Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Mimpi Buruk


Opa Thalib kembali menghajar Edward sampai babak belur, sedangkan Edward tak bisa mengelaknya papanya menghajar dirinya tanpa ampun. Usia boleh sudah tua, tapi kekuatan Opa Thalib untuk memukul masih bisa.


Mendengar adanya perkelahian dari salah satu pelayan mansion, Ferdi, Ria dan Pak Jaka segera ke ruang utama, untuk meleraikan perkelahian antara bapak dan anak. Ferdi yang melihat Ghina terluka, langsung inisiatif menghubungi dokter pribadi untuk segera ke mansion Edward.


“PAPA STOP BERKELAHI, GHINA PINGSAN!” teriak Oma Ratna yang sudah memegang tubuh Ghina tak sadarkan diri, dan kening penuh dengan da-rah. Tubuh Ghina akhirnya ambruk juga.


Edward sudah jatuh tersungkur setelah berulang kali papanya menghunjamnya dengan pukulan keras. Pria itu menyesal tidak bisa meraih tubuh Ghina, yang sudah tergeletak di lantai.


Ghina..........rintih batin Edward.


Opa Thalib dan Ferdi langsung mengangkat Ghina, membawanya ke kamar tamu. “Dokter segera tiba,” ucap Ferdi. Oma Ratna dan Ria ikut masuk ke kamar tamu.


Pak Jaka segera ke dapur menyiapkan minuman hangat buat Ghina dan ke dua orang tua Edward.


Kiren, Bu Sari dan Edward saling diam di ruang utama. Bu Sari sedang mencerna apa yang sedang terjadi.


“Kak Edward......,” ucap Kiren yang sedih menatap wajah tampan suaminya sudah babak belur.


Dengan tatapan nanar Edward menatap Kiren dan Bu Sari. Tanpa membalas jawaban Kiren, Edward menyusul ke kamar tamu.


Namun sayang, pria itu hanya bisa berdiri di depan kamar, karena tatapan tajam Opa Thalib yang tidak menginginkan pria itu masuk ke dalam kamar.


Ghina sudah di baringkan dalam keadaan miring, untung Ria ada di dalam kamar dan tahu kondisi luka di punggungnya. Wajah cantik gadis itu sudah mulai berlumuran da-rah. Wajah inilah yang di tatap Edward sekarang, perlakuan buruk ibu-nya Kiren terlihat jelas di depan matanya, dan ternyata dia tidak bisa melindunginya. Dan ini semua kesalahan pria itu dari awal.


Dokter keluarga sudah datang, langsung memeriksa kondisi Ghina.


Oma Ratna sepanjang Ghina di periksa oleh dokter, hanya bisa menangis. Gadis yang dia sayangi dari kecil, harus mengalami hal yang buruk di tangan anaknya sendiri.


Kening Ghina mendapatkan dua jahitan akibat benturan dengan meja. Darah sudah mulai berhenti, sekitar setengah jam Ghina pun sudah mulai siuman.


Dan selama satu jam lebih, Opa Thalib, Oma Ratna, Ria masih setia menunggu di kamar tamu. Ghina terlihat tersenyum tipis dengan Oma dan Opa, yang akhirnya datang juga.


“Ria, kemasi barang Ghina dan barang kamu. Sekarang juga!” titah Opa Thalib dengan suara pelan hampir tidak terdengar oleh Edward yang masih berdiri di depan pintu. Pria itu benar benar berdiri dalam waktu begitu lama, tanpa bergerak sedikit pun.


“Baik Tuan.”


Edward menatap sendu wajah Ghina, akan tetapi Ghina memalingkan wajahnya.


Ghina.........tatap saya.....batin Edward. Ingin rasanya pria itu berteriak memanggil nama gadis itu, agar, sekali saja gadis itu menoleh ke arahnya. Menatap dirinya.


Ghina mulai bangun dari pembaringannya, pelan pelan duduk di ranjang, walau kepalanya masih terasa  sakit dan pusing. “Ghina, sudah kuat untuk berdiri? kalau kamu sudah kuat, sekarang kita pergi?” tanya Opa Thalib masih dengan suara pelan.


“Insha allah, kuat Opa,” mendengar kata pergi, seakan ada kekuatan di tubuh Ghina.


“Baiklah, Oma bantu kamu ya nak,” ujar Oma Ratna memapah tubuh  Ghina.


“Edward, ikut papa ke ruang utama!” tegas Opa Thalib, dengan wajah garangnya.


Opa berjalan terlebih dahulu, lalu di ikuti Oma Ratna dan Ghina. Edward sengaja berjalan di belakang Ghina, ingin sekali dia ikut memapah dirinya, tapi mamanya tidak mengizinkan untuk menyentuh Ghina.


Kiren, Bu Sari dan Ayah Bowo yang baru saja datang, ternyata masih berada di ruang utama, mereka bertiga merasa canggung dengan kehadiran orang tua Edward. Khususnya kedua orang tua Kiren, karena ini untuk pertama kalinya mereka bertemu.


Opa Thalib mendudukkan bokong di sofa single, lalu Oma Ratna duduk bersama Ghina, duduk di sofa sebelah Opa Thalib.


“Duduk Edward......!” perintah Opa Thalib.


Seketika suasana dan aura ruang utama  terasa dingin dan menyeramkan.


“Saya tidak mengenal Ibu dan Bapak yang berada di sini. Yang saya tahu, dengan kepala mata saya sendiri.....anda telah mendorong menantu saya, GHINA FARAHDITYA.... ISTRI EDWARD!” tegas Opa Thalib dengan penuh wibawa, sambil menunjuk Bu Sari.


Opa Thalib wajahnya sama tampan dengan Edward, memperlihatkan mimik rasa tidak sukanya dengan tiga orang yang duduk di hadapannya sekarang.


