
Hati Bu Sari sudah berdebar kencang, tak menentu........kedua tangannya yang memegang ponsel dari Opa Thalib terlihat gemetaran.
Sedangkan Pak Bowo memalingkan pandangannya dari ponsel tersebut, rasanya tidak sanggup melihat adegan video yang ada di dalam ponsel tersebut.
Edward dan Ghina hanya melihat mimik wajah pak Bowo dan bu Sari, tanpa ada rasa ingin tahu apa yang sedang di pertonton mereka berdua.
“Bagaimana sudah jelas sekarang kelakuan anak kalian berdua, anak yang kalian sanjung sebagai wanita baik-baik!” seru Opa Thalib.
Bu Sari melihat wajah cucunya Wisnu, mulai ketar ketir rasanya. “Saya tidak yakin ini anak saya Kiren, bisa saja Pak Thalib mencari wanita yang mirip dengan anak saya. Lalu membuat video ini,” Bu Sari mengelak, masih saja belum mengakui dan menerima kebenarannya.
“Terserah anda mau mengakui atau tidaknya kelakuan buruk anak anda, saya tidak perduli. Yang jelas kalian berdua tidak semudah itu datang membawa seorang anak agar dapat di akui oleh anak saya. Untuk menjadi bagian keluarga besar Thalib!” ucap Opa Thalib.
Napas Bu Sari terlihat kempas kempis, tatapan matanya sudah memerah. “Saya sebagai ibu dari Kiren, tidak percaya dengan video itu. Ini pasti rekayasa untuk menjatuhkan anak saya!!” seru Bu Sari.
“Kami datang ke sini hanya ingin memberitahukan jika Wisnu adalah anak dari nak Edward. Sepertinya kalian memutar balikkan fakta tentang anak saya dengan video ini, agar cucu saya tidak dapat pengakuan dari papa nya Edward!” ujar Bowo dengan nada kesalnya.
“Masalah pengakuan itu sangat mudah jika anak ini terbukti dengan hasil DNA, tapi bukan berarti dengan hasil DNA yang cocok dengan saya. Lalu akan menjadi pewaris saya! Saya tahu kelicikan kalian berdua, melalui anak ini kalian berdua ingin menguras kekayaan saya. Dan jangan pikir saya tidak tahu jika sekarang kalian berdua ingin mengeluarkan Kiren dari penjara lewat jalan ilegal. Berhati-hatilah jika bermain di area hukum!!!” peringatan tegas dari Edward.
DEG
Wajah Pak Bowo memucat.
“Tuan, team dokter sudah datang,” ujar Ferdi yang baru kembali dari lobby untuk mengarahkan team dokter ke ruang kerja Edward.
“Oke.....!” jawab Edward.
Opa Thalib bergegas meninggalkan restoran dengan salah satu ajudannya ke ruang kerja.
“Jadi bagaimana mau kita lanjut?” Tanya Edward kepada Pak Bowo.
“Ya silahkan dan dapat saya pastikan jika Wisnu adalah anak nak Edward. Dan nak Edward tidak dapat mengelak kebenaran!!” seru Pak Bowo.
“Anda terlalu percaya diri sekali!!!” balas Edward, langsung beranjak dari duduknya.
“Ayo Ghina....,” ajak Edward kembali menggenggam salah satu tangan Ghina.
“YA........"
Bu Sari sungguh tidak senang dengan pemandangan di hadapan mereka, rasa dendamnya yang sedari tadi bergejolak di dada, ingin di keluarkannya.
Pak Bowo mengendong Wisnu, Bu Sari segera berjalan di belakang Ghina.
Lalu........
“AAAKKHHHHH......”pekik Ghina ketika rambutnya di tarik dari belakang oleh Bu Sari, sambil menahan rambut yang ditarik.
BUG....!!!
BRAK....!!!
“AAAKKKHHHH.......”pekik Bu Sari.
Reflek tangan besar Edward memberikan pukulan ke wajah Bu Sari hingga tubuh Bu Sari terhempas sendirinya menabrak meja restoran. Bu Sari sudah terjatuh tertimpa meja makan beserta piring yang berada di atas makan.
Kemudian Edward jongkok di depan Bu Sari,” sudah cukup rasanya melihat Anda ingin menyakiti dan melukai istri saya. Berani sekali lagi, nyawa Anda akan menghilang!!!” ancam Edward.
Wajah Bu Sari yang sedang meringis kesakitan, tambah menjadi pucat. Pak Bowo menghampiri Bu Sari dengan wajah kesalnya, melihat kelakuan Bu Sari yang bertindak gegabah.
