PANGERANKU OM-OM

PANGERANKU OM-OM
BAB 35


“Apa lagi ini?” batin Luna yang sudah merasa akan mengadapi hal buruk.


“Selamat pagi Sayang, bagaimana tidurmu semalam? Apa kamu bangun dengan segar?” kembali bu Fatma menyunggingkan senyum beserta kalimat manisnya. Cuuhh, Luna merasa mual mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut busuk itu.


“Duduklah kucing kecilku! Ada banyak hal yang ingin kami bicarakan padamu hari ini.” ucap Ryan dengan ekspresi yang sangat tidak disukai oleh Luna. Apalagi panggilan kucing kecil yang Ryan tujukan kepadanya, sungguh laki-laki bajingan.


Luna pun juga tidak akan melupakan bagaimana Ryan dan Roby ingin menjebaknya kemarin. Ah, seandainya dirinya memiliki bukti yang kuat pasti saat ini Ryan dan Roby telah masuk ke dalam penjara.


Dan sekarang, aku harus berhadapan dengan setan-setan ini lagi. Ya Tuhan, kenapa Engkau menciptakan setan-setan kejam ini? Masih kurangkah jin-jin yang telah Engkau ciptakan untuk mengganggu manusia? Kenapa Engkau tambah dengan pasangan ibu dan anak ini? racau Luna dalam hati.


Dengan berat hati Luna pun duduk di kursi ruang keluarga miliknya. Saat ini fikirannya sudah tidak karuan. Apakah ini kejutan yang Rendra katakan?


“Ibu Luna, perkenalkan saya Stefanus, pengacara bu Fatma dan juga Tuan Ryan.” Seseorang yang sedari tadi bersama keduanya kini memperkenalkan diri.


Luna hanya melirik laki-laki itu tanpa membalas atau pun menyunggingkan senyum.


“Saya kemari untuk memberikan surat ini.” Laki-laki itu memberikan sebuah map kuning berisi beberapa lembar dokumen.


Luna tidak tertarik untuk membacanya, tapi entah mengapa gadis itu membuka map dan membacanya juga. Luna mengernyitkan kening saat membaca beberapa kalimat dari dokumen itu. Lama kelamaan raut mukanya berubah dan, “apa-apaan ini?” seru Luna setelah membaca hal penting di berkas itu.


“Ada apa Sayang?” ucap bu Fatma dengan senyum mengembang, sepertinya wanita itu puas melihat ekspresi terkejut menantunya itu.


“Apa ini?” teriak Luna kepada pengacara di hadapannya.


“Ibu Luna pasti sudah faham, berkas itu berisi surat kuasa yang mana menerangkan bahwa surat wasiat almarhum Tuan Rendra sebelumnya sudah tidak berlaku. Dan sekarang, 70% aset dan juga properties milik Tuan Rendra jatuh ke tangan bu Fatma dan juga Ryan selaku ibu dan saudara Tuan Rendra.”


“Tapi saya istrinya, saya pun berhak mendapatkan warisan itu.”


“Anda hanya mendapatkan 30%, karena sesuai aturan yang berlaku, hak waris yang paling berhak atas harta Tuan Rendra adalah putranya. Ibu pun telah menyetujui semua itu bukan?”


“Apa Anda bercanda, hahh? Saya sama sekali tidak pernah menyetujui hal bodoh ini.”


Pengacara itu mengambil berkas lain dari map lain yang dia bawa, sebuah copy dari dokumen kemudian menunjukkannya kepada Luna.


“Tanda tangan Anda dengan jelas sudah dibubuhkan di berkas ini. Berkas yang menyatakan bahwa Anda menyetujui pengalihan harta warisan ini.”


Benar saja, tanda tangan Luna jelas berada di atas namanya pada dokumen itu. bagaimana bisa? Sejak kapan aku menandatangani berkas ini? Luna terus mengingat setiap detail kejadian yang akan mengarah kepada kejahatan pemalsuan data ini.


“Ini palsu, aku tidak pernah menandatangani apapun,” seru Luna sambil menyobek kertas fotocopy itu. Tawa renyah terdengar dari bu Fatma dan juga Ryan.


“Ini adalah daftar aset dan properties milik bu Luna.” Kembali pengacara itu memberikan berkas yang berisi rincian dan list hak-hak yang bisa Luna kuasai di rumah ini dan juga di kantor.


“Shiiitt,” umpat Luna sambil membuang kertas tersebut.


“Baiklah, sudah terlalu siang, aku harus ke kantor. Banyak meeting yang harus kukerjakan hari ini,” ucap Ryan yang pastinya membuat Luna sangat dongkol.


“Hati-hati Sayang, semoga sukses putraku.” Kalimat berikutnya dari mulut api bu Fatma benar-benar membuat Luna panas.


Gadis itu tidak tahan lagi dan segera pergi dari rumah itu.


“Mau kemana kamu Sayang?” seringai bu Fatma menghentikan langkah Luna, “bagaimana, apa kamu sudah menyadari jika saya bukanlah lawan yang setara denganmu?”


Luna hanya melirik bu Fatma dengan seringai yang tak kalah tajam, “perempuan licik,” umpat Luna lirih di hadapan ibu mertuanya itu.


“Hei menantuku Sayang, jaga mulutmu Sayang! Saya memiliki hak paling besar di sini. Dan yaa, mengingat kebaikan putraku Rendra, saya mengizinkanmu tinggal di sini. Dan pastinya, kamu akan menjadi mainan kecilku yang manis.” Tawa lebar keluardari mulut bu Fatma setelah mengatakan kalimat terakhirnya. Benar-benar seperti


setan betina.


“Jangan lupa, saya pun masih memiliki hak di sini dan juga di perusahaan,” ucap Luna sambil menunjuk wajah bu Fatma dengan jari telunjuknya. Kemudian pergi dari rumah tersebut.


*****


Luna sampai di tempat persembunyian Rendra. Hari ini dia tidak ingin pergi ke kantor. Di sana pasti ada Ryan yang sok berkuasa. Dan dirinya tidak ingin melihat wajah setan itu lagi.


Rumah ini tampak sepi, dimana Mas Rendra? batinnya. Luna duduk di sebuah kursi rotan yang biasa dipakai suaminya, tempat duduk yang sangat nyaman meskipun usianya sudah tua.


Tanpa terasa air mata itu jatuh. Air mata itu jatuh tanpa bisa dihentikan, bersamaan dengan suara sesenggukan yang menandakan jika ada hati yang terluka. Ada amarah, kekecewaan, dan juga penyesalan di dalamnya.


“Mas, maafkan aku. Aku tidak bisa mempertahankan peninggalanmu,” ucap gadis itu lirih di sela-sela deraian air matanya. “Aku tidak berguna Mas, aku tidak berguna.”


“Luna,” suara Rendra saat dirinya melihat sang istri yang penuh dengan derai air mata. Laki-laki itu segera mendekati istri yang sangat dicintainya itu.


“Sayang, tenanglah!” ucapnya sambil memeluk Luna yang kini telah lemas tak berdaya sambil terus menangis.


“Semua sudah berakhir Mas, Ryan telah mengambil harta kamu. Aku tidak bisa mempertahankannya Mas, aku tidak bisa.” ucap Luna sambil terisak dan mempererat pelukannya.


Rendra menghembuskan nafas dalam, rasa sakit yang dirasakan Luna pasti juga dirasakan olehnya. Malah rasa itu pasti lebih besar. “Iya Sayang, ini bukan salah kamu,” kata Rendra mencoba menenangkan sang istri sambil terus mengecup kening perempuan yang sangat dicintainya itu.