“Saya tidak merasa hadir di pernikahan Edward dengan Kiren dan tidak memberikan restu, jadi itu sudah jelas, Kiren bukan menantu saya! Menantu yang saya akui adalah Ghina Farahditya!” ucap tegas Opa Thalib.


Tatapan Opa Thalib kembali semakin jelas tidak menyukai Kiren beserta kedua orang tuanya. Walau dulu Opa Thalib menerima hubungan spesial antara Edward dan Kiren saat pacaran, akan tetapi lambat laun Opa Thalib tidak sreg jika Kiren jadi menantunya.


Bu Sari semakin sinis memandang Ghina “menantu yang bapak akui itu, istri kedua nak Edward, begitu? Berarti gadis ini perusak rumah tangga anak saya dong Pak?” selidik Bu Sari, tapi tetap menuding Ghina.


PLAK !!


PLAK !!


Tangan Oma Ratna sudah mendarat di pipi Bu Sari, sudah geram sekali. Dari awal Oma Ratna melihat Bu Sari mendorong tubuh Ghina dan menghinanya, tangan Oma Ratna sudah gatal untuk memberi pelajaran kembali.


“Jaga mulut Anda, Ghina adalah istri pertama Edward. Apa kalian tahu itu! Dan Ghina ini masih saudara kami berarti saudara Edward, dan juga Ghina adalah salah satu pemilik perusahaan Thalib Grup, dan Nyonya mansion ini...........bukan anak anda. Sungguh lancang anda telah mendorong dan menghina menantu saya!” seru Oma Ratna.


Semakin kaget Bu Sari dan Ayah Bowo, jika kenyataannya posisi Kiren istri kedua Edward.


“Nak Edward, betul itu?” tanya ulang Bu Sari, agar semua perkataan yang di bilang besannya hanya omong kosong semata.


Sejenak Edward memandang Ghina, yang tidak sekalipun memandang dirinya sedari tadi “Ghina Farahditya, istri pertama yang saya di nikahi, istri sah secara agama dan negara,” pengakuan Edward, akhirnya keluar dari mulutnya.


“APA......YANG BENAR EDWARD!!” terkejut Bu Sari.


Kedua bola mata Bu Sari rasanya ingin copot, dada Bu Sari terasa sesak, setelah tadi menghina, menggerek, mendorong Ghina, sekarang tiba tiba lemas menerima kenyataan jika Ghina istri pertama Edward dan juga salah satu pemilik perusahaan Thalib Grup, jadi Kiren ???


Ghina terlihat tenang dan dingin mendengar pengakuan Edward, jika dia adalah istri pertamanya, akan tetapi sudah tidak berpengaruh buat Ghina. Dan tak sekalipun gadis itu memandang ke arah Edward yang tak putus putus menatapnya penuh arti yang sangat dalam.


“Berhubungan ini bukan mansion saya, jadi saya tidak berhak mengusir kalian keluar, walau saya sebenarnya ingin mengusir kalian bertiga dari sini!! Tapi yang jelas, saya mempertegas bahwa anda telah melukai hati dan fisik menantu saya....Ghina. Dan ingat Pak Bowo, usaha anda yang di Bandung mulai goyah, akan jatuh sejatuh jatuhnya!!” ancam Opa Thalib, tidak main-main, karena anak buahnya sudah mulai bekerja meruntuhkan usaha ayahnya Kiren.


Raut wajah Ayah Bowo dan Bu Sari pias seketika, mendengar usahanya akan jatuh. Kiren pun juga tak kalah terkejut. Tidak pernah menyangka papa Edward yang di kenalnya orang baik, ternyata bisa melakukan hal yang kejam. Tidak akan ada asap, kalau tidak ada api. Semuanya berawal dari tindakan Kiren dan Ibunya sendiri. Dan tak luput, semua berawal dari Edward.


“Edward.....kamu sebagai Presdir dan punya banyak perusahaan, punya uang banyak tapi bodoh!! sebelum menikahi seseorang, sebaiknya periksa sisilah keluarganya. Matamu benar-benar sudah di butakan oleh Kiren!” tegur Opa Thalib, mengabaikan keberadaan Kiren, seakan akan tidak ada Kiren di situ.


Kiren kembali tersentak dengan tuduhan Opa Thalib.


Edward hanya menyimak teguran dari papa nya. Di lawan pun sudah tidak bisa. Pria itu sudah tertangkap basah, mau mengelak juga tak bisa.


Ria dan Pak Jaka datang ke ruang utama dengan membawa koper Ghina dan koper milik Ria. Edward terlihat kaget, mengenali koper yang tempo hari dia rusakkan.


“Edward, kedatangan hari ini papa dan mama akan membawa Ghina pulang. Sekarang juga papa minta ucapkan talak ke Ghina!” perintah Opa Thalib.


Sekejap hati Edward mendidih dan terasa sakit, Ghina dijemput oleh papanya, dan meminta dirinya menalak Ghina.


Mimpi buruk pria itu benar-benar terjadi hari ini........


.


.


next........dia pergi....😭😭😭😭.



Demi Kakak Reader yang cantik dan ganteng, hari ini saya up lagi sesuai permintaan kakak semuanya, jadi hari ini udah crazy up 3 Bab......huft.


Terima kasih juga buat Kak Readers yang telah meninggalkan komentarnya.....sungguh luar biasa 😍😍😍.


Buat Kakak Readers jangan lupa hari senin, kasih vote karya ini ya, biar bisa muncul keberanda lagi 🙏🙏🙏. Siapa tahu masuk rangking (berharap aja 🤭🤭).


Love you 😘😘😘😘 sekebon 🌹🌹🌹🌹🌹