PANGERANKU OM-OM

PANGERANKU OM-OM
BAB 70


Tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulut Luna saat ini. Suasana mobil menjadi sangat tegang. Rendra yang masih tidak tahu harus berbuat apa hanya bisa diam sambil terus menyetir mobilnya menuju restoran yang dia katakan sebelumnya.


Setidaknya Luna masih mau untuk diajak makan. Meskipun masih marah, biarlah! Yang penting ibu hamil ini tidak kelaparan dalam amarah.


"Sudah sampai, ayo kita turun Sayang!" pinta Rendra. Namun Luna masih diam. "Lun, sudah sampai. Turunlah!"


Luna menghembuskan nafas dalam. Lalu membuang muka.


"Sayang, kamu boleh marah sesuka hatimu. Kamu boleh menghukum ku sesukamu. Tapi makanlah Sayang! Kamu akan sakit jika tidak makan, dan kasihan bayi kita." Rendra menggenggam tangan Luna dan mengecup punggung tangan itu.


"Buang baju itu!" Kalimat yang akhirnya keluar dari mulut Luna. Namun kalimat itu juga membuat Rendra bingung. Apa maksudnya?


"Buang baju itu! Perempuan binal itu sudah duduk di pakaianmu. Aku tidak mau melihatmu memakai baju itu lagi."


"Oh, ok, ok Sayang. Tapi, tapi aku tidak mungkin keluar tanpa...."


"Sebentar lagi kurir akan datang ke sini dan membawa pakaian baru untukmu."


Rendra mengangguk, dirinya tidak menyangka jika sang istri akan sampai melakukan hal tersebut. Tapi tidak apalah, yang penting Luna senang.


"Bagaimana makanannya? Apakah kamu suka?" tanya Rendra saat Luna mulai melahap sendok demi sendok makanan yang sangat dia sukai itu


"Tidak," jawabnya ketus.


Rendra hanya tersenyum memperhatikan sang istri yang tengah makan. Apa iya, seseorang tidak menyukai makanan tetapi makan dengan begitu lahap seperti ini. Luna, Luna, kamu memang tidak pernah berubah, batin Rendra.


"Siapa Starla?" pertanyaan yang tiba-tiba muncul dari mulut luna setelah makanan di piringnya habis.


Rendra sedikit kelabakan, bukan apa-apa dia hanya tidak mengira sang istri akan menanyakan pertanyaan tersebut.


"Dia, dia temanku. Aku sudah mengatakannya Sayang."


"Siapa Starla?" Kalimat itu diulang lagi. Rendra bingung, laki-laki itu hanya bisa menggaruk kepalanya. "Starla mantan kekasihmu bukan?"


"Iya," jawab Rendra jujur. Luna menarik nafas panjang. Masa lalu, ya setiap orang memiliki masa lalu. Bahkan dirinya juga memiliki masa lalu. Tapi seberapa indah masa lalu itu, hanya diri sendiri yang bisa menjawab.


"Jadi pagi ini kalian melepas rindu?" Luna bertanya dengan sesantai mungkin sambil menyeruput minuman di depannya.


"Tidak Luna, jangan berfikiran seperti itu. Kami menjalin hubungan beberapa bulan. Lalu Starla memutuskan hubungan kami dan menjalin kasih dengan orang lain. Kemudian dia pindah ke Amerika."


"Luna, kenapa kita harus mempermasalahkan masa lalu? Bukankah saat ini kita sudah menjalani hidup bahagia? Dan sebentar lagi akan ada bayi kecil yang membuat hidup kita lebih bahagia."


Luna memejamkan mata, berusaha mencari jalan lain dari jalan di otaknya yang sudah hampir buntu itu. Tapi bagaimana bisa? Akhirnya hanya air mata yang bisa keluar.


"Sayang, maafkan aku. Hal ini tidak akan terjadi lagi." Rendra berusaha meyakinkan Luna sambil menghapus air mata di pipinya.


