar mandi, agar lebih segar dan nyenyak tidurnya.


“Aah......segarnya....udah gak lengket lagi badannya,” gumam Ghina. Merasa dirinya sendirian di kamar hotel, dan agak iseng rasanya. Ghina menyetel musik dari ponselnya.


Kemudian gadis itu mengambil minuman serbuk coklat yang sempat dia beli di mall dekat hotel tempatnya menginap, lalu menyeduhnya dalam cangkir yang sudah tersedia.


“Mmm.........” gumam Ghina menghirup aroma minuman coklat.


Lantas di bawanya cangkir coklat hangatnya serta kotak makanan yang berisi roti bakar isi coklat yang sempat dibelinya, duduk di sofa.


“Sungguh nikmatnya,” gumam Ghina, menikmati malam indah dengan secangkir coklat hangat dan sepotong roti bakar coklat.


Saya merindukanmu .......Ghina....


DEG


Ghina berhenti menyesap minuman coklat hangatnya, sekelebat gadis itu merasa Edward ada di hadapannya.


“Saya benar-benar merindukanmu......istriku Ghina,” lirih Edward, kembali pria itu menyesap minuman coklat hangatnya, seakan mampu menghangatkan malam kelam si pria itu. Tatapan Edward seperti melihat Ghina duduk bersamanya, sedang menikmati coklat hangat seperti dirinya, saling bercengkerama berdua, jari jemari mereka saling bertautan. Tiba-tiba buliran bening kembali jatuh di pelupuk mata pria itu.


“Maafkan.....maafkan saya yang terlalu merindukanmu,” lirih Edward, terdengar suaranya mulai serak.


Ghina ya merasa dirinya melihat sekelebat wajah Edward, menaruh cangkirnya di atas meja.


“Berhentilah merindukanku Om Edward, ikhlaskan takdir kita berdua. Berbahagialah dengan istrimu Kiren, begitupun denganku bahagia dengan caraku sendiri,” ucap lirihnya, seakan pria yang disebutnya ada di hadapannya.


“Maafkan saya....Ghina, saya mencintaimu. Maafkan saya terlambat merasakannya.......saya sudah jatuh cinta dari awal bertemu denganmu. Maafkan saya yang selalu menepis rasa ini.......sungguh ini sakit sekali,” gumam Edward sendiri, di dalam kamar seorang diri.


Begitu pun Edward, pria itu memejamkan matanya yang sudah mulai berair, menahan agar tidak tumpah, tapi membuat dadanya terasa sesak.


Inikah yang di namakan jatuh cinta sesungguhnya, setelah tidak ada orang di sisinya, baru menyadarinya jika hati ini sudah terpaut denganmu......Ghina


Kenapa saya baru menyadari, hati ini sendiri.


Saya akan segera menjemputmu......tunggu saya....ya istriku. Semoga kamu sudah berpikir jernih, dan tidak meminta bercerai kembali.


🌹🌹


Keesokan hari......


Yogyakarta.


Pagi ini Ghina, Opa Thalib, Oma Ratna, Papa Zakaria dan Mama Sarah, serta Ria terlihat sudah rapi dan sudah menyelesaikan sarapan pagi ini di restoran hotel.


Ria sepertinya repot dengan barang bawaannya yang segambreng “makanya mbak Ria, tadi udah saya tawarin buat bantuin malah di tolak nyatanya repot sendirikan,” celetuk Ghina sambil mengambil beberapa barang di tangan Ria.


“Iya non,” jawab Ria sambil nyengir kuda.


“Ayuk cepetan Ghina, Ria......Opa sudah menunggu di mobil,” ucap Papa Zakaria.


“Iya Pah, “ sahut Ghina, langsung berlari kecil dari dalam lobby hotel ke luar lobby.


Papa Zakaria hanya terkekeh kecil melihat Ghina yang kerepotan membawa barangnya sambil berlari.


Pagi ini Opa Thalib, mengantar Ghina ke tempat tinggal barunya selama tinggal di Yogyakarta.


Sekitar empat puluh lima menit, mobil mereka masuk ke dalam salah satu kompleks perumahan elit, dan berhenti di salah satu rumah mewah.


Ghina berdecak kagum melihat bentuk rumahnya, mewah tapi terkesan minimalis.


“Ayo, masuk Ghina,” ajak Oma Ratna.


“Iya Oma....” Ghina ikut masuk dengan Oma Ratna disusul, Opa Thalib.


Ketika Ghina masuk ke dalam rumah, ternyata sudah terisi dengan perabotannya. Ghina kembali berdecak kagum, dengan hunian berlantai dua.


“Ghina mulai sekarang, kamu dan Ria tinggal di rumah ini. Kamar utama ada dilantai dua, Oma dan mama kamu sudah menyiapkannya buat kamu.”


“Oma, yakin Ghina tinggal di sini. Ini terlalu mewah buat Ghina. Bisa gak pilih ke rumah yang kecil aja. Kayak rumah Ghina yang di Jakarta.”


“Opa dan Oma sudah menyiapkan ini untuk kamu, menurut Opa ini rumah yang sederhana tidak semewah mansion Opa. Dan Opa memilih lingkungan di sini juga buat keamanan kamu nak,” ujar Opa Thalib.


“Tapi tetap ini terlalu mewah buat Ghina, Opa.”


“Terimalah Ghina, pemberian ini tidak sebanding dengan kesalahan dan keegoisan Opa yang memaksa kamu menikah dengan anak Opa.”


Ghina hanya terdiam, Opanya kembali mengingatkan dirinya akan Edward pria yang telah menorehkan luka.


“Baiklah Ghina akan tinggal di sini, tapi bukan berarti memiliki rumah ini. Ghina anggap numpang tinggal di rumah Opa dan Oma,” ucap Ghina sambil tersenyum.


Opa dan Oma hanya bisa membalas senyum Ghina, walau hati mereka kecewa....Ghina menolak pemberian dari mereka.


“Ya sudah Oma antar ke kamar kami yuk, di atas,” ajak Oma Ratna.


“Ya Oma.....” dengan semangat Ghina mengikuti Oma Ratna dan Mama Sarah ke lantai dua.


“Wah.....kamarnya luas banget...” ucap Ghina terdengar riang.


“Makasih Oma, makasih mama,” sambil berganti memeluk Oma Ratna dan Mama Sarah. Kemudian kembali melihat-lihat kamarnya