
"Bu fatma." Jantung Luna berdetak kencang saat melihat perempuan yang sangat tidak asing baginya.
Bagaimana bu fatma ada di sini? Siapa yang bersamanya? Dan, polisi, aku harus menghubungi polisi.
Dengan tangan bergetar, Luna berusaha mengambil ponsel dari tasnya. Hanya satu hal yang harus dia lakukan saat ini, menghubungi polisi.
Namun apa yang terjadi, karena gemetar ponsel yang dia pegang terjatuh. Luna dengan wajah cemas berusaha mengambil ponsel tersebut dengan menundukkan badannya.
"Payah," umpat Luna sambil memukulkan tangannya ke meja. Gadis itu sudah tidak lagi melihat orang yang dicurigainya sebagai bu fatma di tempat semula.
Luna memanggil waiters sambil meninggalkan uang di meja. Kemudian berlalu meninggalkan restoran tersebut berharap masih bisa menemukan jejak bu fatma.
Dengan setengah berlari, Luna berjalan mencari jejak bu fatma arah. Wajah cemas, tangan bergetar, dan juga degup kencang di dada mewakili apa yang saat ini dia rasakan.
Ternyata bu fatma masih berkeliaran di tempat ini. Perempuan itu pasti memiliki rencana buruk berikutnya. Ya, tidak salah lagi. Perempuan sakit jiwa itu bisa menghabisi nyawa putra kandungnya demi dirinya sendiri. Dan kini, dia pasti bisa melakukan apapun termasuk kembali berusaha menyakiti keluarganya.
"Tidak, tidak, aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Tidak, tidak boleh."
Wajah Luna sudah penuh dengan keringat, tinggal beberapa detik lagi gadis itu pasti akan pingsan. Namun sebuah tangan kekar merangkul tubuhnya. Luna sempat terkejut, namun saat melihat bahwa pemilik tangan tersebut adalah Rendra, gadis yang tengah ketakutan itu segera memeluknya.
"Luna, kamu tidak apa-apa?" Rendra berusaha membopong tubuh sang istri menuju tempat duduk. Luna tidak menjawab, rasa cemas masih terlihat jelas di wajahnya.
Rendra tidak melanjutkan pertanyaannya. Dirinya tahu benar, jika Luna saat ini tengah shock. Entah apa yang dialaminya. Rendra pun merasa bersalah karena membiarkan Luna pergi seorang diri.
Setelah beberapa menit, Luna sudah menunjukkan rasa tenang. Rendra menggenggam erat tangan istrinya itu. "Tenanglah! Aku bersamamu," ucapnya.
"Mas, aku melihat bu fatma."
"Apa?"
"Iya, tadi dia bersama seorang laki-laki. Namun aku kehilangan jejaknya. Mas aku takut, aku takut kalau perempuan itu akan kembali dan menyakiti keluarga kita lagi."
Luna tak kuasa menahan air matanya, wajahnya kembali menjadi cemas dan takut.
"Usss, usshh, tenanglah Sayang! Jangan menangis!" Rendra mengusap air mata di pipi istrinya.
"Mas bagaimana jika..."
"Ssstt, tidak akan terjadi apapun. Jangan khawatir! Orang itu tidak akan bisa menyakiti keluarga kita." Rendra memberikan air mineral yang baru saja dia pesan dari waiters dan membantu Luna meminumnya.
"Ingatlah! Ada seorang bayi di sini yang harus kamu jaga Sayang. Jangan biarkan rasa khawatir dan takut membuatmu lemah dan mempengaruhi perkembangan bayi kita."
Luna mengangguk mengiyakan. Rendra sangat benar. Saat ini menjaga kandungannya adalah hal yang lebih penting daripada memikirkan bu fatma.
"Kita pulang sekarang?"
"Iya," jawab Luna sambil menghembuskan nafas panjang berusaha melupakan apa yang baru saja dia takutkan.
"Bagaimana kamu bisa datang di saat yang tepat Mas?" tanya Luna sambil menggandeng sang suami saat berjalan keluar mall.
"Karena cintamu yang memanggil."
"Oh ya, bagaimana cintaku memanggil? Apakah dia bilang Mas Rendra kemarilah."
