
Dengan menghembuskan nafas panjang Rendra mengetuk pintu apartemen Starla. Laki-laki itu membetulkan dasi di lehernya. Dirinya tidak ingin Starla menaruh curiga atau apapun kepadanya.
"Hai Ren, akhirnya kamu datang juga," ucap Starla setelah membukakan pintu. Gadis itu pun menarik tangan Rendra untuk masuk ke dalam apartemennya.
"Apa yang ingin kamu katakan Star?" Rendra yang tidak ingin berlama-lama di tempat itu segera menanyakan apa yang menjadi pokok tujuan dirinya datang kemari.
"Hai, kenapa kamu terburu-buru Ren?" jawab Starla sambil meletakkan tubuhnya di sebelah Rendra yang tengah duduk di sofa panjang.
Gadis berpakaian super seksi itu sengaja mengekspose sebagian tubuhnya di hadapan Rendra. Mungkin dia ingin Rendra tergoda padanya.
"Ah tidak, aku hanya ingin tahu tentang laki-laki yang kamu ceritakan kemarin." Kata Rendra sambil berpindah tempat duduk. Mungkin ini adalah salah satu cara terbaik untuk menghindari Starla.
Bukannya tergoda, Rendra malah jijik melihat tubuh Starla yang sengaja diekspos itu. Entah sudah berapa pasang mata yang turut menikmati pemandangan menyesatkan itu.
"Ah baiklah, dia mantan suamiku." Starla mulai menunjukkan wajah sedihnya. Namun Rendra malah tersenyum menyeringai laki-laki itu tahu jika wajah sedih itu tengah dibuat-buat.
Starla pun menceritakan tentang mantan suami toksiknya. Entah cerita nyata atau karangan, hanya Starla yang tahu. Yang jelas saat ini, perempuan itu tengah terisak.
"Aku benci Ren, aku benci dengan laki-laki itu. Saat ini pun dia masih terus mengejar ku. Aku butuh perlindungan Ren."
Rendra manggut-manggut mulai mengerti arah pembicaraan Starla.
"Aku membutuhkanmu Ren. Aku butuh seseorang yang bisa melindungi ku dari bajingan itu." Starla pelan-pelan kembali mendekati Rendra. Kali ini perempuan itu telah berani memeluk lengan suami luna tersebut.
"Apa yang bisa kulakukan Star? Aku tidak bisa melakukan apapun."
"Temani aku Ren! Tetaplah bersamaku!"
Rendra sedikit terperanjat mendengar ucapan Starla. Bukannya terkejut dengan apa yang telah Starla katakan, laki-laki sudah tahu benar bahwa Starla akan mengatakan hal itu. Namun Rendra terperanjat, karena memikirkan Luna. Jika Luna mendengar ini, dia pasti akan sangat marah. Bahkan melebihi amarah bom Nagasaki dan Hiroshima.
"Aku tahu aku salah. Dulu aku meninggalkan dirimu tanpa alasan dan memilih bersama dengan laki-laki yang salah. Tapi kini aku sangat menyesalinya Ren. Tidak ada orang yang lebih tepat selain dirimu untuk bersamaku," ungkap Starla yang kali ini pelukannya tidak hanya pada lengan Rendra namun sudah menjalar hingga ke dada laki-laki itu.
"Permisi, cleaning service." Sebuah suara dari luar yang pastinya mengejutkan Starla dan juga Rendra.
Starla beranjak, kemudian berjalan menuju pintu. "Tidak bisakah kamu membersihkannya nanti saja?"
"Maaf Nona, hari ini ada bonus dari pemilik hotel kepada seluruh OB. Bahwa OB hanya masuk kerja sampai siang hari. Jadi kalau anda keberatan kalau saya membersihkan ruangan anda sekarang, ruangan ini akan dibersihkan esok hari."
"Ah menyebalkan sekali. Baiklah, cepat bersihkan!" Gerutu Starla. Cleaning service perempuan itu pun masuk ke dalam apartement Starla.
"Ren, maaf ya. Ada sedikit gangguan kecil," ucap Starla kepada Rendra yang hanya dibalas dengan senyum tipis dari mulut laki-laki itu.
Kembali Starla duduk di samping Rendra. Tangan mungilnya pun kembali meraba dada bidang suami Luna tersebut. "Kamu tahu Ren, aku sangat merindukan dirimu. Kehangatan yang seperti ini aku sangat merindukannya."
Pyarrr, pyaaaarrr, terdengar suara benda jatuh dari dapur. Starla terperanjat dan segera berjalan menuju sumber suara.
