
Ghina meradang mendengar tuduhan Edward.
“Ternyata sampai di situ rasa cintamu padaku OM, sekarang Om menuduhku sering berciuman dengan mas Rafael tanpa bukti. Sama saja Om telah merendahkan aku kali ini. Sekarang keluarlah dari kamar ini.........KELUAR!!” pekik Ghina dengan menghunuskan tatapan mata tajamnya. Hati wanita itu tersinggung dengan tuduhan dari Edward.
Edward dan Ghina sudah mulai terbawa emosi masing-masing, tak bisa dipungkiri Edward masih teringat ketika Rafael mencium bibir Ghina. Hingga tanpa di sadari pria itu menuduh wanita itu karena rasa cemburunya, dan tentu saja membuat hati wanita itu kembali terluka.
BRAK !!!
Edward membanting pintu dengan sekencang-kencangnya ketika keluar dari kamar rawat.
Sekarang Edward dan Ghina sama -sama menatap pintu kamar, dengan emosi yang menggebu-gebu.
Edward tidak benar-benar pergi dari kamar rawat Ghina, pria itu duduk di bangku yang tersedia di depan ruangan.
Sedangkan Ghina kembali memejamkan matanya, kesal dan kecewa dengan tuduhan yang diucapkan Edward. Dan wanita itu pun kecewa dengan Rafael yang telah lancang mencium bibirnya.
Ada sekitar satu jam Edward duduk di luar kamar, hatinya gelisah tidak menentu, meninggalkan Ghina seorang diri di kamarnya. Rasa sesal menghinggapinya, telah asal menuduh ke istrinya sendiri.
Ini tidak boleh berlarut-larut lama .......batin Edward.
Akhirnya pria itu memilih untuk kembali masuk, walau nanti akan kembali di suruh keluar.
Ghina yang berada di dalam kamar seorang diri tidak bisa memejamkan matanya, wanita itu mengatur posisinya untuk duduk bersandar di headboard ranjang. Tapi entah kenapa bagian punggungnya terasa sakit ketika mau di gerakkan.
“Hiks....... hiks........hikss.......sakit mam,” tangis Ghina tersedu-sedu di atas ranjang.
Edward yang baru saja masuk ke dalam kamar, mendengar jelas tangisan Ghina, langsung mempercepat langkah kakinya.
“Ghina......” panggil Edward, pria itu sekarang sudah duduk di tepi ranjang.
“Buat apa Om masuk lagi, masih kurang menuduh saya!.......masih kurang menghina saya!....kenapa tidak sekalian tuduh saya pernah tidur dengan mas Rafael, biar hati Om Edward puas........hiks,” ucap Ghina sambil menahan rasa sakit punggungnya.
“Aku yang salah yang mau saja dicium sama mas Rafa, Om Edward tidak salah......mencium istrimu Kiren. Aku yang salah, aku tidak berhak merasa sakit hati saat itu......hiks...hiks!!” sambung Ghina tak kuasa lagi rasa nyeri di punggung.
“Aku minta maaf, telah menuduh kamu.......maafkan membuat kamu menangis dan terluka lagi. Aku tidak bermaksud seperti itu,” jawab Edward penuh penyesalan, sambil mengusap air mata di pipi Ghina.
Tangan Edward menyelisip ke bagian punggung Ghina, agar bisa memeluk tubuh Ghina yang masih terbaring.
“AAKKKHHHH.........SAKIT OM!!!” pekik Ghina saat tangan Edward ingin meraih punggung wanita itu.
“Sakit........,” Edward langsung mengangkat kedua tangannya dari punggung Ghina, kemudian memencet tombol darurat.
Sekitar lima menit dokter sudah masuk ke ruang rawat Ghina.
“Istri saya kesakitan,” ucap Edward ketika dokter tiba.
“Apa yang di rasa Bu?” Tanya Dokter.
“Punggung saya sakit sekali, Dokter,” jawab Ghina masih merintih kesakitan.
“Pak bisa bantu saya dulu, untuk membalikkan tubuh istrinya,” pinta Dokter.
“Baik Dokter,” dengan hati-hati Edward membalikkan tubuh Ghina ke samping, dan menyingkap baju bagian punggung ke atas. Terlihatlah bagian punggung Ghina memar dan terlihat biru.
“AAAWWW.......” teriak Ghina saat tangan Dokter menyentuh bagian punggungnya.
“Punggung istri bapak cedera otot, sepertinya sempat terbentur sesuatu. Nanti akan saya berikan obat nyeri, dan memberikan terapi untuk cedera otot.”
“Dokter, istri saya punya asma....jadi kalau bisa obat nyerinya yang aman buat istri saya,” pinta Edward, agar asma istri saya tidak kambuh.
“Baik Pak, akan saya pastikan obatnya aman untuk penyakit asma. Kalau begitu saya siapkan obatnya dulu,” pamit Dokter.
“Silahkan Dokter.”
Edward kembali duduk di tepi ranjang.
.
“Jika Om benar mencintaiku seharusnya tidak menuduh seperti itu, harusnya bertanya dengan baik-baik. Aku juga terbawa emosi dengan tuduhan Om seperti itu.”
“Aku menyesal....!” Edward menundukkan pandangannya sesaat.
