PANGERANKU OM-OM

PANGERANKU OM-OM
BAB 9


“Maaf aku tidak bisa memasak,” kata Luna sambil menundukkan wajahnya.


Rendra yang masih memasukkan makanan ke mulutnya hanya tersenyum melihat ekspresi wajah istrinya. Laki-laki itu tidak menyangka jika sang istri mampu bersikap seperti itu.


“Kenapa kamu terus memakannya? Itu tidak enak, nanti perutmu sakit,” seru Luna.


“Ini enak, hanya terlalu banyak garam,” Rendra kembali memasukkan makanan ke mulutnya, “tidak terlalu buruk untuk pemula, kamu sudah memasukkan bumbu-bumbunya dengan benar. Makanlah!”


Luna menurut perintah Rendra, gadis itu kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Rendra tidak salah, makanan ini tidak terlalu buruk. Hanya terlalu asin, masih bisa ditutup dengan rasa yang lain.


“Jika kita hanya merasakan rasa asin dari makanan ini, maka hanya rasa asin yang kita dapat. Tapi jika kita merasakan rasa lain di dalamnya, pasti akan lebih nikmat rasanya,” ucap Rendra.


“Pantes saja Ibu sering marah saat aku menolak membantunya di dapur, ternyata memasak itu sulit,” Luna mulai mengucapkan kalimatnya.


“Jadi kamu tidak pernah membantu ibu?”


“Pernah sih, tapi cuma sebentar habis itu aku kabur,” jawab Luna sambil tertawa. Jika diingat-ingat, ini pertama kalinya gadis itu bisa berbicara nyaman di depan Rendra.


“Ternyata kamu nakal juga.”


“Sedikit. Pernah waktu itu ibu menyuruhku membeli gula di toko Ah Tong. Aku berangkat sih, tapi enggak ke toko Ah Tong, aku berangkat main ke rumah Rani, terus uang buat beli gula aku pakai beli es krim sama Rani. Ibu marah banget, sampai rumah diomelin habis-habisan,” kenang Luna sambil tertawa lebar.


Rendra sangat senang melihatnya. Baru kali ini dirinya melihat Luna tertawa lebar seperti itu. Sementara Luna masih bersemangat untuk menceritakan masa-masa kecilnya. Rendra hanya mendengar dan memandang Luna dengan senyum bahagia. “Teruslah bahagia seperti ini sayang, denganku atau tanpaku,” ucap Rendra dalam hati.


“Sampai di bawa ke psikiater, ibu takut kalau anaknya ada kelainan.” Kalimat terakhir Luna yang membuat Rendra tersadar dari lamunannya. Sementara Luna masih tertawa lebar.


“Kamu kangen sama ibu?” tanya Rendra yang membut Luna terdiam sejenak.


“Sudah lama kita tidak menjenguk ibu. Bagaimana jika sore ini kita rumah ibu?” ajak Rendra yang pastinya disambut Luna dengan anggukan kepala.


“Tapi aku bisa ke sana sendiri, Mas Rendra bisa istirahat di rumah,” tolak Luna halus. Dia merasa belum siap mental jika harus pergi berdua dengan Rendra.


“Hmm, aku tidak ingin dicap ibu mertuaku sebagai laki-laki tidak bertanggungjawab yang membiarkan istrinya pergi sendirian. Kita akan berangkat nanti sore.”


Kalimat tegas Rendra membuat Luna tidak memiliki celah lagi untuk menolak. Gadis itu hanya manggut-manggut menahan kesal di hatinya. Sementara Rendra hanya bisa menahan tawa.


Selesai menyantap makanan gagalnya, Luna pun bergegas berangkat ke kampus. Setelah sebelumnya gadis itu memastikan jika bik Inah yang akan memenuhi kebutuhan dan membantu Rendra dalam segala hal. Ya meskipun tidak cinta, tapi Luna sadar akan tanggungjawabnya.


“Hati-hati Luna!” seru Rendra.


“Ya,” jawab Luna. Masih untung hari ini Luna mau menjawab, biasanya gadis itu hanya melirik Rendra kemudian pergi.


Luna membelalakkan mata saat dari jauh dirinya melihat Rendra berjalan dengan baik menaiki tangga. Seperti tidak terjadi sesuatu di kakinya. Sangat berbeda dengan keadaannya pagi tadi. ”Dasar, om om ganjen, ternyata dia ngerjain aku, minta dibopong segala. Awas aja!” kata Luna sambil menyeringai.


*****


“Kita berangkat sekarang?” tanya Rendra saat melihat Luna tengah bersiap menata beberapa tas berisi oleh-oleh yang akan dibawa ke rumah ibunya.


“Naik apa?” Luna balik bertanya


“Mobil,” jawab Rendra sembari memasang wajah heran atas pertanyaan istrinya.


“Mas Rendra mau nyetir? Kakinya kan masih sakit.”


“Ah, ah, iya sih, tapi, tapi sudah tidak terlalu sakit.” Rendra sedikit terbata. Luna hanya tersenyum melihat salah tingkah suaminya.


“Jangan ih, nanti malah sakit lagi, lama sembuhnya.”


“Kalau begitu aku akan menelpon Mang Ujang untuk mengantar kita ke rumah ibu.”


“Enggak usah, aku enggak suka pakai sopir. Kita pakai motor aja.”


“Apa?” Rendra mendelik, pandangan matanya tertuju pada barang-barang yang akan dibawa Luna. Ada sekitar lima buah tas kecil dan tiga buah tas besar. Bukan ide bagus.


“Tapi bawaan kamu banyak Luna, motor tidak akan bisa membawa…”


“Udah tenang aja,” kata Luna kemudian bergegas mengambil motornya. Rendra tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti kemauan sang istri.


“Nah gimana? Bisa kan?” kata Luna sambil tersenyum senang sambil mengemudikan motornya. Ya, saat ini keduanya sudah berada di atas motor. Dimana Luna yang menyetir dan Rendra yang membawa barang-barang di belakang.


“Bisa sih, tapi ini…,” kata Rendra kesulitan. Laki-laki yang malang, kedua tangannya membawa tas kecil, sementara di depan dan belakangnya ada tas besar yang membuat dirinya terjepit.


“Luna tas ini kenapa berat sekali? Apa isinya?” tanya Rendra sambil merintih.


“Cuma oleh-oleh makanan kesukaan ibu, makanan kesukaan tetanggaku, makanan kesukaan kucing-kucingku dan makanan kesukaan ayam tetanggaku,” jawab Luna tersenyum puas.


“Luna jangan kencang-kencang Lunaaa, pelan-pelan Lunaa…,” teriak Rendra yang membuat Luna tertawa terbahak. Gadis itu telah berhasil membalas apa yang telah Rendra lakukan tadi pagi terhadapnya.


“Makanya jangan suka bohongin aku, huuu….” Seru Luna sambil menarik gas motornya dengan kencang.