
Hari ini adalah hari yang sangat Luna nantikan. Pulang ke rumah. Ya, setiap orang yang sedang menginap di rumah sakit pasti menginginkan hal ini. Kesehatan adalah hal utama dan paling penting dalam hidup. Tapi mungkin kesehatan adalah rezeki Tuhan yang paling jarang kita syukuri.
"Akhirnya aku bisa tidur di kasur ini lagi. Bantalku, gulingku." Luna melemparkan tubuhnya ke kasur kemudian memeluk bantal dan guling yang biasa dia pakai.
"Luna, hati-hati! Kamu belum sembuh benar, Sayang." Rendra sudah mulai cerewet dengan kelakuan istrinya tersebut.
"Hmm, aku sudah sembuh Sayang. Hanya dokter tua itu saja yang selalu menahan ku untuk pulang."
"Luna, bersikaplah sopan!"
Luna berdehem, laki-laki ini sudah seperti ibunya yang selalu memprotes apa yang dia lakukan dan katakan.
"Hari ini kamu mau ke kantor Mas?" tanya Luna saat melihat sang suami tengah sibuk dengan berkas-berkas.
"Iya, ada meeting, apakah boleh?" Kali ini Rendra mendekati istrinya dan memandangnya dalam.
Luna diam sesaat. "Jika kamu masih membutuhkanku di sini aku akan merescedule jadwalnya," ucap Rendra hati-hati. Pasalnya laki-laki itu sedikit bimbang harus memilih pekerjaan atau istrinya yang baru saja sembuh. Dia juga berfikir Luna akan marah saat dirinya memutuskan untuk pergi ke kantor.
"Pergi saja!" jawab Luna berbinar. Hal ini membuat Rendra sedikit bingung. Kenapa semudah itu Luna mengizinkannya pergi?
"Pergi saja Mas, jangan sia-siakan pekerjaan itu," ucap Luna. Dirinya tahu benar jika meeting yang akan suaminya hadiri sangat penting.
"Apa kamu yakin?"
"Iya, aku sangat yakin. Aku sudah senbuh Mas."
"Baiklah, aku akan cepat pulang. Jaga dirimu! Segera hubungi aku jika ada masalah," tutur Rendra sebelum akhirnya pergi ke kantor.
*****
"Gila ya kamu Lun, baru saja sembuh udah makan yang kayak gini." Seru Rani saat keduanya berada di sebuah rumah makan favorit Luna.
"Enggak apa-apa kok. Bayangin, dua minggu di rumah sakit aku cuma makan bubur. Aku setengah bulan kemarin rasanya kayak hidup segan mati tak mau."
Rani tertawa mendengarnya. "Kelakuan kamu emang enggak berubah Lun. Udah jadi istri orang kaya masih aja demen sama bebek goreng. Udah jangan banyak-banyak sambelnya!"
"Emang apa bedanya istri orang kaya sama istri orang biasa saja. Namanya juga sama, istri, tugasnya juga sama, melayani suami."
Rani hanya meng geleng-geleng kan kepala melihat sahabatnya yang sangat lahap memakan makanan di hadapannya.
"Udah kayak orang gak makan sebulan tahu enggak sih kamu."
"Mumpung enggak ada Mas Rendra. Untung aja tadi dia ada meeting penting, kalau enggak, dia pasti enggak bolehin aku kemana-mana dan cuma boleh makan bubur."
"Dasar, aku bilangin Rendra ya," gurau Rani.
"Jangan! Eh habis ini samperin bu Diana yuk, aku kangen. Sekalian kita bungkusin bebek goreng." Luna mengalihkan perhatian.
"Mana mau bu Diana bebek, itu kan makanan demenan kamu Lun."
"Terus bu Diana suka apa?"
"Sukanya rendang sama sayur asem."
"Hah, rendang sama sayur asem. Kayak mas Rendra aja." Luna kembali ingat dengan makanan favorit suaminya.
"Anaknya kali," kelakar Rani sekenanya sambil bergegas pergi. "Ngapain? Buruan!" teriaknya lagi saat melihat Luna yang malah terdiam.
Apa yang Rani katakan? Mas Rendra anaknya bu Diana? Tidak, ibu Diana ibunya mas Rendra sudah meninggal. Tapi kenapa aku selalu melihat mas Rendra di mata bu Diana?
"Ah iya iya.."
Luna dan Rani sampai di rumah Rani. Setelah drama Luna harus mendengar omelan suaminya di telefon. Ya, tanpa terfikir oleh Luna, Rendra menelpon melalui panggilan video. Dan omelan itu diakhiri dengan kalimat lembut dari mulut Luna, "aku mencintaimu mas Rendra, sangat mencintaimu." Dan berjanji akan segera pulang.
