Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Merawat Ghina - 3


“Astaga Ya Allah, bagaimana aku bisa luluhkan hati istriku sendiri!” teriak Edward sambil lalu, keluar dari kamar Ghina menuju rumah Pak RT.


“Emang enak, Tuan....,” Ria terkekeh kecil.


“Mbak Ria ada-ada aja nih,” ujar Ghina.


“Udah Non, sekarang mbak suapin makan, biar cepat sembuh dan  bisa menghadapi pria yang ngaku-ngaku suami Non, kenyataan ya suami beneran,” pinta Ria, mulai menyuapi Ghina makan.


Ria salah satu orang yang dekat dengan Ghina walau hanya seorang asisten rumah tangga, selama empat tahun menemani perjuangan hidup Ghina di Yogyakarta, dan orang yang paling tahu kisah antara Edward dan Ghina awal mulanya.


Apa yang di ucapkan Ria itu salah satu bentuk membela dan melindungi Ghina, agar hal buruk yang dulu tidak terulang kembali.


🌹🌹


“Tuan semua barang pesanannya sudah saya beli,” lapor Ferdi, yang melihat Tuan Besarnya turun dari lantai atas.


“Bagus.....” jawab Edward, tapi tidak memberhentikan langkah kakinya.


“Tuan sekarang mau ke mana?” tanya Ferdi, melihat Tuannya terburu-buru keluar pintu.


“Mau ke rumah Pak RT,“ jawab Edward, terpaksa menghentikan langkah kakinya.


“Ada apa Tuan ke rumah Pak RT?”


“Dari tadi kamu nanya terus Ferdi, apa perlu saya laporan ke mana saya pergi,” sumpah hari ini mood Edward tidak terlihat baik.


“Bukan begitu Tuan, saya hanya mau menawarkan, mau di temani atau tidak ke rumah Pak RT?” tawar Ferdi.


“Saya mau laporan ke Pak RT, kalau saya suaminya Ghina dan sedang berada di sini. Biar saya tidak di curigain sama tetangga di sini. Ya udah sekarang kamu antari ke rumah Pak RT sekarang,” pinta Edward.


“Baik Tuan,” jawab Ferdi. Mereka berdua menuju rumah Pak RT menggunakan mobil, agar tidak capek mencari rumah Pak RT.


🌹🌹


“Non, kalau mbak lihat kok Tuan besar agak berbeda ya,” ujar Ria sambil menyuapi Ghina.


“Maksudnya?”


“Baru kali ini lihat Tuan cemas sekali, tidak seperti dulu, walau dulu Tuan juga cemas saat non Ghina pingsan di bathup dan waktu non Gina terluka di gudang.”


“Memangnya mbak Ria bisa bedaiin?” tanya Ghina.


“Bisa Non, apalagi kejadian itu non Ghina dalam keadaan tidak sadar. Saat itu wajah Tuan besar cemas sekali saat Non Ghina dalam keadaan tidak sadar, seperti pria yang terlihat rapuh. Yaa setelah Non sadar, Tuan kembali seperti biasa aja.”


“Apalagi sekarang Non lagi sakit, baru kali ini saya lihat Tuan mau ambil air minum sendiri buat Non Ghina ke dapur, saat dulu Kiren sudah tinggal di mansion....Tuan mana pernah ambil air minum ke dapur buat Kiren saat sakit, lalu nunggui Kiren di kamar, berduaan. Yang ada setelah dokter datang, Tuan Besar kembali ke kantor,” cerita Ria.


“Ah....yang benar mbak Ria, mungkin mbak Ria gak lihat aja kalau Om Edward ambil minum atau makanan di dapur buat mbak Kiren, Apalagi saat itu Om Edward mencintai mbak Kiren,” sanggah Ghina tidak percaya apa yang diceritakan Ria.


“Bener Non Ghina, mbak berani sumpah. Buat apa mbak berbohong, mbak hanya melihat perbedaannya saja. Tidak bermaksud apa pun. Tapi semuanya mbak kembalikan lagi ke Non, mau percaya atau tidaknya,” ujar Ria.


Ghina tampak bergeming, betul kata Ria.........hati wanita itu  antara percaya atau tidaknya, tapi  yang jelas Ria saksi ketika Ghina tidak sadarkan diri.


“Mbak cukup makannya, perut saya tiba-tiba mual. Pengen muntah,” menolak suapan dari Ria.