Ghina mengusap air mata kesakitannya, “Aku mau duduk,” pinta Ghina.
“Aku bantu ya, taruh kedua lengan honey di leherku.......” pinta Edward.
Kedua tangan Ghina mulai merangkul leher Edward, dan Edward dengan hati hati memegang pinggang Ghina, membantu wanita itu untuk duduk di atas ranjang.
“Aaawww........” ringis Ghina kesakitan.
“Sakit ya.......ini udah pelan pelan mengangkatnya,” ucap Edward.
“Iya.........,” jawab Ghina.
Kedua lengannya masih merangkul leher Edward, deru napas mereka berdua bisa saling merasakan. Karena begitu dekat wajah mereka berdua. Wanita itu menatap wajah pria yang sudah penuh dengan memar, akibat perkelahian dengan Rafael.
Untuk pertama kalinya wanita itu melihat kemarahan Edward atas dasar cemburunya. Membuat Ghina terkejut melihat tindakan Edward, walau akhirnya wanita itu ikut terluka karena ikut mencoba meleraikannya.
Edward menatap wajah Ghina tanpa berpaling ke mana pun,” aku cemburu, dan aku tidak bermaksud menuduhmu. Aku percaya padamu kalau kamu tidak seperti itu. Maafkan aku jika tadi mulutku lancang.......istriku, aku tidak mau kita lama-lama bertengkar. Kita sudahi amarah dan emosi kita berdua. Kita buka lembaran baru, dan menjalani rumah tangga bersama-sama, aku tidak ingin kita terus seperti ini,” ucap lirih Edward memohon.
Memang tidak mudah seorang wanita untuk memaafkan seorang pria apalagi pasangan hidup, Ghina juga tidak mau berlarut-larut dalam masalah ini, apalagi wanita itu sudah melihat rasa cemburu dari pria yang masih berstatus suaminya. Cemburu tandanya cinta, jika tidak ada rasa cemburu berarti cintanya bukan dari hati tapi sekedar di bibir saja.
Salah satu tangan Ghina menyentuh wajah Edward yang terluka, dengan hati-hati.
“Om yang membuatku marah dengan segala tuduhan itu,” jawab Ghina.
“Bisakah memaafkan suamimu ini yang suka emosional,” mohon Edward.
Ghina menganggukkan kepalanya,”bisa, sudah kumaafkan tapi bukan berarti menerima emosi Om Edward yang suka meledak-ledak,” jawab Ghina pelan.
"Aku berjanji akan belajar mengendalikan emosiku."
“Om Edward, aku tidak ada hubungan apa pun dengan mas Rafael, jadi jangan menuduhku lagi,” penjelasan Ghina, untuk menghindari tuduhan berikutnya.
“Iya aku dengar pembicaraan kalian berdua, kamu hanya berteman dengan Rafael. Tapi tetap saja aku cemburu, apalagi Rafael berani menciummu.......jadi lain kali jangan terlalu dekat dengan pria lain terutama Rafael. Aku tidak suka. Aku cemburu!!!” ucap Edward yang terkesan posesif.
“Mmmm.......” gumam Ghina.
Edward dan Ghina kembali saling menatap intens. Wajah Edward mulai mendekati wajah Ghina, hingga hidung mancung mereka berdua saling bersentuhan. Bibir Edward mulai berlabuh di bibir sensual Ghina, dengan lembutnya Edward melu-mat bibir Ghina, membasahi lipatan bawah dan lipatan atas penuh dengan kehangatan. Ghina mulai menerima sentuhan hangat dari bibir Edward suaminya, merasakan gelombang yang datang dari sentuhan sesapan bibir Edward, wanita itu mencoba menerima hasrat sang suami yang menghampiri dirinya lewat pagutan lembut dari pria itu.
Gigitan kecil dari bibir Edward, membuat sang wanita membuka bibirnya, dan memberi akses agar lidah pria itu menyesapnya lebih dalam, merasakan rasa manis yang tak terkira. Ternyata rasa cemburu dan emosi, bisa membuat mereka berdua merasakan manisnya pagutan yang saling bertautan, berbelit lidah....saling menghi-sap dan berbagi saliva.
Edward melepas pagutannya, “I love you, my wife......” ucap Edward dengan senyum hangatnya, kali ini pria itu bisa merasakan jika Ghina mulai menerima ciumannya dan mulai membalasnya. Ghina hanya bisa menatap hangat pria yang baru saja menciumnya.
Edward kembali mengulanginya, mencium bibir Ghina yang semakin sexy.
Tapi.......
“Ehemmmm.......permisi Pak, Bu,” sapa Dokter yang sudah masuk ke dalam ruangan.
Edward dan Ghina langsung melepas pagutannya, dan sedikit salah tingkah. Dokter hanya bisa tersenyum tipis, melihat pasangan suami istri bermesraan di ruang rawat. Masih sempat-sempatnya bermesraan.
.
.
bersambung
Terima kasih Kakak Readers yang Cantik dan Ganteng yang telah meninggalkan jejaknya. Jangan lupa mampir ya ke novelku ya terbaru Pinjam Rahim Istri Ketiga.
Love you sekebon 🌹🌹🌹🌹🌹🌹