"Tidak, dia hanya berbisik. Cintamu sedang membutuhkan dirimu, segeralah datang. ."
"Hahaha, ih lebay banget sih gombalnya."
"Hei, tidak lebay. Ini namanya kekuatan cinta Sayang."
*****
"Sudah berangkat, kamu tidak tahu?"
"Mas Rendra kok enggak bangunin aku sih buk? Lagi pula ini kan weekend." Luna dengan wajah kesal turun tangga dan berjalan menuju dapur.
"Ibu tidak tahu, tadi Rendra buru-buru berangkat tidak sempat sarapan. Mungkin ada pekerjaan penting."
"Mau nyari cewek cantik kali kak. Istrinya di rumah tidur mulu," ungkap Max sambil tertawa cekikikan. Bu Diana memukul punggung Max, setelah melihat wajah Luna yang tampak berbeda.
"Lun, mungkin Rendra lagi sibuk. Tidak perlu kamu fikirkan. Nanti juga pulang. Ini, sarapannya sudah siap. Makanlah!" Kata bu Diana.
Max pun menghentikan candaannya. Dirinya tidak menyangka jika candaannya akan berakibat seperti itu.
"Tidak bu, Luna tidak mau makanmakan," jawab Luna sambil kembali naik ke kamarnya.
"Kak Luna kenapa bu?"
"Max, kamu harus mengerti. Kakakmu saat ini sedang hamil, ibu hamil akan mengalami banyak hal dalam tubuh dan dirinya. Kamu harus mengerti. Sebisa mungkin jaga perasaannya agar tetap bahagia dan tidak khawatir."
"Maafkan Max, bu."
"Sudahlah, jangan diulangi lagi ya." Bu Diana menepuk pipi max. Sudah seperti putranya sendiri bu Diana memperlakukan max. Tidak ada perbedaan dalam menyayangi Rendra dan juga Max. Meskipun Max adalah putra dari perempuan yang pernah menghancurkan hidupnya.
"Kak mau kemana?" Tanya Max yang tengah menikmati sarapannya bersama bu Diana. Dia melihat Luna sudah dalam keadaan rapi.
"Bu, Luna mau ke kantor mas Rendra."
"Untuk apa lun?"
"Luna merasa tidak enak."
"Apa perlu aku temani kak?" Max ingin menawarkan bantuan. Setidaknya sebagai penebua kesalahan nya tadi.
"Tidak Max, tidak perlu. Nanti kakak sekalian pulang sama mas Rendra saja."
Max mengangguk berusaha mengerti sang kakak ipar.
"Baiklah, hati-hati ya Lun!" Pesan bu Diana
"Telepon aku jika kamu membutuhkan sesuatu kak." Max juga menimpali.
Luna tersenyum, kemudian segera bergegas menuju tempat yang akan dia kunjungi.
Sesampainya di kantor Rendra.
Suasana kantor sangat sepi, terang saja ini adalah hari sabtu. Tidak ada aktifitas bekerja di hari ini.
Di tempat parkir Luna melihat dua buah mobil terparkir. Satu mobil suaminya dan satu lagi entah milik siapa.
Luna terus berjalan masuk ke lobby kantor. Tidak ada penjaga di sana. Satpam saja juga libur hari ini. Gadis itu terus melanjutkan langkahnya, suasana sepi membuatnya tidak merasa nyaman di tempat ini.
Hingga sampai di ruangan Rendra. Ruangan itu tertutup rapat dengan lampu yang menyala. Luna bisa melihat dari luar. Itu tandanya Rendra ada di dalam. Tapi untuk apa mas Rendra datang ke kantor sendirian? Ada masalah apa? Luna bertanya-tanya. Namun dirinya berusaha menghilangkan pertanyaan-pertanyaan tak terjawab itu.
Gadis itu tersenyum senang. Sebentar lagi dirinya akan bertemu dengan orang yang sangat dia rindukan.
Dengan bersemangat Luna membuka pintu ruangan Rendra. Namun apa yang dia lihat saat ini sama sekali bukan hal yang diinginkannya.
"Mas Rendra...." teriak Luna. Seorang wanita tengah duduk di pangkuan Rendra.