Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Berpisah dengan sahabat


Edward, Ghina, Ferdi dan Ria sudah berada di dalam mobil yang di kemudikan oleh pak sopir. Sesuai permintaan Ghina sebelum ke bandara, mereka mampir dulu ke toko kue miliknya.


“Rika, saya titip toko ya, hari ini saya harus  kembali ke Jakarta,” ujar Ghina di dalam ruang kerjanya.


“Rencana berapa lama di Jakarta, Ghin?”


“Mungkin lama, sekarang saya harus mengikuti keberadaan suami. Apalagi Opa minta kami segera kembali dan menetap di Jakarta.”


“Wah beruntung banget hidupmu, Dapat suami tajir melintir, mau pindah ke mana saja tidak masalah” dari ucapan Rika tersirat hatinya iri dengan segala ke beruntungan sahabatnya.


“Itu semua hanya titipan sementara Rika, tidak akan di bawa mati. Oh ya Rika, kira-kira ada rencana balik ke Jakarta juga gak? Kalau memang ada tolong kabari saya secepatnya. Biar saya segera cari orang untuk menggantikan posisi kamu di toko.”


“Untuk sementara belum ada ke pikiran untuk balik ke Jakarta dalam waktu dekat ini, soalnya saya lagi mengejar pria idaman yang selama ini di incar.”


“Mas Rafael pria yang kamu incarkan!” Tebak Ghina, karena sudah lama baca gelagat Rika setiap Ghina di datangi oleh Rafael.


“Iya, tapi sayangnya Mas Rafael sudah cinta mati sama kamu, Ghin,” celetuk Rika.


“Bukan cinta mati, itu hanya obsesi saja. Lambat laun juga akan berubah. Tapi satu pesan buat kamu, lebih baik di kejar daripada mengejar. Lebih baik dicintai dari pada mencintai. Saya tahu kamu sering sekali merendahkan diri kamu di hadapan pria, rubahlah sikap itu. Buatlah dirimu lebih berharga di depan mata pria, cintailah dirimu terlebih dahulu, baru mencintai orang lain. Karena saat kamu terluka, hanya kamu yang bisa mengobati luka itu bukan orang lain.”


Rika termenung sesaat, betul yang di katakan Ghina. Sudah berapa kali dirinya mengejar cinta seorang pria, tapi tak pernah ada hasilnya. Sedangkan dirinya sudah sering merendahkan dirinya di hadapan pria yang di sukainya. Tapi kembali hanya dapat penolakan dari pria yang di incarnya.


“Terus saya harus bagaimana?”


“Belajar berubah sikap Rika, jadilah wanita yang berharga untuk diri sendiri. Dengan sendirinya pria itu akan datang, jangan kamu obral cinta kamu seakan kamu tidak laku. Lihatlah dirimu ini Rika, kamu lumayan cantik dan lumayan pintar......cuma ganjennya yang gak nahan,” ujar Ghina sambil mengulum senyumnya.


“Jadi ganjennya di kurangilah, kalau mau ganjen nanti kalau sudah punya suami, dan itu pun genitnya cuma buat suami seorang.”


“Ah....bisa aja kamu, mentang-mentang sudah punya suami.”


Persahabatan dari kelas satu SMK hingga lulus kuliah, membuat mereka saling memahami sifat dan sikap dari masing-masing pribadi. Dan tidak bisa di pungkiri persahabatan mereka berdua juga ada selisih paham atau pertengkaran kecil sebagai bumbu persahabatan mereka berdua. Walau terlihat jelas di mata Ghina, Rika menyembunyikan rasa irinya terhadap Ghina.


“Terima kasih atas masukkannya bestie, saya akan coba merubahnya pelan-pelan.”


“Kamu pasti bisa Rika, dan jangan terlalu di kejar Mas Rafael.....cobalah bersikap biasa saja. Jika Mas Rafael suka sama kamu, pasti dia akan mendekatimu. Tapi kalau Mas Rafaelnya biasa saja, berarti dia bukan jodoh kamu. Mungkin pria lain yang jadi jodohmu kelak.”


“Iya Ghina, saya juga pengen kayak kamu....di kejar sama pria yang sangat mencintai. Pasti lebih nyaman rasanya.”


“Betul Rika, sangat nyaman, apalagi jika saling mencintai. Jadi sabar dan banyak berdoa, perbaiki diri. Insya allah jika sudah waktunya, pasti akan hadir pria yang kamu inginkan.”


“Sayang.....” suara Edward sudah mulai kedengaran dari luar ruang kerja Ghina.