"Luna..." Sebuah suara lembut memanggil. Membuat si pemilik nama menghentikan aktifitasnya dan melihat ke arah sumber suara.
"Bu Diana," seru Luna kemudian memeluk seorang perempuan yang sudah sangat dekat baginya."
"Luna kamu sudah sembuh Nak?" kata perempuan setengah baya itu lagi sambil melepas pelukannya.
Luna hanya terdiam sambil memandangi wajah bu Diana. Perempuan di hadapannya memang sangat cantik. Suaranya begitu lembut dan pelukannya yang hangat.
Luna terus memandangi wajah bu Diana yang masih mengeluarkan kalimat dari mulutnya. Dan ya, semakin Luna melihat semakin dia bisa melihat kemiripan wajah perempuan di hadapannya itu dengan sang suami.
"Ngapain bengong?" Rani menepuk punggung sahabatnya itu. "Tuh tante Diana tanya dari tadi enggak kamu jawab."
"Ah maaf Tante, eh ini Luna bawa rendanh sama sayur asem. Tante sudah makan?"
"Wah kebetulan sekali, yuk kita makan!" Ketiganya pun masuk ke dalam rumah.
Luna memperhatikan perempuan di hadapannya yang tengah makan. Gaya makan bu Diana sangat anggun, berbeda sekali dengan dirinya. Namun ada yang membuat Luna tertarik, cara makan dan juga kebiasaan bu Diana saat makan sangat mirip dengan Rendra.
"Tante, maukah tante menceritakan sesuatu?" Pinta Luna saat keduanya berada di teras depan mengobrol santai.
Luna mencoba memancing perempuan tersebut. Psikiater berkata jika masalalu mungkin akan membuatnya mengingat sesuatu atau mungkin akan membuat perempuan itu kesakitan. Sehingga Luna mencoba cara ini.
"Baiklah, tante akan menceritakan tentang seorang pangeran. Pangeran yang sangat tampan nan baik hati. Seorang gadis yatim piatu masuk ke dalam kehidupannya menjadi seorang pelayan. Pelayan yang bekerja dengan sepenuh hati untuk menghidupi dirinya dan juga adik-adiknya. Namun takdir berkata lain, cinta datang menghampiri keduanya. Membuat sebuah cerita yang begitu indah. Perjalanan cinta yang panjang, hingga mereka sama-sama mengerti jika itu cinta sejati yang tak bisa terpisahkan." Bu Diana bercerita dengan sepenuh hati.
Luna senang mendengarnya. jika keadaan bu Diana terus seperti ini, itu akan membuat perempuan ini cepat mengingat masalalunya.
Namun sesuatu terjadi pada Luna, "aduhh", seru gadis itu saat merasakan seekor serangga menggigit lehernya. Luna pun membuka syal yang menutupi lehernya, berusaha menggaruk dan mencari tahu apa yang terjadi dengan tangan. Hal ini membuat kalung yang dia kenakan terlihat.
"Kalung itu," seru bu Diana.
Luna terkejut, apalagi bu Diana saat ini terlihat begitu cemas sambil memandangi kalung yang ada di lehernya.
"Ada apa bu?"
"Kalung itu, kalung ku. Perempuan jahat, perempuan jahat. Kembalikan putraku, kembalikan putraku!"
Bu Diana berteriak dengan keras, kembali perempuan itu mengalami depresi dan tidak bisa dikendalikan. Dan perempuan itu seperti hendak menyerang Luna. Rani datang untuk membantu.
"Tenang tante, tenang!" ucap Rani sambil berusaha membujuk perempuan itu. Untunglah keadaan bu Diana semakin membaik setelah Rani memberikan obat penenang kepadanya.
"Ada apa Lun? Kenapa tante Diana bisa seperti itu?" tanya Rani saat semua sudah terkendali.
"Aku tidak tahu Ran, bu Diana tiba-tiba mengamuk saat melihat ini." Luna menunjukkan kalung yang dia pakai.
"Darimana kamu mendapatkan kalung itu?" tanya Rani tiba-tiba.
"Mas Rendra yang berikan. Kata dia ini kalung ibunya."
Deggg, kalimat yang baru saja Luna ucapkan membuat dirinya terdiam. Gadis itu masih menggenggam erat liontin di lehernya. Beragam fakta yang dia alami dan a dirinya lihat, benar-benar menunjukkan sesuatu yang sangat jelas.
"Apa jangan-jangan....."