“Kalian berdua awasi mereka berdua, kawal dengan ketat sampai proses hasil DNA keluar!” Perintah Edward kepada ajudan Opa Thalib.
“Baik Tuan.”
“Kamu gak pa-pa kan? Sakit kepalanya?” Tanya Edward untuk memastikan kondisi Ghina, sambil mengelus kepala wanita itu.
“Sedikit sakit , Om....,” jawab Ghina.
Salah satu ajudan mengambil alih untuk mengendong Wisnu dari gendongan Bowo yang tampak kerepotan untuk mengurus Bu Sari yang terjatuh, tapi sayangnya bocah laki-laki itu menangis kencang.
Ghina langsung menghampiri sang ajudan “Biar sama saya saja,” pinta Ghina mengulurkan tangannya un tuk menerima Wisnu.
Tanpa di sangka Wisnu menerima uluran tangan Ghina untuk di gendong wanita itu.
“Cup.....cup......jangan menangis lagi anak pintar,” bujuk Ghina, dan bocah laki itu mulai sedikit tenang.
“Ghin, kok jadi kamu yang mengendong?” tanya Edward.
“Gak pa-pa Om, kasihan dengar anak ini menangis. Lagi pula anak ini tidak bersalah.....lepas siapa pun itu papanya. Sebaiknya urusan ini segera di selesaikan,” ujar Ghina.
“Ya udah kita ke ruang kerja, dokter sudah menunggu,”ajak Edward. Ghina sambil mengendong Wisnu, jalan beriringan dengan Edward.
Proses pengambilan darah Edward dan Wisnu, serta helai rambut Edward dan rambut Wisnu sudah di lakukan dengan cepat. Dengan kekuatan uang dan kekuasaan seorang pemilik rumah sakit, Edward minta hasil test DNA cepat keluar kalau bisa malam nanti atau besok pagi sudah ada hasilnya.
Sedangkan di dalam kamar hotel, Bu Sari sudah tergeletak di atas ranjang tidak bisa bergerak, akibat jatuhnya membuat tulang ekornya sakit sampai ke bagian paha, hingga kedua kakinya tidak bisa di gerakkan.
“Ini semua gara-gara Ibu yang gegabah pakai mau menjambak rambut Ghina! Ayah juga kesal, dan bisa-bisanya Kiren masih berhubungan dengan Angga laki-laki miskin itu!!”
“Gagal rencana kita!!!” sewot Pak Bowo. Bu Sari hanya bisa meringis kesakitan dan menangis i dirinya, takut jika dirinya tidak bisa berjalan, Karena sedari tadi dia tidak bisa menggerakkan kedua kakinya. Mau mengadu ke suaminya, suaminya sedang marah-marah.
Sepertinya kali ini Bu Sari sudah tidak bisa berkutik lagi, hari ini dia hanya bisa meringis kesakitan. Entah apakah Bu Sari akan tidak bisa berjalan lagi, jika memang tulang ekornya kena bagian syaraf!! Niat buruk cepat terbalaskan!!!
🌹🌹
Malam hari.........
Di ruang kerja hotel, Opa Thalib, Oma Ratna , Edward, Ghina dan Pak Bowo sudah berkumpul.
Salah satu Dokter yang di dampingi salah satu ajudan yang bertugas menjaga selama proses pengecekan test DNA, datang dan membawakan hasil test DNA yang dilakukan tadi pagi.
Edward langsung membuka surat tersebut.
Penentuan profil DNA dilakukan dengan menggunakan metode standar sampel darah dan rambut atas nama Edward Thalib sebagai terduga ayah dari atas nama Wisnu sebagai anak.
Bukti ilmiah yang dengan mengacu pada sampel yang diperiksa, menunjukkan bahwa 6 dari 21 alel loci marka STR yang dianalisis dari terduga ayah Edward Thalib tidak cocok dengan alel partenal dari anak Wisnu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa probabilitas Edward Thalib sebagai ayah biologis dari anak Wisnu adalah 0%. Oleh karena itu Edward Thalib sebagai terduga ayah dapat disingkirkan dari kemungkinan sebagai ayah biologis Wisnu.
Edward langsung memeluk Ghina yang duduk di sampingnya, ”Dia bukan anakku.”
Pak Bowo tertunduk lemas, segala impiannya musnah seketika.
.
.
bersambung.....
Kakak Reader yang Ganteng dan Cantik, yang masih punya Vote mau dong di lemparin ke Ghina dan Edward. Makasih sebelumnya 🤗
Love you sekebon 🌹🌹🌹🌹🌹