PANGERANKU OM-OM

PANGERANKU OM-OM
BAB 29


“Hei, hei, apa yang kamu lakukan Luna?” kata Rendra yang merasa geli dengan perlakuan Luna.


“Kamu manusia?” tanya Luna polos yang dibarengi dengan tawa keras dari Rendra.


Luna terdiam, gadis itu masih sangat bingung dengan apa yang terjadi di depannya. Ya, dirinya memang sangat merindukan kehadiran sang suami kembali. Namun otaknya bertanya-tanya, bukankah jika orang sudah meninggal tidak mungkin hidup lagi?


“Aku hantu, aku hantu yang akan memakanmu Luna,” seru Rendra sambil menggerak-gerakkan tangannya seperti zombie yang hendak mencari mangsa.


“Dasar Om-om, enggak lucu, tahu enggak!” bentak Luna kemudian gadis itu duduk meletakkan tubuhnya di lantai. Tidak dihiraukannya tempat kotor yang dia duduki saat ini.


Rendra duduk di sebelah Luna sambil memandang wajah gadis itu. Selama beberapa menit tidak ada kata yang keluar dari bibir keduanya.


“Jadi Mas Rendra masih hidup?” pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Luna.


“Iya,” jawab Rendra santai. Luna menatap wajah Rendra dalam-dalam, dia tidak menyangka jawaban laki-laki itu sesimple dan sesantai itu. Hal ini membuat Rendra sadar jika situasi saat ini sedang tidak baik-baik saja.


“Luna, Mas bisa…”


Belum selesai Rendra memberikan klarifikasinya, pukulan dari kedua tangan Luna secara bergantian mendarat di dadanya. “Luna, Luna tenang!”


“Dasar laki-laki tua, om-om, jadi selama ini kamu berbohong hahh, kamu masih hidup, dasar om-om tua. Aku benci, aku benci sama kamu.” Luna terus memukul dada Rendra dengan kedua tangannya, sambil mengeluarkan semua emosi yang ada dalam dirinya.


Sementara Rendra hanya diam, biarlah Luna melampiaskan segala amarah kepada dirinya saat ini. Air mata yang Luna keluarkan sudah cukup mewakili seberapa besar rasa rindu dan juga cinta yang gadis itu miliki untuknya.


Tak lama tangan Luna melemas, gadis itu sudah tidak memiliki energi lagi untuk memukul ataupun mengumpat. Hanya air mata yang mampu dia keluarkan saat ini.


“Sayang,” kata Rendra sambil memeluk perempuan yang sangat dicintainya itu. Luna tidak membalasnya, tangannya lemas sambil sesenggukan.


“Maafkan mas, maafkan mas Sayang,” kata Rendra yang tidak dihiraukan oleh sang istri.


Rendra tahu butuh waktu bagi Luna untuk menerima kenyataan yang ada di hadapannya saat ini. Dan laki-laki itu juga tahu, seberapa berat hari-hari yang Luna lalui tanpa dirinya. Kini, biarlah semua itu Luna luapkan dengan air mata. Air mata yang ditumpahkan di dadanya.


“Apakah Doni itu kamu?” tanya Luna saat tangisnya mulai reda.


Rendra mengangguk, “tidak ada yang bisa menjagamu selain aku.”


“Aku bisa menjaga menjaga diriku sendiri,” seringai Luna.


“Dengan kuda-kuda angsamu itu?” seloroh Rendra yang membuat Luna tertawa pelan.


“Aku sangat merindukanmu Mas,” ucap Luna sambil kembali memeluk Rendra erat, “jangan membuat sandiwara gila seperti itu lagi! aku tidak bisa tanpamu Mas.”


Ucapan Luna membuat Rendra tersenyum senang. Kalimat yang sangat ingin dia dengar dari bibir istri manisnya itu, akhirnya kali ini keluar juga. “Mas berjanji, tidak akan ada yang bisa memisahkan kita lagi Sayang.”


Rendra memperbaiki outer yang dipakai Luna, entah kenapa salah satu lengan outer tersebut jatuh, membuat sebagian dada Luna terlihat.


“Apa ini Lun? Kenapa kamu memakai pakaian tidur ini?” tanya Rendra yang menyangsikan saat melihat Luna memakai baju tidur tipis dengan bagian depan yang terbuka.


“Kenapa? Baju ini bagus, ada banyak di lemari pakaian. Sayang jika tidak dipakai. Lagi pula hanya aku sendiri yang ada di kamar. tidak ada yang akan melihat,” jawab Luna santai sambil memperbaiki posisi duduknya.


