Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Terluka


“Hem.........” gumam Edward dengan ajudannya sengaja berjalan lambat saat mereka keluar dari ruang kerja pria itu. Ajudan yang berada di samping pria itu segera menolehnya, dan sedikit melirik ke belakang, melihat Anis dan Kiren di belakang mereka.


Mereka berempat sudah masuk ke dalam lift menuju lantai bawah. Suasana di dalam lift hening, tidak ada suara yang keluar, hanya isak tangis yang terdengar dari Anis.


Ting.......


Pintu lift terbuka di lantai bawah. Edward melangkahkan kakinya keluar pintu lift, kedua netranya sambil menelisik ke beberapa titik.


Beberapa orang sudah memberi kode ke Edward. Lobby hotel terlihat sepi, karena sudah di sterilkan oleh Ferdi dan salah satu ajudan, hanya beberapa staff hotel yang bertugas di tempatnya masing-masing.


Edward masih berjalan di depan Anis dan Kiren. Salah satu tangan Kiren yang masih memegang pisau, tetap menodongkannya ke pinggang Anis.


Pria itu sebenarnya tidak menyangka jika Kiren mampu menyandera Anis dan mengancamnya. Pertemuan mereka sebenarnya tidak di duga, dari pagi Edward memang sudah buat janji temu terlebih dahulu dengan Anis dan Dokter Tia. Sedangkan kedatangan Kiren di luar prediksi pria itu. Hingga terjadilah hal yang di luar dugaan.


Beberapa ajudan dengan langkah kaki yang tak berbunyi, sudah berada di belakang Anis dan Kiren tanpa sepengetahuan mereka, Edward yang sudah mendapat kode, langkahnya tiba-tiba berhenti, hingga Anis tanpa rem.....menubruk punggung Edward.


Edward lantas membalik badannya, melihat Kiren lengah di raihnya lengan Anis kemudian di tariknya keluar dari ancaman pisau Kiren, dan salah satu ajudan Edward menangkap tubuh Anis, yang sudah ditarik sekuat tenaga oleh pria itu. Agar menjauh dari todongan Kiren.


Seketika itu juga Kiren kaget, Anis sudah terlepas dari genggamannya, lalu..     


 BUG


Edward belum sempat merebut pisau yang dipegang Kiren, justru tubuh Kiren langsung dibanting Edward ke lantai, saat Kiren mulai melawan Edward. Menerima perlakuan seperti itu mata Kiren membulat tersentak kaget, dan tangannya langsung........


JLEB


Kedua netra Edward seketika terbuka lebar, merasakan sesuatu di dirinya, kemudian tatapannya sedikit di turunkan melihat tangan Kiren yang sudah menancapkan pisaunya ke dada pria itu.


Para ajudan telat beberapa detik, untuk membantu Tuannya yang sedang melumpuhkan pergerakan Kiren.


Tubuh Kiren terlihat gemetaran yang masih berada di bawah kungkungan Edward. Dan melihat tangannya masih memegang pisau yang sudah tertancap di dada mantan suaminya.


Wajah Edward mengulas senyum tipisnya, kemudian tubuh pria itu bangkit dari kungkungannya, dan berbaring di samping Kiren yang sudah  terjatuh, tak lama kemudian mata pria itu mulai terpejamkan Ghina....akhirnya permintaanmu terkabulkan, kita berpisah karena aku mati!!


Ujung ekor mata Edward sudah meneteskan air mata. Sama dengan luka tusuk di dada Edward yang sudah mengeluarkan darah.


Para staff hotel berteriak histeris melihat kejadian di depan mata mereka semua, Presdir Hotel sudah terkapar di lantai dengan bersimbah darah.


Ajudan Edward langsung mengamankan Kiren yang masih gemetaran, masih tidak percaya atas apa yang wanita itu lakukan.


Salah satu orang segera menolong Tuannya yang sudah terluka, dengan menekan darah yang keluar dari dada kirinya, agar berhenti pendarahan.


Ferdi yang berada di luar lobby hotel karena sedang menyiapkan mobil, langsung berlarian ke dalam lobby hotel setelah mendengar teriakan kencang dari dalam lobby. ”Astaga, Tuan........cepat kalian hubungi ambulans !!”


