PANGERANKU OM-OM

PANGERANKU OM-OM
BAB 32


Hari ini adalah rencana pertemuan Tuan Roby dan Luna. Pertemuan yang seharusnya dilakukan di kantor Rendra beralih ke tempat yang telah ditentukan Tuan Roby. Bu Inggit, sang sekretaris merasa sedikit aneh dengan hal tersebut. Namun Luna sama sekali tidak memiliki masalah, gadis itu tidak menaruh curiga ataupun fikiran buruk.


“Apakah saya perlu menemani Bu Luna?” tanya Bu Inggit saat Luna hendak pergi.


“Tidak perlu Bu, banyak sekali pekerjaan yang harus Ibu handle di sini. Jadi sebaiknya Ibu tetap di kantor.”


“Tapi saya merasa tidak tenang Bu Luna, saya merasa…”


“Tidak apa-apa Bu Inggit, tidak akan terjadi apapun. Semua akan baik-baik saja.” Luna memotong kalimat Bu Inggit. Gadis itu seperti bisa membaca apa yang ada di fikiran perempuan lawan bicaranya itu.


“Baiklah, hati-hati Ibu Luna!” ucap bu Inggit sambil melepas kepergian bosnya tersebut.


Luna mendengus kesal saat berada di dalam mobil. Tuntutan pekerjaan harus membuatnya naik mobil bersama sopir setiap harinya.


“Ih dimana sih, ditelfon enggak diangkat, di wa enggak dibalas. Kemana sih ini orang?” omel Luna sambil melempar ponselnya.


“Bu Luna lagi kangen ya sama suami tercinta, ciee..,” goda Mang Ujang sopir yang tengah melajukan mobil yang dia tumpangi.


Luna memonyongkan bibirnya. Ya begitulah Mang Ujang, hobi sekali menggoda. Bahkan sejak Luna baru masuk ke rumah Rendra, laki-laki berusia 50 tahunan itu sudah berani menggoda.


“Mang Ujang diem gak? Nyetir aja yang bener,” semprot Luna.


Gadis itu kembali mengambil ponselnya, berharap akan ada notifikasi atau telpon dari orang yang diharapkannya. Namun hasilnya sama saja.


“Mungkin Tuan Rendra lagi sibuk Non. Jadi tidak bisa diganggu,” tutur Mang Ujang yang tidak tega melihat majikannya.


“Emang sibuk apa? Jangan-jangan sibuk sama cewek-cewek lagi.” Luna masih saja mengomel.


“Mang Ujang enggak tahu Non. Setahu Mang, Tuan Rendra itu orangnya baik. Enggak pernah aneh-aneh, apalagi main perempuan. Kan cintanya Tuan Rendra cuma sama Non.”


Kalimat Mang Ujang ternyata berhasil membuat Luna merubah ekspresi wajahnya. “Apa Mang Ujang yakin?”


“Pastinya Non,” kata Mang Ujang yang juga turut senang.


Luna tersenyum, namun masih ada sesuatu yang mengganggu hatinya. Apa yang dilakukan Rendra hingga membuat laki-laki itu tidak memiliki waktu untuknya?


“Non, ini tempatnya ada di dalam. Mobil kita tidak bisa masuk Non,” kata Mang Ujang sambil menunjukkan jalan kecil yang ada di depannya.


“Emang ini tempatnya Mang? Mang Ujang salah kali,” balas Luna.


“Tidak Non, ini sesuai dengan tempat yang ada di maps. Kantor perusahaan itu ada di dalam sana.” Kembali Mang Ujang menunjukkan jalan kecil itu. Jika dilihat dari jauh, jalan itu tampak buntu.


“BAiklah, Mang Ujang di sini saja. Biar saya sendiri yang ke sana.”


“Jangan Non! Bagaimana kalau Mamang antar saja?”


“Tidak usah Mang! Mungkin di dalam gang jalan kecil itu kantornya.”


Luna pun berjalan memasuki gang kecil tersebut. Jalan di tempat ini sangat sepi. Meskipun ada beberapa rumah di sini, namun Luna belum melihat tanda-tanda kehidupan di sini. Luna terus berjalan ke arah dalam. Dari sini bisa terlihat sebuah kantor yang tidak begitu besar. “Apakah ini tempatnya?” batin Luna.


Gadis itu menghentikan langkah saat hatinya mulai ragu. Tidak mungkin perusahaan besar milik Tuan Roby memiliki kantor yang kecil. Perusahaan yang sedang berkembang itu pasti memiliki kantor yang megah dan luas. Tapi ini?


Drrt, drrt.. ponsel Luna berbunyi, panggilan dari Tuan Roby. Luna segera menggeser tombol hijau di ponselnya.