“Sebentar, mbak ambilkan air hangat untuk di minum,” ujar Ria, bergegas ke bawah untukk mengisi gelas kosong.


Di kala badannya panas, pasti perut wanita itu mulai mual dan mulai bergejolak untuk diminta keluarkan isi perutnya.


Dengan kepala yang terasa pusing, wanita itu memaksakan diri untuk beranjak dari atas ranjang, menuju kamar mandi.


“Huek.......huek.......huek...,” akhirnya keluar isi perut yang baru aja di isinya.


Edward yang baru aja kembali dari rumah Pak RT, dan sudah naik tangga....mendengar ada suara orang muntah, pria itu mempercepat langkah kakinya, menuju kamar Ghina.


“Sayang........sayang........,” panggil Edward, sambil masuk ke dalam kamar.


“Sayang......,” panggil Edward, langsung memijat tengkuk leher Ghina. Ketika melihat Ghina di kamar mandi sedang membungkung di atas closed.


Ghina menoleh ke arah samping, melihat siapa yang memijat tengkuk lehernya.


“Huek......huek....,”


Edward masih memijat tengkuk leher Ghina, tanpa rasa jijik melihat muntahan Ghina.


“Sudah enakkan belum perutnya, kita ke rumah sakit aja ya,” pinta Edward, sambil melap bibir Ghina dan membasuhnya dengan air, pelan penuh kelembutan.


“Tidak usah, aku udah biasa kalau badan panas, perut suka terasa mual,” jawab Ghina, yang wajahnya masih di lap kering pakai handuk oleh Edward.


“Tapi lihat badan kamu sayang, terlihat lemas begini. Aku tidak tega lihatnya,” ujar Edward.


“Please Om Edward, jangan panggil aku sayang........bikin aku mual. Mending panggil nama saja,” pinta Ghina.


Edward teringat jika panggilan sayang membuat Ghina teringat akan hubungan pria itu dengan Kiren.


“Maafkan aku, lupa jika kamu tidak suka di panggil sayang.”


“Baby, masih terasa mual perutnya?” tanya Edward, mengganti nama panggilan sayangnya.


“Baby.......,” gumam Ghina.


“Tadi kamu gak suka di panggil sayang, sekarang aku panggil baby. Baby ku yang cantik,” goda Edaward.


“Iissh........,” desis Ghina. Wanita itu mulai melangkah keluar kamar mandi.


“Aaakh....,” tubuh wanita itu terasa sudah melayang.


Ternyata Edward sudah mengangkat tubuh Ghina, wanita itu terkesiap dengan perilaku Edward.


“Om.......,”


“Diam, jangan menolak.....baby lagi sakit...,” Edward membawa Ghina ke atas ranjang.


“Non.....,” panggil Ria yang ternyata sudah berada di kamar Ghina.


“Minum dulu air hangatnya, biar enakkan perutnya,” sambil memberikan gelas. Ghina langsung minum sampai tandas.


“Ria tolong bilang Ferdi, telepon dokter lagi dan suruh ke sini. Baby, gak mau di ajak ke rumah sakit.....” pinta Edward.


Tadi panggil sayang........sekarang baby.......udah ganti nama panggilan nih......batin Ria.


“Ayo Ria jangan bengong aja, cepat kasih tahu Ferdi segera. Ferdi masih ada di bawah,” perintah Edward.


“Baik Tuan, saya ke bawah,” pamit Ria.


Edward menyelimuti tubuh Ghina dengan selimut bed cover, dan kembali mengecek suhu tubuh Ghina.


“Baby, panas badan kamu kok belum turun juga.....,” ujar Edward, melihat angka yang tertera di termometer.


“Mmmm......” gumam Ghina, masih terlihat lemas , setelah mengeluarkan isi perutnya semua.


“By, aku ambilkan makanan dulu di bawah ya....perut kamu harus di isi lagi.....walau sedikit,” ujar Edward penuh perhatian.


“Terserah Om.........” jawab Ghina.


“Sebentar ya.......,” Edward kembali ke bawah, menuju dapur. Mengambil beberapa makanan yang di beli Ferdi. Sepertinya Edward tidak terasa lelah, sudah berapa kali naik turun ke atas ke bawah demi istri tercintanya.


Semuanya demi meluluhkan hati istri tercinta.