“Tuan......tuan tetap sadar tuan,” ucap Ferdi, yang melihat mata Edward mulai ingin terpejam lagi.


“Fer-Ferdi.....ti--tip sa--lam ke istriku Ghina......sa--ya mencin--tainya......merin—dukan--nya, sa---ya min—ta ma—af,” ucap lirihnya dengan napas yang mulai terengah-engah. Wajah Edward tersenyum tipis.


“Ayolah Tuan, tetap sadar.....sebentar lagi ambulans akan datang,” Ferdi menepuk pipi Edward agar tetap terjaga, dan membuka matanya.


Tanpa menunggu lama....


“Tuan......buka matamu.....Tuan,” pekik Ferdi, yang melihat mata Edward sudah terpejamkan.


Dokter Tia yang baru keluar lift, melihat ada yang terluka, segera memberi pertolongan pertama, ala kadarnya.


Anis masih menangis dalam pelukan karyawati hotel dengan tubuh yang bergemetar, menangis antara nyawanya sudah terselamatkan oleh Atasannya sendiri. Dan menangisi melihat Atasannya terluka dan sudah tak sadarkan diri.


Hari ini menjadi pelajaran yang berharga buat Anis, semua berawal dari mulutnya sendiri dan berteman dengan teman yang licik. Mungkin untuk ke depan Anis akan lebih selektif dalam berteman, paling tidak wanita itu juga harus merubah sifatnya sendiri, yang sering mengumbar rahasia orang, kepo dengan urusan orang lain.


Tidak selang berapa lama mobil ambulans sudah datang, dan para medis langsung mengangkat tubuh Edward ke atas brankar yang mereka  bawa, kemudian segera memasukkan tubuh Edward ke dalam mobil ambulans. Ferdi yang berada di samping Tuannya turut masuk dan mendampinginya.


Beberapa ajudan Edward yang masih berada di hotel, segera bekerja sama dengan pihak kepolisian. Anis, Dokter Tia dan beberapa staf hotel menjalankan interogasi di tempat kejadian Anis sebagai korban dan saksi inti diberikan keamanan untuk saksi dari pihak kepolisian.


🌹🌹


Mansion Utama


“Pah, perasaan mama kok gak enak ya.....” keluh Oma Ratna.


PRANK  


Tangga Oma Ratna tidak sengaja menyenggol gelas di meja makan. Hati Oma Ratna rasanya jadi tidak menentu.


“Hati-hati mam,” ujar Opa Thalib, melihat gelas sudah jatuh ke lantai.


Pelayan segera membersihkan pecahan kaca di lantai.


“Mama mungkin gak enak badan, jadi perasaannya gak enak. Sudah mendingan mama istirahat di kamar, tidak usah memikir hal yang negatif,” pinta Opa Thalib.


“Tapi badan mama gak capek Pah, hanya mama tiba-tiba ke ingatan wajah Edward, Pah,” keluh Oma Ratna.


“Ah itu mungkin karena mama kangen sama Edward saja.” Sejenak oma Ratna terdiam.


Yang di rasa Oma Ratna bukan perasaan rindu kepada putranya, melainkan rasa cemas yang tak menentu, seperti ada hal buruk yang menimpa putranya. Dalam hati Oma Ratna  melafazkan doa untuk anaknya, agar perasaan cemasnya hilang, serta pikiran buruk yang sempat terlintas tidak pernahlah terjadi.


 Insting seorang ibu pasti selalu terhubung dengan anaknya. Begitu juga seorang istri ada yang punya insting terhadap suaminya, bisa merasakan apa yang menimpa suaminya.


Dertt.......derrtt.....derrtt


Ferdi calling


Opa Thalib mengerutkan keningnya melihat ponselnya, merasa heran kenapa Ferdi menghubunginya.


“Assalamualaikum, Tuan Besar” sapa Ferdi.


“Walaikumsalam, Ferdi.....tumben kamu telepon saya?”


“Tuan Besar, saya mau kasih kabar Tuan muda mengalami kecelakaaan. Sekarang lagi di mobil ambulans, perjalanan menuju rumah sakit A,” ucap Ferdi pelan.


Opa Thalib terdiam, kemudian melirik istrinya. Yang sempat berkeluh jika istrinya merasa tidak enak, dan teringat akan Edward. Ternyata kegelisahan istrinya nyata adanya.