"Aku takut jika kamu meninggalkanku Mas, aku tidak mau kehilanganmu lagi." ucap Luna sambil terisak.


"Tidak akan terjadi sayang, aku hanya milikmu dan akan selalu bersamamu."


*****


Pagi ini Rendra mulai membuka mata setelah mengistirahatkannya selama beberapa jam. Hemm pagi yang segar. Beberapa cahaya kecil bisa menyelinap masuk ke dalam kamarnya. Memberikan warna kuning tua yang begitu indah.


Ternyata Luna sudah bangun terlebih dahulu. "Lun, Luna.." Teriaknya sambil bangkit dari tempat tidur. Diperiksanya seisi kamar, namun orang yang dicarinya tidak ada.


Rendra penasaran, laki-laki itu memakai bajunya kemudian keluar kamar. Senyumnya mengembang kala melihat sang istri dengan perut buncit sedang menari-nari sambil memainkan alat masak di dapur. Ditambah sang ibu yang berada di dekatnya tengah memegang kepala. Entahlah mungkin pusing dengan kelakuan menantunya saat berada di dapur.


"Kamu di sini Sayang?" Rendra menghampiri Luna dan sang ibu.


Luna menghentikan kegiatannya saat melihat Rendra datang. Kemudian sedikit membuang muka dan menghindar. Rendra yang melihat tingkah Luna hanya bisa diam. Mungkin gadis itu masih belum bisa melupakan kejadian kemarin.


"Ren, lihatlah! Dapur jadi berantakan karena Luna." Omel sang ibu yang hanya dibalas senyum kecil dari mulut Luna.


"Dan lihatlah diriku kak, aku dijadikannya sebagai bahan percobaan dengan mencicipi makanan gagal yang dia masak." Max dengan wajah pucat baru saja keluar dari kamar mandi. Mungkin pemuda itu baru saja muntah-muntah.


"Itu tidak gagal Max," seringai luna.


"Tidak gagal, hanya terlalu asin." Bu Diana dan Max menyahut bersamaan.


Rendra dan keduanya pun tertawa bersamaan, sementara Luna hanya bisa memonyongkan mulutnya.


"Sudah, sudah, biar ibu dan bi Inah yang menyelesaikan ini. Kalian makan saja sekarang." Bu Diana meletakkan makanan di meja.


Max segera menyerbunya, "ini baru makanan," ucapnya.


"Lun, kamu tidak sarapan?" tanya bu diana lembut.


"Nanti saja bu," jawab Luna kemudian segera naik ke atas dan berlalu menuju kamarnya.


"Kenapa anak itu? Tadi baik-baik saja." Bu Diana heran dengan perubahan sikap menantunya.


Dipandanginya sang putra yang saat ini tengah terdiam, "kalian bertengkar?" tanya bu Diana.


Hendra hanya tersenyum menjawab pertanyaan sang ibu. "Ren, saat ini Luna sangat butuh seseorang yang kuat yang selalu berada di sampingnya. Mengertilah Nak!" Bu Diana menggenggam tangan dang putra.


Rendra tersenyum kembali sambil mengangguk. "Iya bu, ibu tidak perlu khawatir. Rendra akan selalu menjaga menantu ibu dengan baik."


Drrtt.. Drrtt.. Ponsel Rendra berbunyi. Rendra melirik max dan ibunya yang tengah menyantap makanan. Laki-laki itu pun meninggalkan keduanya untuk mengangkat telepon.


"Ada apa Star?"


"Ren, hari ini kamu berjanji untuk menemui ku. Aku menunggumu."


"Aku sibuk hari ini."


"Jadi kamu mengorbankan janjimu? Aku sangat membutuhkanmu ren, laki-laki itu terus meneror ku. Aku mohon."


"Baiklah, aku akan datang."


"Aku menunggumu ren."


Rendra memutus panggilan telepon tersebut. Laki-laki itu menghembuskan nafas dalam kemudian kembali berjalan menuju meja makan.