“Tapi kamu tidak pernah memakainya saat aku di rumah Lun,” protes Rendra.


Luna memutar matanya, “dasar om-om mesum.”


“Iya, tempat yang nyaman bukan?”


Luna mengangguk mengiyakan, “lantas siapa yang membantu memenuhi kebutuhanmu selama ini?“ tanya Luna penasaran.


“Itu.” Rendra menunjukkan sesosok laki-laki yang tengah tidur di salah satu sudut ruangan tersebut.


“Pak Didi,” ucap Luna terkejut bercampur heran. Penjaga rumah yang sudah berumur itu terlibat dalam sandirawara ini. Rendra hanya tersenyum melihat ekspresi sang istri.


Hal ini membuat Luna semakin menekankan pertanyaannya, “siapa lagi yang tahu kebenaran ini Mas?” tanya Luna yang sudah mulai bisa menebak.


“Bi Inah, Mang Ujang, Bibi Rustini, dan juga…”


“Apa?” Luna membelalakkan matanya lebar. Bukan lagi terkejut, bahkan Luna tidak menyangka jika nama-nama yang Rendra sebutkan tadi akan terlibat dalam konspirasi gila ini.


“Ini gila, ini sungguh gila,” imbuh Luna. Bi Inah, asisten rumah tangga yang sudah dia anggap sebagai keluarga sendiri, Mang Ujang sopir Rendra yang bahkan juga terluka dalam kecelakaan itu, Bibi Rustini tukang cuci


di rumahnya. “Bagaimana, bagaimana ini?..”


“Iya Non Luna, ini semua sudah direncanakan. Dan ternyata berhasil.” Tiba-tiba dua orang perempuan yang sangat Luna kenal datang ke hadapannya.


“Bi Inah, Bibi Rustini.” Kembali Luna terperanjat. Karena setahunya, Bibi Rustini telah pulang ke rumahnya sejak sore. Dan Bi Inah juga pasti sudah tidur di rumah Rendra.


“Tapi saya yang paling apes Non, saya harus bikin luka tangan dan kaki saya biar sandiwara ini terlihat nyata.” Muncul lagi seseorang dari dalam sambil berjalan sedikit terseok.


“Mang Ujang,” ucap Luna.


“Inilah kebenarannya Sayang,” jawab Rendra berusaha menenangkan sang istri yang shock.


“Mereka semua tahu tentang kebenaran ini. Bahkan beberapa polisi yang menyelediki kecelakaan itu juga terlibat.”


Luna hanya bisa membuka mulutnya, gadis itu seperti kehilangan kekuatan untuk menggungkapkan isi di otaknya.


“Mulutnya ditutup Sayang, nanti kemasukan lalat,” Gurau Rendra yang akhirnya mampu membuat gadis itu berfikir jernih.


“Untuk apa kamu melakukannya Mas?” Sebuah pertanyaan yang pasti akan ditanyakan oleh Luna. Rendra tahu kalimat itu  akan keluar dari istri pintarnya tersebut.


“Sebenarnya ini ide saya Non.” Bi Inah mulai mengakui dosanya.


“Maksud Bi Inah?”


“Bu Fatma bukan orang baik. Sejak dulu bahkan jauh sebelum Tuan Rendra dan Non menikah, Bu Fatma selalu mencari cara untuk menghancurkan Tuan Rendra. Padahal Tuan Rendra sangat sayang dan mencintai Bu Fatma serta anak-anaknya. Tapi perempuan rakus itu tidak akan puas sebelum mendapatkan seluruh harta Tuan. Dan menurut kami ini adalah cara yang paling tepat untuk menjebaknya.”


“Kenapa kalian tidak memberitahu saya? Seburuk itukah sehingga saya tidak boleh tahu tentang kebenaran ini?” Luna mendelik kesal terhadap beberapa orang di hadapannya itu. Kemudian menatap tajam ke arah suaminya.


“Jika Non tahu, bu Fatma akan curiga Non,” jawab mang Ujang ditambah beberapa kalimat mengiyakan dari Bibi Rustini.


“Lagipula, jika tidak seperti ini Non Luna pasti tidak akan mengakui jika Non sangat mencintai Tuan.” Ucapan skakmat bi Inah yang mampu membuat Luna menunduk malu dan tidak bisa menjawab apapun. Ah kenapa harus dikatakan di depan Rendra.


Drrt.. drrt.. ponsel Rendra berbunyi. Ponsel yang terletak di nakas dekat tempat duduk Luna tersebut membuat gadis itu tahu siapa yang membuat panggilan untuk suaminya tersebut.


“Ibu..,”