PANGERANKU OM-OM

PANGERANKU OM-OM
BAB 42


Ryan menyisir rambutnya di depan cermin sambil bernyanyi bahagia. Hari ini dia akan melakukan pertemuan dengan investor itu. Itu artinya dia akan mendapatkan banyak uang hari ini.


"Ryan, apa yang sedang kamu lakukan?" panggil sang ibu yang baru saja masuk ke kamar putranya itu dan terkejut saat melihat anaknya tengah berposr seperti model di depan cermin.


"Mama, hari ini kita akan mendapatkan semua impian kita. Hari ini kita akan menjadi seorang milyarder." Ryan menjawab sambil mengajak ibunya menari-nari.


"Ryan, sudah Nak." Sang ibu yang sudah mulai kelelahan itu meminta anaknya menghentikan aktivitasnya. "Mama sangat senang Sayang. Semua yang telah kita impikan dari dulu menjadi kenyataan."


Ryan menghembuskan nafas dalam-dalam, "ayah pasti sangat senang melihat ini semua Ma. Rendra telah hancur. Dan sebentar lagi Luna akan bertekuk lutut di hadapanku. Akan ku buat kucing kecil itu menjadi budak."


"Lakukan apa yang kamu inginkan Nak, selama ini kita telah menderita. Kita sudah bersabar untuk hari ini. Mama bangga kepadamu Ryan. Sejak kejadian itu mama tidak memiliki keinginan lagi selain melihat kehancuran keluarga ini. Mama merasa kejahatan-kejahatan yang telah kita lakukan tidak cukup untuk membayar penderitaan kita."


Ryan memeluk sang ibu, "kini kita yang menang Ma."


"Baiklah Ma, Ryan tidak mau telat hari ini. Investor itu harus mendapatkan pelayanan VIP dariku."


"Tentu sayang, hati-hati." bu Fatma melepas kepergian sang putra dengan hati yang bahagia.


Ingatan bu Fatma melayang pada kejadian 28 tahun yang lalu. Saat dirinya dan sang putra harus berjalan kesana kemari demi mencari sesuap nasi. Saat itu kehidupan tidak berpihak pada keduanya. Setelah ayah Ryan


meninggal, mereka menjadi gelandangan.


Keduanya harus tinggal di kolong jembatan untuk beristirahat. Bahkan bu Fatma juga harus merelakan tubuhnya untuk digilir beberapa pria hidung belang demi segelintir uang. Sungguh kejam kehidupan mempermainkan mereka kala itu.


Saat dimana Ryan juga harus menerima bulian dari teman sebayanya karena miskin. Ryan kecil pun juga harus belajar mencuri agar bisa mengisi perutnya dengan sesuap nasi.


"Semua sudah terbayar sekarang," kata bu Fatma puas.


***


"Silakan masuk Tuan Robert," sapa Ryan kepada Rendra yang kini tengah berpura-pura menjadi investor asing yang akan membeli saham perusahaan.


"Apa Anda yang bernama Ryan?" tanya Rendra dengan aksen yang dibuat seolah-olah dia adalah bule.


"Ya benar sekali Tuan, saya adalah Ryan pemilik perusahaan besar ini."


Robert mengernyitkan dahi, laki-laki itu ingin tertawa kencang menertawakan orang bodoh dihadapannya. "Baiklah saya tidak memiliki banyak waktu. Apa saya bisa melihat dokumen-dokumennya?"


"Silakan Tuan, saya sudah mempersiapkan semuanya." Ryan memberikan map berisiĀ  berkas-berkas


perusahaan kepada Robert.


"Saya rasa semua sudah cukup, bagaimana penawaran saya? Apa Anda setuju Tuan Ryan?"


"Setuju, saya sangat setuju Tuan Robert, hari ini juga Anda sudah bisa menempati rumah dan juga peralihan dari perusahaan ini," ucap Ryan dengan yakin.


"Tidak, saya tidak menerimanya. Dan saya juga tidak akan menjual saham saya untuk Anda, Tuan Robert." Luna tiba-tiba datang dan tersenyum menyeringai kepada laki-laki bule yang tak lain adalah suaminya itu.


"Siapa ini?" Rendra memulai sandiwara.


"Ah tidak, dia bukan siapa-siapa," jawab Ryan yang berusaha memberikan tanda kepada Luna agar menjauh dari tempat ini.


"Saya adalah Luna, istri dari Narendra Bagaskara pemilik perusahaan ini. Dan saya juga memiliki hak atas saham perusahaan ini beserta rumah suami saya."


Robert kembali mengernyitkan dahi mendengar penuturan Luna. "Apakah itu benar? Saya tidak bisa melakukan kesepakatan ini jika ada yang tidak beres di sini."


Ryan yang menyadari akan terjadi hal buruk, segera mendekati Robert dan membisikkan sesuatu. "Tuan bisa mengambilnya juga untuk malam ini. Anggap saja itu hadiah dariku. Aku akan mengaturnya untukmu."


Robert tersenyum menyeringai mendengar hal tersebut.


"Luna kita bicarakan hal itu nanti di rumah. Tuan Robert pun ingin membicarakan ulang tentang ini semua," kata Ryan yang pastinya membuat Luna terkejut.


Robert atau Rendra memberikan kode kepada Luna untuk menuruti perintah Ryan. Luna pun setuju, dengan berat hati gadis itu meninggalkan tempat tersebut.


