PANGERANKU OM-OM

PANGERANKU OM-OM
BAB 46


"Luna bangun Sayang, bangun!" ucap Rendra berkaca-kaca sambil memeluk Luna. Saat ini gadis itu sudah tak sadarkan diri. Matanya terpejam, darah segar mengalir membasahi pakaian suaminya.


Bagaimana dengan bu Fatma dan Ryan? Saat Ryan sudah tak berdaya karena pukulan Rendra yang membabi buta dan juga bunyi sirine mobil polisi yang membuat wanita itu panik, bu Fatma secara sengaja mengeluarkan pisau dari saku bajunya dan menusuk perut Luna. Hal ini dilakukan untuk mengalihkan perhatian Rendra dan membawa putranya kabur sebelum polisi datang.


"Cari mereka di sekitar sini!" ucap polisi yang baru saja datang. Dengan segera para anak buahnya berlari menyusuri tempat tersebut untuk mencari Ryan dan ibunya.


Sementara beberapa orang membantu Rendra untuk membawa Luna segera ke rumah sakit.


"Luna tidak akan terjadi apapun kepadamu Sayang, kamu pasti akan sembuh." ucap Rendra berkali-kali dalam perjalanan menuju rumah sakit.


"Tolong lebih cepat lagi!" Teriaknya.


Sampai rumah sakit beberapa dokter dan beberapa tenaga kesehatan lain segera menolong Luna. Sebagian dari mereka juga terkejut saat melihat Rendra yang masih hidup dan sehat. Bagaimana pun juga Rendra adalah seorang yang terkenal di kota ini.


"Bagaimana kondisi istri saya dok?" tanya Rendra setelah dokter memeriksa keadaan sang istri.


"Tuan Rendra kami harus segera melakukan operasi. Luka di perutnya sangat dalam. Dan istri Tuan juga kehilangan banyak darah."


Rendra terhenyak terdiam, hatinya begitu hancur mendengar hal ini. "Lakukan apa yang terbaik untuk istri saya dok," kata Rendra pasrah.


Dengan segera operasi Luna dimulai. Rendra hanya bisa duduk bersimpuh di depan ruang operasi sambil terus berdoa untuk kesembuhan sang istri.


Di sampingnya juga ada ibu Luna yang tak hentinya meneteskan air mata dan juga mulut yang tak pernah lepas dari doa.


Setiap orang yang berada di posisi ini pasti akan melakukan yang sama. Menunggu beberapa jam di depan ruang operasi sama dengan penantian bertahun-tahun. Menanti kabar dari orang yang paling disayangi.


"Dokter bagaimana Luna?" ucap Rendra saat seorang dokter baru saja keluar dari ruang operasi. Ibu Luna pun juga beranjak mendekati keduanya.


"Syukurlah atas doa orang-orang tersayang, operasi berjalan dengan lancar. Saat ini pasien sudah keluar dari masa kritisnya."


"Syukurlah," ucap Rendra dan ibu bersamaan.


"Apakah kami bisa melihat Luna dok?" tanya ibu. Ya pastinya seorang ibu tidak akan tenang sebelum melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana keadaan anaknya.


Rendra yang sangat memahami perasaan ibu mertuanya hanya bisa mengusap punggung sang mertua berusaha memberikan kekuatan. Meskipun dirinya sendiri juga merasa hancur.


"Luna masih di ruang ICU, biarkan dia beristirahat pasca operasi. Setelah selesai kami akan memindahkannya ke ruang perawatan. Kalian bisa menemuinya di sana."


Ada sedikit kekecewaan di wajah Rendra dan ibunya Luna. Namun mereka berusaha mengerti. Kesehatan Luna adalah yang utama saat ini.


"Nak Rendra, pulanglah Nak!" kata ibu sambil memegang pundak menantunya itu.


"Ibu, maafkan Rendra. Rendra tidak bisa menjaga Luna dengan baik."


"Sstt, jangan berkata seperti itu. Cintamu lah yang telah menolong Luna."


Ibu Luna mengangguk, "ibu tahu, sekarang pulanglah Ren! Ganti bajumu!"


"Tapi bu.."


"Bajumu penuh dengan darah Nak, tidak baik seperti ini. Kembalilah esok setelah kamu beristirahat malam ini. Ibu akan menjaga Luna."


"Tidak Bu, aku tidak bisa beristirahat tanpa Luna. "


Ibu menghela nafas panjang, "baiklah, kembalilah kapanpun kamu mau."


Ucapan ibu mampu membuat Rendra berdiri dan meninggalkan tempat itu. Setelah sebelumnya laki-laki tampan itu melihat keadaan Luna melalui pintu kaca ruang ICU dan berdoa di depannya.


***


Rendra kembali ke rumah dengan lesu. Di dalam kamar dia masih bisa merasakan kehangatan pelukan Luna. Tawa renyah dari gadis itu masih bisa didengar olehnya.


Di samping tempat tidur tampak sesuatu yang terbungkus, seperti bingkai foto besar. Tadi pagi dia tidak melihatnya. Laki-laki itu merasa penasaran dan membuka pembungkusnya.


Sebuah foto berukuran besar, fotonya dan Luna yang tampak sangat bahagia saat liburan beberapa waktu lalu.


Rendra tersenyum melihatnya, Luna tampak sangat cantik. Tak jauh dari foto tersebut terdapat sebuah catatan tulisan tangan Luna.


[Mang, pasangkan bingkai foto ini di tembok sebelah utara. Pastikan bingkai ini di posisi tengah yang pas. Tidak boleh salah, tidak boleh miring!]


Ini pasti pesan Luna untuk Mang Ujang. Rendra tersenyum mengingat bagaimana kelakuan Luna yang selalu bertengkar dengan sopirnya itu.


Rendra pun menghela nafas panjang kemudian berjalan mencari paku dan palu untuk memasang bingkai foto tersebut. Aku siap menerima amarahmu jika hasil pemasangan ku buruk Luna, ucap Rendra lirih sambil tersenyum melihat hasil kerjanya setelah foto itu terpasang. Gadis itu lebih pantas marah daripada tak berdaya di rumah sakit.


Drrrt.. drrrt.. drrrt, ponsel Rendra berbunyi panggilan dari polisi. Rendra segera menerimanya.


"Halo"


"Tuan Rendra kami kehilangan jejak Ryan dan bu Fatma." ucap suara dari seberang yang pastinya membuat Rendra kecewa.


"Tapi kami telah mengirim foto keduanya ke kantor polisi kantor polisi seluruh kota. Itu akan membantu dalam pencarian."


Rendra berdehem, "baiklah, aku ingin secepatnya mereka segera tertangkap dan mendekam di penjara."


"Baik Tuan"


Rendra memutus panggilan dan melempar ponselnya ke tempat tidur. Saat mengingat nama Ryan dan bu Fatma membuat hati laki-laki itu mendidih penuh dengan kebencian.