PANGERANKU OM-OM

PANGERANKU OM-OM
BAB 52


Luna merasa sebal saat sang fajar mulai menyinari wajahnya. Dengan wajah malas gadis itu pun membuka sedikit matanya untuk melihat dari mana asal cahaya tersebut. Tidak seperti biasa, pagi-pagi sang surya sudah membuat mimpi indahnya hilang.


Tampaklah Redra yang masih mengenakan handuk putih di bawah pusarnya sedang berdiri di depan jendela sambil sedikit membuka gorden. Ya inilah sumbernya, bagaimana sang surya sampai berani masuk dan membangunkan gadis malas itu.


Dari posisinya Luna bisa melihat dengan jelas wajah suaminya. wajah yang setiap hari dia lihat. Tapi hari ini berbeda, wajah itu terlihat lebih cerah. Dihiasi dengan senyum tipis yang hampir tak terlihat dari ujung bibirnya. Yang menandakan bahwa si empunya tengah berbahagia.


Luna pun tersenyum. Dia bisa melihat dengan jelas kebahagiaan di hati suaminya itu. Itu juga yang membuatnya bahagia. Gadis itu pun berusaha bangkit, namun tertahan karena dia ingat jika saat ini tubuh yang ditutupi oleh selimut itu polos tanpa sehelai benang pun. Ya, sisa semalam.


Dengan sedikit kesulitan gadis itu berusaha meraih pakaian yang semalam dilempar oleh Rendra , kemudian memakainya. Dilihatnya Rendra masih setia dengan kegiatannya. Luna berjalan mendekati suaminya dan memeluk dari belakang.


“Kamu sudah bangun?” Pertanyaan yang tidak perlu jawaban keluar dari mulut laki-laki itu. Entahlah, bagaimana mungkin pertanyaan seperti itu bisa keluar dari mulut saat sudah nyata orang yang kita tanya ada di depan kita.


“Kamu sedang apa?” tanya Luna sambil mempererat pelukannya dan mencium tubuh sang suami yang kini seperti candu baginya.


Rendara membalikkan tubuhnya, mengecup kening Luna dalam. “Aku tidak menyangka Tuhan begitu baik kepadaku. Setelah dulu aku merasa tidak percaya kepada-Nya, kini Dia memberiku segalanya. Bahkan tanpa ku minta.”


Luna tersenyum dan mengecup pipi suaminya perlahan. “Kamu pantas mendapatkan ini semua Sayang.”


“Ku kira mendapatkanmu, mendapatkan cintamu, adalah hal paling besar yang Tuhan beri di hidupku. Tapi ternyata Tuhan melengkapinya dengan mengembalikan Ibu. Aku tak percaya, tapi Tuhan begitu baik.


Keduanya pun tersenyum dan saling mengeratkan pelukan masing-masing. Jika banyak yang mengatakan bahwa Tuhan tidak menyayangiku, Dia tidak mengabulkan keinginanku. Itu salah, Tuhan sangat menyanyangimu dan akan memberikan apa yang kamu minta di saat yang tepat.


“Aaaaa………”


Sebuah teriakan mengejutkan keduanya. Suara bu Diana. Luna segera beranjak dan berlari menuju kamar sang ibu mertua yang tak jauh dari kamarnya. Sementara Rendra masih harus memakai pakaiannya.


“Ibu kenapa? Tenang Ibu..” Luna berusaha menenangkan bu Diana yang saat ini tengah mengamuk memukul tembok dan menjambak rambutnya sendiri.


“Luna, Ibu kenapa?” Rendra yang baru saja masuk ke dalam kamar merasa sangat shock melihat kondisi ibunya yang seperti itu.


Luna hanya melirik sang suami sambil terus berusaha menenangkan sang ibu mertua. Untunglah sebelumnya Luna juga pernah melakukan hal tersebut, hingga tidak sulit baginya saat kini harus mengulanginya kembali.


“Ibu tenang ya! Saat ini Ibu di rumah mas Rendra, suami Luna.”