"Dia sangat cantik," kata Robert setelah kepergian Luna.


"Selesaikan kesepakatan ini sekarang juga, dan kau akan mendapatkan semuanya Tuan Robert."


Robert atau Rendra pun mengangguk sambil tersenyum menyeringai. Tidak mengira akan ada orang sejahat Ryan yang mampu menjual istri dari adik tirinya untuk orang lain demi uang.


Rendra pun memberikan beberapa berkas yang telah dirinya siapkan untuk Ryan. Tanpa membaca bahkan hanya dengan melihat sekilas laki-laki bodoh itu menandatangani berkas yang Rendra berikan.


***


Luna memandang sinar rembulan dari jendela kamarnya. Masih tetap sama, masih indah dan menenangkan.


Ingatan Luna melayang pada apa yang telah dirinya dengar kemarin dari Ryan dan bu Fatma. Siapa perempuan gila yang mereka bicarakan? Apakah perempuan gila itu sangat penting bagi mereka? Lalu apa maksud Ryan


untuk menghabisi perempuan gila itu dari dulu? Apa hubungan mereka?


"Ah kenapa aku jadi memikirkan hal itu, bagaimana mas Rendra sekarang? Apa dia sudah berhasil masuk kembali ke rumah ini dan mengelabuhi Ryan?" Batinnya.


Di ruang tamu rumah Rendra.


"Ini sekarang menjadi rumahmu Tuan Robert, aku sangat senang dengan kesepakatan kita." Ryan menyalami tangan Rendra sambil tersenyum bangga.


Rendra hanya tersenyum kecil sambil melihat seisi ruangan rumah rumah ini.


"Ah kau pasti mencari kucing kecil itu. Dia telah bersiap di kamar. Mungkin dia sedikit liar, berhati-hati lah Tuan." Ucap Rendra sambil tertawa.


"Selamat bersenang-senang Tuan Robert," ucap bu Fatma menimpali, kemudian pergi meninggalkan rumah itu beserta sang putra.


Rendra hanya bisa melihat punggung keduanya dengan senyum menyeringai. Orang bisa menjadi jahat hanya demi uang. Mereka telah dibutakan oleh uang dan kekuasaan.


Rendra masuk ke dalam kamarnya, pelan-pelan membuka pintu dan tersenyum saat melihat perempuan yang sangat dia cintai tengah berdiri di dekat jendela.


"Hai Nona Luna," ucapnya sebagai Robert.


Luna terkejut, "ngapain kamu ke sini?"


Pertanyaan Luna membuat Rendra kaget, namun laki-laki tampan itu tersenyum sambil mendekati istrinya.


"Apa kamu lupa kalau ini kamarku hah?" Robert memeluk Luna dari belakang.


"Ini kamar suamiku Rendra," ucap Luna dengan setengah tersenyum.


"Yaa, tapi laki-laki bodoh itu telah menjualmu padaku."


"Apa? Bajingan Ryan itu telah... Kurang ajar!"


"Kenapa kamu marah Sayang, dia menjualmu kepadaku."


"Dan kamu menerima begitu saja istrinya dijadikan barang oleh bajingan itu hah?" Luna mulai kesal.


"Tidak Sayang, tidak seperti itu. Bukankah..."


"Ahh diam.." Luna beranjak dari tempatnya semula, tampak amarah tergambar dari wajah cantik gadis itu.


"Maafkan aku Luna, aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya mengikuti permainan Ryan." Rendra berusaha menjelaskan tapi kemarahan di wajah Luna masih terganbar jelas.


Rendra mendekati Luna, memegang tangan gadis itu dan menciumnya. "Maafkan aku jika hal ini membuatnya marah Sayang, aku tidak bermaksud seperti itu. Tapi percayalah, mulai saat ini kita tidak akan terpisahkan. Kita akan tinggal berdua di rumah ini dengan bahagia bersama anak-anak kita nantinya. Tidak akan ada Ryan dan orang lain yang akan menyulitkan kehidupan kita."


Luna memandang Rendra, meskipun masih marah tapi gadis itu tidak tega melihat suaminya seperti itu. "Bagaimana jika Ryan sampai menjualku ke orang lain?"


"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi Luna, aku berjanji akan selalu menjagamu, aku akan selalu melindungimu." Rendra masih berusaha meyakinkan istrinya.


"Aku mencintaimu," ucap Rendra saat melihat amarah istrinya sudah mulai menurun.


Luna pun memeluk erat suaminya, "aku juga sangat mencintaimu. "


"Sayang, aku menyiapkan hadiah untukmu," kata Rendra sambil memberikan kotak warna biru.


Luna tersenyum senang sambil membuka kotak itu. Namun senyumnya berubah masam saat melihat apa yang ada di dalam kotak tersebut. Sebuah lingeri merah.


"Ini namanya kamu menyiapkan hadiah untuk dirimu sendiri Mas," seringai Luna.


Kemudian keduanya tertawa bersama. Dan malam yang panjang ini mereka habiskan dengan penuh cinta dan kebahagiaan atas kemenangan yang mereka dapatkan.


Saat keringat bercucuran dari tubuh keduanya dan suara des*han menghiasi malam panjang. Hingga sampai pada puncak surga yang melambungkan cinta mereka