Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Mengejarnya


“Ghina..........keluar Ghina......Kita pulang Ghina.......ke mansion kita,” Edward mengedor-gedor kaca mobil yang ditumpangi Ghina.


“Ghina.....saya minta maaf, kembalilah istriku.....!”


mohon Edward, matanya sudah mulai memerah.


Ghina hanya bisa menatap Edward yang mengedor-gedor kaca mobil dari dalam, tidak terbesit untuk membuka jendela.


Semuanya sudah berlalu Om Edward, sudah tidak ada artinya.


“Jalankan mobilnya,” perintah Oma Ratna pada sopirnya.


Oma Ratna menatap wajah Ghina yang masih menatap Edward. Disentuhnya tangan Ghina yang berada di atas paha Ghina.”Kamu gak pa-pa?”


“Enggak pa-pa kok Oma,” Ghina menoleh ke arah Oma Ratna dan tersenyum tipis.


Ghina kembali menoleh ke samping, wajah tampan yang penuh luka itu masih saja mengetuk-ngetuk kaca mobil. Ah pengalaman pertama gadis itu di kejar-kejar oleh pria tampan, yaitu suaminya sendiri.


Gadis itu tersenyum kecut, belum mengenal lelaki, belum mengenal pacaran, justru langsung menikah karena perjodohan.


Tanpa sengaja Ghina menjulurkan tangannya menyentuh kaca mobil, seakan-akan menyentuh tangan Edward yang sedang mengetuk kaca.


Kisah kita sudah berakhir Om Edward


Edward terus berlari mengejar mobil yang di tumpangi Ghina. Akan tetapi jadi sia-sia....Edward sudah tidak sanggup mengejarnya setelah kecepatan mobil itu semakin cepat, kala sudah keluar dari gerbang rumah sakit.


TIN....TIN


Sopir mobil Edward sengaja membunyikan klaksonnya, agar Tuannya tahu jika sudah di hampiri.


Edward yang menoleh, langsung masuk ke dalam mobil miliknya.


“Langsung ke mansion utama!” perintah Edward kepada sopirnya.


 Kaki Edward mengetuk-ngetuk lantai mobilnya, seperti tidak sabar untuk segera sampai ke mansion papanya.


Hati pria itu masih berdebar-debar mengingat pertemuan dengan Ghina di rumah sakit, keputusannya sudah bulat akan mengejar gadis itu, dan kembali bersamanya.


“Cepat bawa mobilnya!” titah Edward tampak tak tenang, seakan-akan perjalanan ke mansion jauh sekali.


“Siap, Tuan!” sang sopir meningkatkan kecepatan mobil yang di kendarainya.


Sedangkan di rumah sakit, tepatnya di toliet tampak Kiren sedang memperbaiki riasan wajahnya, setelah terhapus dengan air matanya.


“Sialan, Kak Edward malah mengejar Ghina. Gue harus cari cara agar Kak Edward tidak berpaling dari gue. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja!!” gumam Kiren, kesal luar biasa di acuhkan oleh Edward.


🌹🌹


Dalam waktu empat puluh lima menit, mobil mewah Opa sudah masuk ke gerbang mansion utama.


Opa membuka jendela mobilnya saat melewati pos security mansion “ kunci gerbang segera, jangan bukakan gerbang untuk siapapun tanpa seizin saya, terutama Edward di larang masuk ke dalam!” perintah Opa Thalib.


“Baik Tuan Besar,” jawab security sambil  membungkukkan tubuhnya sebagai tanda hormat.


Setelah ke tiga mobil masuk dan sudah berada di depan lobby mansion utama, para security bergegas mengunci gerbang sesuai perintah Tuan Besar.


Tidak butuh waktu lama, ketika gerbang mansion sudah tertutup dan terkunci, mobil Edward tiba di depan gerbang. Berulang kali sopir Edward sudah mengklaksonkan, agar security membukanya, sepertinya tetap tidak di buka.


Ferdi inisiatif untuk turun, dan ke pos security untuk membukakan gerbang seperti biasanya.


“Selamat siang Pak Ferdi,” sapa Budi.


“Tolong Pak Budi, di bukakan gerbangnya,” pinta Ferdi.


“Tapi ini Tuan Edward yang akan berkunjung, bukan orang lain. Beliau anak Tuan Thalib” ucap Ferdi.


“Justru itu Pak Ferdi, Tuan Edward di larang masuk ke dalam, pesan Tuan Besar.”