“Ya hubby,” sahut Ghina.


“Sayang, masih lama gak?” Edward sudah berdiri di depan pintu.


“Sebentar lagi ya hubby, masih koordinasi dengan Rika dulu.”


“Oke, aku tunggu di cafetaria ya, sayang.”


“Tidak menyangka ya Ghina, Om yang dulu kamu hindari, sekarang terlihat sangat mencintai kamu,” Rika terkesima melihat tatapan Edward penuh kehangatan dan lembut saat bicara dengan Ghina.


“Setiap orang pasti bisa berubah Rika, bisa menjadi lebih baik atau lebih buruk. Dan itu karena apa? Karena hati yang mencintai dan menyayangi secara tulus. Kamu pasti akan dapat yang seperti itu, mulailah dari diri sendiri. Bukankah kamu tahu perjuangan saya selama ini!”


“Iya betul, selama ini kamu sudah berjuang untuk menjadi lebih baik, dan pantas mendapatkan yang sama.”


“Sudah, kita lanjutkan masalah toko ini, soalnya saya sudah di tungguin sama suami di bawah.”


“Siap Bu Bos.”


Rika dan Ghina kembali melanjutkan koordinasi pekerjaan di Toko, agar tetap berjalan walau owner tokonya berada di Jakarta.


Ria mulai mengemasi beberapa cake yang telah di pilih oleh Ghina untuk di bawa ke Jakarta.


Rampung urusan  toko dengan Rika, kini wanita cantik itu menyapa dan  berpamitan dengan para karyawan. Semua karyawan hampir menangis dan yang pasti terlihat sedih, ketika Bu Bosnya yang baik hati dan termasuk Bu Bos yang royal harus kembali ke Jakarta. Edward yang mendampingi istrinya ketika berpamitan dengan para karyawannya ikut terharu, melihat istrinya begitu di sayangi oleh karyawannya, bangga istrinya seorang pemimpin yang hebat, untuk toko kue yang terbilang besar.


“Kita akan sering-sering koordinasi, Rika,” ujar Ghina, ketika mereka berdua berpelukan, sebelum Ghina masuk ke dalam mobil.


“Iya Ghina, jangan lupa cepetan kasih saya keponakan yang ganteng dan cantik.....ya, saya bakal kangen sama kamu,” balas Rika sambil mengurai pelukannya.


“Iya...........doaiin saya segera punya anak. Saya juga bakal kangen sama kamu juga, Rika my bestie,” balas Ghina. Tak bisa dibohongi hati kedua sahabat ini terasa sedih harus kembali berpisah, itulah jalan kehidupan yang harus di lewati.


Untuk beberapa menit wanita cantik itu menatap toko kuenya dengan tatapan sendunya. Hatinya mulai berselimutkan kesedihan, toko yang dirintisnya awalnya kecil sekarang sudah lumayan besar, dan termasuk toko kue yang di kenal oleh orang banyak di sekitar kota Jogjakarta.


Hari ini tiba waktunya wanita itu melepaskan mimpi yang sudah diwujudkannya. Meninggalkan untuk pertama kalinya, dan entah kapan akan kembali lagi.


“Ayo sayang, waktunya kita berangkat,” Edward merangkul bahu Ghina yang mulai bergetar, menahan hati yang sedih.


“Bye Rika.....,”


“Bye Ghina........”


Ghina telah masuk ke dalam mobil, sambil melambaikan tangannya ke Rika dan ke karyawannya yang mengantar kepergian wanita itu.


Tanpa terasa jatuhlah buliran bening itu di ujung ekor matanya. Meninggalkan dan melepaskan tokonya, bagaikan kehilangan belahan jiwanya.


Edward yang turut merasakan kesedihan istrinya, langsung merangkul istrinya. Dan membiarkan istrinya menangis dalam pelukannya. Baru kali ini pria itu melihat istrinya menangis, menjatuhkan air matanya. Setelah mereka meninggalkan Toko Kue Gina’s.


Toko Kue Gina’s adalah saksi bisu dari kebangkitan seorang Ghina, dari penderitaan yang diberikan suaminya, mengobati dirinya sendiri melalui kesibukannya merintis bisnis. Mulai dari hal yang kecil hingga menjadi besar seperti sekarang.


Melihat nyonya-nya menangis, Ria juga turut sedih, hingga matanya ikut berembun. Tidak ada namanya perpisahan itu bahagia, walau di tutupi dengan senyuman yang manis, tetap saja setelahnya akan berderai air mata.


bersambung....