PANGERANKU OM-OM

PANGERANKU OM-OM
BAB 44


Ryan menutup pintu apartementnya dengan kasar. Bu Fatma yang melihat hal tersebut merasa heran dengan kelakuan putranya, kemudian mengikuti laki-laki itu menuju kamar.


“Kurang ajar!” umpat Ryan setelah membaca berkas-berkas salinan dokumen yang telah dia sepakati bersama Robert kemarin.


“Ada apa Ryan? tanya bu Fatma keherenan.


“Ma, kita telah ditipu Ma, kita telah ditipu.”


“Apa maksud kamu Ryan?” bu Fatma mempertegas pertanyaannya kemudian mengambil dokumen-dokumen itu dari tangan sang putra dan membacanya.


“Ryan, apa ini? Kenapa kamu menandatangani surat pernyataan untuk mengembalikan seluruh harta itu kepada Luna dan semua kesalahanmu. Apa ini Ryan?” bentak bu Fatma.


“Mereka telah menjebakku Ma.”


“Bagiamana, bagaimana bisa Ryan? Ah, dirimu memang anak tidak berguna. Kita akan kembali menjadi gembel. Kamu memang bodoh Ryan,” bu Fatma mulai mengeluarkan emosinya.


Ryan yang sudah pusing, hanya bisa mendengarkan olokan dari sang ibu tanpa bisa menyeka atau bahkan membela dirinya sendiri.


“Luna telah menjebakku Ma. Gadis itu bekerjasama dengan Robert untuk menjebakku. Dan hari ini keduanya tengah menikmati semuanya.”


“Maksudmu Robert dan Luna saling kenal?”


“Ya, mereka telah dekat. Dan aku yakin ini semua adalah permainan Luna. Kucing kecil kurang ajar, aku pasti akan membalasnya. Aku tidak akan mengampunimu Luna.” Ryan mengepalkan tangan, wajahnya memerah menahan amarah yang sangat besar di hatinya.


*****


“Ada apa Lun?” tanya Rani saat melihat sahabatnya tengah memandang bu Diana yang sedang tidur.


Luna tersenyum melihat kehadiran sahabatnya. “Entahlah, ini kali keduaku bertemu dengan bu Diana. Tapi aku merasa sangat dekat dengannya.”


“Kasihan sekali bu Diana, seandainya kita bisa menemukan putranya.” Rani berharap sambil turut memperhatikan perempuan yang tengah tidur itu. “kata Mama, bu Diana seumuran dengannya. jadi mungkin jika aku tidak salah duga, putra bu Diana sudah seumuran kakak pertamaku.”


“Mungkin juga seumuran dengan mas Rendra,” celetuk Luna.


“Lun…,” Rina memegang punggung sahabatnya, dia takut jika Luna akan kembali bersedih karena kehilangan suaminya.


“Setiap aku melihat bu Diana, aku juga melihat seseorang di dalamnya. Seseorang yang sangat dekat denganku. Dan saat bu Diana menatapku, tatapan itu, ah tatapan itu seperti milik mas Rendra.”


“Luna, aku tahu kamu sangat merindukan suamimu.”


Luna mengernyitkan dahi sambil memandang Rani, “tidak, untuk apa dirindukan. Tiap hari juga ketemu.”


Rani menganga, dipegangnya kening sang sahabat dengan tangan. Setiap orang juga pasti akan melakukan hal yang sama dengan Rani. Bagaimana bisa Luna bisa bertemu setiap hari dengan suaminya yang telah meninggal? Gadis itu pasti berfikiran jika Rani terkena gangguan mental, depresi, atau semacamnya.


“Apaan sih?” Luna membuang tangan sahabatnya itu pelan.


“Lun, kita berangkat yuk! Aku akan mengantarmu ke psikolog itu. Tenanglah, aku tidak akan memberitahukan hal ini kepada ibumu.”


“Apaan sih Ran?” ucap Luna sambil tertawa. Luna mulai celingak celinguk melihat keadaan di luar dan menutup pintu.