“Siapa yang tidak boleh masuk ke dalam?” tanya Edward yang akhirnya keluar dari mobilnya.


Budi si security dengan wajah sedikit takut kepada tuan mudanya terpaksa berkata “Maaf Tuan Muda, Tuan besar melarang Tuan Muda masuk ke dalam.”


Edward mengepalkan kedua tangannya, ternyata papanya benar-benar teguh pendiriannya. Melarang dirinya untuk masuk ke mansion utama.


Beberapa ajudan Opa Thalib mulai berdatangan untuk menjaga pos keamanan. Bulu kuduk Budi mulai merinding, pikirannya sudah mulai menduga-duga jika ada sesuatu yang terjadi antara Tuan Besar dan anak pertamanya. Dan ini untuk pertama kalinya Budi melihat keadaan seperti ini.


Ajudan Edward turut siaga juga di samping Edward untuk melindunginya.


Dari balik gerbang mansion utama, Edward bisa melihat Ghina yang baru saja keluar dari mobil, terlihat sedang tersenyum hangat dengan Opa Thalib dan Oma Ratna.


“GHINA.........” teriak Edward dari kejauhan.


Samar samar telinga gadis itu, mendengar namanya di panggil, tanpa sengaja gadis itu menoleh ke arah gerbang mansion.


“Buat apa lagi anak itu ke sini, masih tidak cujuo ketika di rumah sakit!” gumam Opa Thalib, ternyata anaknya mengikuti mereka.


“Sudah Ghina, lebih baik masuk ke dalam,” titah Oma Ratna, mendengar putranya memanggil Ghina.


“Ghina, saya datang untuk menjemputmu!” teriak Edward.


Ghina terlihat sangat menikmati Edward yang berteriak dari luar gerbang mansion.


“Buka gerbangnya Budi! saya ingin menjemput istri saya. Istri saya ada di dalam sana!” jiwa Edward mengebu-gebu. Edward melihat Ghina masih berdiri di luar lobby mansion menatap dirinya, dan pria itu yakin jika gadis itu mendengarkan teriakannya.


“Maaf Tuan Muda, saya tidak bisa,” balas Budi, tetap teguh dengan perintah Opa Thalib.


“Ghina, tolong dengarkan suamimu ini. Kita pulang ke mansion kita......!” teriak Edward, tangannya mulai menggoyangkan gerbang mansion, agar terbuka.


Gadis itu hanya bisa mengulum senyum, dengar perkataan ‘suami’.....sungguh hati Ghina terasa tergelitik mendengarnya. Seakan-akan Edward mengajaknya bercanda dari kejauhan.


Puas mendengar Edward berteriak di luar, Ghina memutuskan masuk ke dalam tanpa menggubris atau menghampiri Edward yang berada di luar gerbang.


“Ghina.....Ghina.......jangan masuk ke dalam!!!” pekik Edward, lalu Ghina pun sudah tidak terlihat lagi di hadapannya.


“Tuan Besar, sebaiknya kita balik ke mansion saja. Atau ke kantor,” usul Ferdi, kasihan lihat Tuannya berteriak tapi tidak ada yang menanggapinya.


“Saya akan menunggu di sini, sampai saya di izinkan masuk dan membawa istri saya pulang ,” jawab Edward.


“Tapi itu akan sia-sia saja Tuan. Tuan Thalib saja sudah melarang Tuan untuk masuk ke dalam mansionnya.”


“Saya akan tetap di sini Ferdi, saya akan menunggu. Istri saya ada di dalam, saya tidak ingin meninggalkannya.” Berat hati Edward jika harus meninggalkan mansion utama. Pria itu tetap pada pendiriannya, menunggu Ghina dan membawanya pulang.


Ferdi hanya bisa menghela napas, melihat Tuannya sudah terduduk di depan pos mansion.


“Baiklah, terserah Tuan.” Mau bagaimana lagi keputusan tetap di tangan Tuan Besarnya, Ferdi selaku asisten pribadinya hanya bisa memberikan masukan, walau tidak didengar.


Matahari semakin terik, Ferdi berinisiatif memesan makan siang untuk tuan, dirinya serta ajudan Edward yang masih ikut dengar mereka.


Sesekali Edward menoleh ke celah celah gerbang mansion, berharap Ghina berada di luar lobby mansion. Akan tetapi gadis yang diharapkannya tidak pernah keluar dari mansion papanya.


.


.


bersambung