“Anakku, anakku dimana anakku?” perempuan itu tampak sangat kebingungan mencari anaknya. Rendra datang mendekat namun perempuan itu malah memilih boneka untuk ditimang. Pedih sekali hati Rendra menyaksikan hal ini, hingga meneteskan air mata iba melihat kondisi sang ibu yang kasih sayangnya sangat dia rindukan.


“Luna, Luna,” ucap bu Diana sambil memeluk Luna, tampak rona ketakutan terpancar dari wajah perempuan itu. Apalagi saat ini bu Diana tinggal di tempat yang baru, jelas kebingungan telah melanda dirinya.


“Ibu, Ibu sekarang di sini sama Luna sama Mas Rendra. Ibu aman di sini, Luna akan selalu menemani Ibu. Kita akan masak bersama, makan bersama, dan juga jalan-jalan. Ibu mau?”


Bu Diana tersenyum, sepertinya bujukan Luna berhasil membuatnya tenang. “Siapa itu?” Bu Diana menunjuk laki-laki di depannya.


Ada sedikit kekecewaan yang tergambar dari wajah laki-laki itu. kenapa Luna tidak mengatakan jika dirinya adalah anak kandung dari bu Diana?


Rendra pun harus merasa puas saat dirinya hanya bisa melihat bu Diana dari jauh. Bu Diana akan berteriak jika dirinya mendekat. Ah mungkin rasa trauma masih belum hilang dari dalam dirinya.


“Mas, maafkan aku. Aku tidak bisa mengatakan sebenarnya tentang siapa dirimu kepada ibu. Kondisi ibu belum stabil, jika kita memaksanya untuk mengingat masalalu itu malah memperburuk keadaannya.” Ucap Luna saat dirinya tengah duduk berdua dengan sang suami.


Rendra tersenyum sambil menarik nafas panjang. Antara menerima dan kecewa masih ada di dalam dirinya. Namun Rendra lebih memilih untuk menerima, toh ibunya sekarang ada bersamanya. Di bawah pengawasannya.


“Iya, terimakasih kamu sudah mau merawat ibuku Sayang.”


“Apa yang kamu katakan? Bu Diana juga ibuku. Aku pun memiliki kewajiban untuk menjaganya.”


Rendra tersenyum mendengar jawaban tulus dari istrinya. Sungguh beruntung dirinya memiliki istri yang mencintai dirinya dan juga keluarganya.


“Aku akan menghubungi psikiater yang biasa merawat ibu. Aku yakin keadaaan ibu pasti segera membaik setelah mendapatkan therapy dari psikiater. Seperti keadaan ibu sebelumnya.”


Rendra mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan istrinya. “Katakan padaku jika kamu membutuhkan sesuatu Sayang.”


Luna mengernyitkan dahi yang membuat matanya terlihat sipit. “Aku membutuhkan makanan, aku sangat lapar.” Luna menekankan tiap kata di kalimat yang dia katakan.


Rendra tertawa mendengarnya. Kebahagiaan dan kekacauan hari ini membuat dirinya lupa dengan rutinitasnya tiap pagi. Menyiapkan sarapan untuk istri tercintanya.


“baiklah Ibu Luna, mau sarapan apa hari ini?” tanyanya masih dengan tawa yang tidak bisa dia hentikan.


“Nasi goreng, ayam goreng, telur ceplok, dan sambal yang sangat pedas,” kata Luna dengan wajah berbinar.


Namun tidak dengan Rendra, laki-laki itu menggelengkan kepala.


“Kenapa?”


“Tidak Luna, setiap hari kamu makan makanan pedas. Luka di perutmu masih belum sembuh benar.” Rendra mengucapkannya dengan tegas yang berarti tidak bisa diganggu gugat.


Luna memutar bola matanya, berusaha mencari cara agar suaminya mau menuruti apa yang dia inginkan. Namun kata “baiklah” yang akhirnya keluar dari mulut gadis itu.


“Itu baru namanya anak pintar. Chef Rendra akan menyiapakan makanan spesial untuk tuan putri Luna,” kata Rendra yang saat ini sudah bergelut dengan pisau dan juga bumbu-bumbu.


Sementara Luna hanya menunggu di sebelahnya sambil memperhatikan sang suami yang sedang memasak. Luna, Luna, berapa banyak kebaikan yang kamu buat hingga memiliki suami seperti itu.