“Mas Rendra masih hidup Ran,” kata Luna yang pastinya membuat Rani membelalakkan kedua matanya dengan lebar.


“Yang bener Lun?”


“Iya, dia bersandiwara. Kecelakaan itu pun sandiwara. Ini semua dilakukan mas Rendra untuk mengetahui kebusukan bu Fatma dan Ryan.”


“Aku, aku tidak bisa..”


“Aaaa, Sayang selamat ya. Sebentar lagi aku bakal punya keponakan,” ucap Rani dengan riang gembira.


Hari sudah semakin sore, Luna pamit pulang setelah Mang Ujang menjemputnya dengan mobil.


“Mana mas Rendra? kok enggak dia yang jemput?” protes Luna pada sopirnya itu.


“Tuan masih sibuk Non, sudah jangan cemberut! Pulang sama Mamang aja.”


Luna pun hanya bisa menarik nafas panjang. Padahal dia sudah berencana mengajak suaminya itu untuk nonton film baru di bioskop.


“Terus mas Rendra bilang enggak mau pulang jam berapa?” Luna masih berharap. Ah gadis aneh, sebenarnya dia bisa saja menelpon sang suami dan menanyakan hal itu. Tapi tidak, Mang Ujang adalah orang paling tepat untuk menerima luapan emosinya.


“Enggak tahu Non.”


“Ih Mang Ujang, apa-apa enggak tahu. Mang Ujang tahunya apa sih?”


“Wahh banyak Non, Mang Ujang tahu warteg yang paling enak di kota ini, Mang Ujang juga tahu…”


“Mang Ujang awas!” Luna berteriak bersamaan dengan bunyi denyit rem yang diinjak dengan kencang oleh Mang Ujang. Sebuah mobil menghalau perjalanan mereka.


“Non Luna tidak apa-apa?” tanya Mang Ujang.


“Tidak apa-apa Mang, siapa mereka?”


“Saya tidak tahu Non,” jawab Mang Ujang.


Sebuah mobil box yang berhenti tepat di depan mereka membuat mobil Luna berhenti. Beberapa orang bertopeng hitam turun dari mobil dan mulai menghancurkan mobil Luna.


Mang Ujang keluar dari mobil berusaha menghentikan mereka. Namun dengan satu pukulan, laki-laki yang sudah tua itu terjatuh.


Luna yang tidak bisa berdiam diri juga ikut keluar dari mobil, gadis tidak bisa terima seseorang melukai sopirnya. Pucuk dicita ulam pun tiba, inilah saat yang ditunggu oleh para penjahat itu. Dengan gerakan cepat dan tanpa bisa dihalau, Luna ditarik dan dimasukkan ke dalam mobil. Ya, gadis itu diculik saat ini.


“Siapa kalian?” teriak Luna sambil berusaha melepaskan diri.


“Diamlah! Kami akan membawamu ke bos kami.”


“Siapa bos kalian hahh?”


“Nanti kamu juga pasti akan tahu.”


Cuihh, Luna berusaha mengumpat tapi tidak digubris oleh penjahat-penjahat itu. gadis itu berusaha melepaskan diri, namun apa daya tangan dan kakinya telah di ikat oleh mereka.


“Lepaskan aku penjahat, lepaskan aku!” teriak Luna. Namun malah mulut Luna ditutup oleh lakban.


“Mas Rendra tolong aku!” ucap Luna dalam hati.


Bruuggg, tubuh Luna jatuh di tanah. Dengan tangan dan kaki yang masih diikat, mulut yang masih tertutup lakban membuat gadis itu merasa sangat kesakitan.


Luna mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru, berusaha menerka tempat apa ini. Seperti sebuah gudang tua dengan pencahayaan yang sangat minim.


“Hai kucing kecilku, kita bertemu lagi.”


Sebuah suara yang sangat Luna kenal tiba-tiba muncul. Yang membuat Luna juga yakin bahwa orang inilah dalang dari semuanya.