“Ibu Luna sudah datang?” terdengar suara berat dari seberang.


“Sudah Tuan, saya sudah berada di depan kantor. Ah tapi mungkin saya tersesat atau..”


“Baik Tuan,” jawab Luna kemudian kembali melangkahkan kaki ke dalam kantor tersebut.


Kantor yang sepi, jika biasanya di bagian depan terdapat satpam yang siap membantu, di tempat ini terdapat dua orang bodyguard bertubuh dempal. Dua orang itu pun mengantar Luna masuk ke dalam bangunan yang disebut kantor tersebut.


Hati Luna semakin tak karuan saat melihat kondisi dalam kantor yang remang-remang. Di tambah beberapa botol minuman keras yang membuat bau ruangan sangat menyengat.


“Apakah ini kantor?” tanya Luna kepada dua orang besar di depannya.


“Iya, Tuan telah menunggu Anda di sana.”


Luna hanya mengangguk dan tetap berjalan beriringan dengan kedua orang besar tersebut.


“Selamat siang Ibu Luna,” sapa seorang laki-laki yang tak lain adalah Tuan Roby.


“Selamat siang Tuan,” balas Luna sambil menjabat tangan laki-laki itu.


“Apa bisa kita mulai sekarang Tuan?” pinta Luna yang sebenarnya ingin segera pergi dari tempat itu.


“Santai saja Bu Luna, lebih baik kita minum dulu,” kata Tuan Roby yang pastinya membuat Luna semakin tidak nyaman. “Panggilkan OB, minta minuman segar untuk tamu kita!” Tuan Roby memberi perintah kepada orangnya.


“Tidak perlu Tuan, saya masih banyak pekerjaan. Jadi kita harus segera menyelesaikan perjanjian ini,” ungkap Luna.


“Jangan buru-buru Bu Luna! kita nikmati saja waktu kita.” Kalimat yang baru saja Tuan Roby ucapkan membuat Luna jijik. Dari sini gadis itu baru sadar jika ini adalah jebakan.


“Kurang ajar!” umpat Luna lirih. Gadis itu berniat untuk segera menonjok laki-laki di hadapannya dan pergi dari tempat ini. Tapi ini tidak akan mudah, dua orang bodyguard di depan adalah masalah besar baginya.


“Minumannya Tuan.” Seorang laki-laki dengan kumis tipis tampak membawa 2 buah minuman dingin di


tangannya.


Roby segera mempersilakan Luna untuk meminumnya, begitupun dirinya. Sementara laki-laki berkumis itu meninggalkan mereka. Namun sebelumnya laki-laki itu telah memberikan sebuah kertas kecil kepada Luna tanpa sepengetahuan Roby.


[Lakukan apa yang kamu inginkan kepada laki-laki bajingan itu! Tonjok! Gampar! Aku telah mencampur obat bius di minumannya. Siasanya biar aku yang menyelesaiakan]


Kalimat pada kertas itu membuat Luna tersenyum puas, ternyata laki-laki berkumis itu adalah suaminya. Ya, Rendra yang akan selalu menjaga dan melindunginya.


Roby mendekati Luna sambil terus meneguk minuman dari botol yang ada di sampingnya, laki-laki itu sepertinya sudah sedikit mabuk. Sementara Luna masih diam dan waspada. “Minumlah terus! Ini akan membut pekerjaanku menjadi lebih mudah.” Batin Luna.


“Kau sangat cantik, aku sangat menyukaimu. Bagaimana jika kita habiskan hari ini berdua Sayang?” ucap Roby yang pasti sudah bisa ditebak oleh Luna.


Luna hanya meringis, kemudian Plakk, plakkk, buuggg, buugggg. Tanpa babibu pukulan demi pukulan Luna berikan kepada laki-laki bajingan di depannya itu. “Dasar laki-laki brengsek, bajingan!” umpatnya sambil terus memukul hingga Roby tak berdaya.


Luna tersenyum bangga dengan dirinya sendiri. “Tidak sulit,” katanya.


Luna segera berjalan keluar dari tempat itu dengan mengendap-endap. “Cepatlah!” ucap seseorang yang membuat dirinya kaget.


“Mas Rendra,” teriaknya girang saat melihat laki-laki yang sangat dicintainya sudah berada di belakangnya.


“Kita harus segera keluar dari sini sebelum Ryan datang,” ucap Rendra kemudian menggandeng Luna dan membawanya pergi.


“Hahh,” teriak Luna dengan ekspresi kaget saat melihat dua bodyguard yang telah lemas di kursinya.


“Aku hanya memberi mereka sedikit obat tidur dosis tinggi,” kata Rendra yang membuat Luna tersenyum bangga dengan suaminya itu.