PANGERANKU OM-OM

PANGERANKU OM-OM
BAB 21


Sore hari Luna tiba di rumah. Dengan langkah berat dia memarkir motornya di garasi dan masuk ke dalam rumah.


“Itu Luna sudah datang,” suara ibu mertuanya dengan wajah berseri menyambut.


Luna tersenyum melihat sambutan sang mertua, namun senyum itu perlahan memudar bersamaan dengan terlihatnya pengacara yang kemarin datang ke rumah ini.


“Luna, katakan pada Tuan Toni jika kamu ingin mengalihkan seluruh aset warisan Rendra kepada Ryan.


Luna memandang sang mertua kemudian beralih ke pengacara tersebut.


“Lun, kenapa kamu diam? Ayo bilang sama Tuan Toni,” desak mertuanya.


“Iya Tuan Toni, saya masih belum bisa untuk mengelola perusahaan dan aset dari mas Rendra. Jadi lebih baik kak Ryan yang menjalankannya,” ucap Luna dengan wajah sedikit sayu.


“Maaf ibu Luna kami tidak bisa melakukannya. Tuan Rendra telah membuat surat wasiat ini. dan keputusan tersebut tidak bisa dirubah kecuali oleh beliau sendiri,” jawab sang pengacara itu.


“Tuan Toni, apa anda tidak mendengarnya. Luna sendiri yang akan mengalihkan hartanya kepada Ryan.”


“Tapi Bu.., saya tidak bisa menjamin jika ibu Luna melakukan hal ini tanpa paksaan.


“Apa maksud Tuan? Anda fikir saya mengancam Luna?”


“Bukan begitu, tapi…”


“Tuan Toni, saya yang akan mengalihkan kekuasaan ini atas nama kak Ryan. Saya melakukannya dengan sadar tanpa paksaan dan intimidasi dari siapapun,” potong Luna yang tidak ingin dua orang di hadapannya bertengkar.


Tuan Toni menghembuskan nafas panjang sebelum akhirnya mengatakan sesuatu, “baiklah jika itu keputusan ibu Luna, tapi maaf kami membutuhkan waktu untuk peralihan kekuasaan ini. dan sebelum surat peralihan itu sah, bu Luna lah yang berhak atas semua aset dan juga berkewajiban menjalankan bisnis Tuan Rendra.”


Mendengar penuturan Tuan Toni, Luna mengangguk kemudian melirik sang ibu mertua. Tampak ketidakpuasan di wajahnya. Rasa kecewa atas keputusan yang diberikan oleh Tuan Toni.


“Baik, saya permisi,” pungkas pengacara itu sambil meninggalkan rumah.


Ibu mertua Luna pun meninggalkan ruang tamu dan pergi ke kamarnya, setelah sebelumnya memberikan seringai tajam kepada menantunya itu.


Luna duduk di kursi ruang tamu. Sama sekali tidak terfikir jika dirinya akan menghadapi hal sulit seperti ini setelah kematian Rendra. Belum hilang rasa duka atas meninggalnya Rendra, masalah baru datang.


“Non, ada paket untuk Non,” suara bi Inah membuyarkan lamunannya.


“Ah, iya bi terimakasih,” jawab Luna sambil menerima paket tersebut. Luna membolak balik paket itu, tidak ada nama pengirim pada kotak berukuran sedang tersebut. Aku tidak membeli barang apapun, batinnya.


Luna meraih gunting dan mulai memeriksa apa isi kotak tersebut. Sebuah kotak musik cantik berbentuk lingkaran yang terbuat dari kaca, dengan patung pangeran dan seorang putri di dalamnya. “Happy Birthday Luna”, sebuah kalimat yang ditulis di kertas dalam paket itupun sempat membuatnya sedikit terkejut.


Rasa duka membuatnya lupa jika besok adalah hari ulang tahunnya. Dan paket ini, adalah benda yang pertama kali mengucapkan kalimat itu untuknya.


“Mas Rendra,” ucap Luna tiba-tiba. Entahlah tiba-tiba nama itu yang dia sebutkan. Ingatan Luna melayang saat Rendra masih bersamanya.


“Kamu suka kotak musik itu?” tanya Rendra saat laki-laki itu sedang mencuri lihat apa yang dilakukan Luna dengan ponselnya.


“Tidak,” jawab Luna dengan menyeringai tajam. Pasalnya gadis itu tidak suka dengan sikap Rendra yang mencuri lihat apa yang tengah dirinya lakukan.


“Kayak anak kecil kamu, tuh liat ada 15 lebih kotak musik di meja. Mau kamu buat apa?” omel Rendra yang pastinya membuat Luna cemberut dan merutuki kembali nasibnya yang telah menikahi om-om.


Kotak musik yang sama, kotak musik yang Luna lihat di ponselnya waktu itu sama persis dengan kotak musik yang dia pegang saat ini.


“Apa ini kamu yang mengirimnya Mas?” ucap Luna yang mulai berfikir di luar nalar. “Ini pasti kamu Mas, kamu pasti masih hidup. Aku yakin kamu pasti masih hidup, kamu tidak akan pernah meninggalkanku.”


Tiba-tiba ponsel Luna berbunyi, sebuah panggilan telepon dari nomor yang tak dikenalnya.


“Halo”


“Ibu Luna kami dari toko Samudra, ingin bertanya apa paket yang kami kirim sudah sampai? Sebuah kotak musik kaca dengan patung pangeran dan putri.”


“Apa?”


“Ah maaf Ibu, sebulan yang lalu Tuan Rendra memesan kotak musik tersebut untuk ulang tahun Ibu Luna. Beliau meminta kami mengirimnya hari ini.  Sebelumnya kami ucapkan selamat ulang tahun Ibu Luna.”


“Terimakasih, paket itu telah datang,” jawab Luna kemudian menutup sambungan telefonnya.


Tangis Luna tidak bisa terbendung lagi. sesaat dirinya masih berharap jika Rendra masih hidup, Rendra tidak meninggalkannya. Tapi dalam sekejap harapan itu pun juga telah hilang. Seperti inikah kehidupan mempermainkan kita?


Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Dan selalu ada duka dalam setiap perpisahan.


“Mas Rendra, aku sangat merindukanmu,” ucap Luna lirih kemudian tertidur.


*****