"Apa yang kamu lakukan hah?" Bentak Starla kepada OB yang tengah mencuci piring di dapur.
"Maaf Nona, saya tidak sengaja. Tidak apa-apa barangnya tidak pecah kok." Jawab OB tersebut.
"Sekali lagi kamu melakukannya, akan kulaporkan kamu kepada manager di sini." Ancam starla kemudian kembali ke Rendra.
"Ren, I'm so sorry. Pelayanan di apartemen ini memang tidak memuaskan. Aku jadi ingin pindah. Bagaimana jika aku tinggal di rumahmu Ren?"
"Iya, tinggal di rumahmu. Kita bisa tinggal bersama, right? Menghabiskan setiap hari bersama. Itu pasti akan sangat menyenangkan bukan? Aku akan selalu mendampingi mu, kita melakukan semua aktivitas bersama. Bangun tidur pun, kamu akan melihatku. Bukankah itu sangat menyenangkan Ren?
"Ah, ah.."
"Maaf, saya ingin menawarkan minuman. Apakah anda ingin memesannya?" tiba-tiba OB perempuan tadi sudah berada di dekat Starla.
Starla terperanjat saking kagetnya dengan suara OB tersebut. Hal ini membuat gadis itu oleng ke arah OB. Eh tapi OB itu bukannya menolong malah menggeser tubuhnya hingga Starla jatuh tersungkur.
"Aaaa..." teriak Starla setelah tubuhnya berada di lantai dengan suara, buuukkk. Dan saat itu juga Rendra menyadari jika OB perempuan itu adalah Luna. Yang mana saat ini istrinya tengah menahan tawa melihat penderitaan Starla.
"Nona, anda tidak apa-apa?" Luna membantu Starla berdiri.
Starla dengan wajah yang merah padam sudah siap menerkam OB itu dengan kata-kata pedasnya.
"Kamu tidak apa-apa Star?" Namun kalimat lembut Rendra ini akhirnya mampu membuat starla mengurungkan niatnya.
"Tidak aku tidak apa-apa. Baik, ambilkan dua minuman dingin untuk kami. Ah iya, tambahkan perasan lemon ke minuman Rendra. Dia sangat menyukainya." Starla memandang Rendra, "aku tahu kamu masih menyukai minuman itu kan Sayang. Minuman kenangan kita."
Luna pun membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah dapur. "Perempuan gatel. minuman kenangan, cihh yang ada mas Rendra sakit perut habis minum lemon." Gerutu Luna sambil menyiapkan minuman.
"Ah Ren, bagaimana? Aku ingin sekali secepatnya pindah ke rumahmu. Lihatlah, aku akan dengan cepat mengambil hati ibu dan saudara-saudara mu."
"Maaf starla, tapi..."
"Sayang, apalagi yang kamu fikirkan," kata Starla yang kali ini sudah memeluk erat suami Luna tersebut. "Aku akan selalu disampingmu, kita akan bahagia sayang." Tanpa tahu malu, Starla mulai menggerayangi dada bidang Rendra. Dan mulai mengeluarkan desa*han-desa*han lembut dari mulutnya.
"Permisi, minumannya sudah siap." Luna datang dengan dua minuman di tangannya.
Starla melepas pelukannya, Rendra tersenyum sambil melirik sang istri yang sudah memasang wajah anarkis tersebut.
"Kamu selalu datang di saat yang tidak tepat." Omel Starla.
"Tidak Nona, saya datang di saat yang tepat. Ini minuman dingin untuk Tuan, dan satu lagi untuk Nona. Silahkan."
Rendra pun meneguk minuman di tangannya tersebut. Starla juga melakukan hal yang sama sambil terus bergumam memaki OB yang menurutnya menyebalkan itu.
Namun tak lama Starla mulai merasa pening. Gadis itu mulai memegang kepalanya.
"Nona kenapa?" tanya Luna.
"Diam kamu!" Bentak Starla, Luna hanya tersenyum puas melihatnya.
"Ren, kenapa aku sangat, sangat, ah..." Tubuh Starla pun jatuh ke sofa.
"Sayang apa yang kamu lakukan?" Kata re dra sambil memeriksa Starla.
"Aku tidak akan membiarkan perempuan gatel ini meraba-raba tubuh suamiku." Jawab Luna sambil melepas celemek yang melekat di bajunya.
Rendra hanya terkekeh melihat kelakuan Luna. "Baiklah Sayang, mari kita pulang!"
"Tunggu, ganti dulu pakaianmu dan buang baju itu!"