PANGERANKU OM-OM

PANGERANKU OM-OM
BAB 26


“Terimakasih untuk atensi dan perhatian teman-teman semuanya. Tanpa kalian novel “De Luna” tidak akan mendapatkan posisi seperti ini. Kita semua tahu novel ini adalah karya terakhir dari almarhum suami saya, mas Rendra. Mas Rendra adalah penulis yang sangat berbakat. Dari novel ini pula saya bisa merasakan cinta yang begitu besar darinya,” kata Luna dalam sambutannya saat mendapatkan penghargaan, “dan sampai saat ini pun setiap kali saya membaca “De Luna” saya selalu merasa mas Rendra masih ada di samping saya. Mungkin mas Rendra telah tiada, tapi cintanya akan tetap di sini untuk kita semua.”


Para tamu yang hadir di tempat itu bertepuk tangan dengan riuh. Mereka adalah orang-orang yang sangat setia kepada Rendra. Dan setelah Rendra tiada, mereka pun masih menyayangi suami Luna tersebut.


“Beruntung sekali Bu Luna mendapatkan cinta yang begitu besar dari Rendra. Setiap kata yang beliau tulis di sini benar-benar menggambarkan sosok istri yang sangat dicintainya,” ungkap seorang tamu.


“Anda benar, saya adalah perempuan yang sangat beruntung. Tapi Anda salah, saya tidak seberuntung itu saat ini. Suami yang sangat mencintai saya telah pergi meninggalkan saya seorang diri, menyisakan penyesalan yang tidak akan pernah bisa tergantikan kembali. Ah jika saya bisa memutar waktu, saya ingin selalu mengucapkan kata cinta untuknya, selalu memeluknya, mencintainya,” jawab Luna dengan air mata yang hampir jatuh.


“Terimakasih hadirin semua, mari kita akhiri acara ini dengan kiriman doa untuk Tuan Rendra. Semoga Tuan Rendra mendapatkan tempat yang sangat indah di sisi-Nya, sesuai dengan kebaikan yang telah beliau lakukan terhadap kita.” Seorang pembawa acara menutup acara.


Semua tamu hadirin berdoa dengan khusyuk. Hanya inilah yang bisa mereka berikan untuk Rendra saat ini.


Luna sedikit terkejut saat mulai membuka mata setelah mengucapkan doa, sesosok laki-laki yang sangat dia rindukan tampak hadis dalam kerumunan para tamu. Luna yang berada di atas stage bisa melihat dengan jelas siapa yang ada di bawah. Luna mengikuti langkah laki-laki itu dengan matanya. Laki-laki yang tampak sedikit


gelisah tersebut tampak kembali menutup wajahnya dengan topi.


“Bukankah itu Doni?” ucap Luna dalam hati, dia masih ingat pakaian yang Doni pakai tadi.


“Kenapa wajha Doni sangat mirip dengan mas Rendra? Apakah Doni adalah…”


Beragam pertanyaan mulai muncul di otaknya. Keraguan dirinya terhadap sosok Doni memperkuat opininya bahwa Rendra masih hidup.


*****


Keesokan harinya


Luna sangat senang setelah mendapat informasi bahwa dirinya telah lulus progam Master dengan nilai yang sangat memuaskan.


“Selamat ya Luna sayang,” kata Rani sambil memeluk sahabatnya itu dengan bangga. “Aku akan mencari kebaya yang sangat bagus buat acara wisuda kita nanti, sebentar aku akan mencarinya,” imbuh Rani sambil mulai mengotak-atik ponsel.


“Enggak usah Ran, percuma.”


“Maksud kamu?”


“Apa aku bisa berbahagia tanpa mas Rendra? Ini semua tidak akan kudapatkan tanpa bantuan dia Ran.”


“Lunaa sayang, sudahlah. Mas Rendra pasti akan sangat bahagia di sana melihat kesuksesanmu seperti ini. lagi pula kamu harus berfikir ke depan Lun, kamu lah pewaris seluruh perusahan Rendra. Jadi kamu harus mampu menjalankan semua bisnisnya. Apa kamu rela semua kekayaan itu jatuh ke tangan bu Fatma dan Ryan?”


Luna meghembuskan nafas panjang. Apa yang dikatakan Rani tidak salah. Dirinya lah yang bisa mempertahankan semua harta Rendra. Harta ini tidak akan jatuh ke tangan orang yang tidak tepat.


“Iya Ran kamu benar. Tolong siapkan semuanya untuk acara wisuda besok. Aku akan pergi ke kantor,” pamit Luna. Rani tersenyum senang melihat semangat sahabatnya kembali.


Sore ini adalah hari yang melelahkan bagi Luna. Gadis itu sudah mulai mengurus pekerjaan Rendra. Susah memang, tapi dia senang melakukannya. Para karyawan di kantor sangat perhatian dan juga dengan senang hati membantunya.


Sehingga Luna tidak merasa kerepotan jika harus membagi waktu untuk ke kampus dan juga untuk ke kantor.


“Bu Luna apakah perlu saya pesankan taxi untuk pulang?” tegur Bu Inggit saat melihat Luna mengemas barangnya.


“Ah tidak, terimakasih Bu Inggit. Saya membawa motor.”


“Bu Luna masih membawa motor sendiri?” tanya bu Inggit seraya terkejut mendengar jawaban Luna.


“Iya, ada apa Bu?”


“Bu Luna adalah pewaris seluruh kekayaan Tuan Rendra, tapi Bu Luna masih bersikap sederhana seperti ini. Ah, saya faham sekarang. Saya faham mengapa Tuan Rendra mewariskan semua ini untuk Ibu.”


“Ah Bu Inggit sudahlah, jangan membuat saya kembali bersedih dengan mengingat mas Rendra,” ungkap Luna yang membuat perempuan lawan bicaranya itu tersenyum sendu. Masih jelas terlihat bahwa sampai sekarang Luna masih mencoba untuk kuat. “Saya pamit dahulu bu,” pamit Luna yang dibalas dengan anggukan kepala Bu


Inggit.


*****


Luna menghentikan motornya di salah satu pusat berbelanjaan. Gadis itu berjalan untuk mencari tahu sesuatu yang beberapa hari ini menjadi beban fikirannya.


“Apa benar ini toko Ambrena?” tanya Luna pada salah seorang penjaga toko.


“Iya benar Ibu, ada yang bisa saya bantu?”


“Ah saya ingin mencari parfum yang saya tidak tahu namanya, tapi saya sangat hafal dengan aromanya.”


“Oh iya, saya bisa membantu. Kami memiliki katalog produk-produk kami. Ibu bisa mencium aroma dari setiap produk di sana.”


“Baiklah terimakasih.” Luna tersenyum senang.


Luna mulai mencium satu per satu katalog yang ada di hadapannya. Namun parfum yang dia cari tidak berhasil dia temukan jenisnya. Apakah Doni berbohong tentang parfum itu? batinnya.


Sekali lagi Luna membolak balik katalog itu satu persatu dan menciumnya. Hingga gadis itu merasa sedikit pusing. Luna sangat hafal dengan aroma parfum milik Rendra dan itu tidak ada di sini.


“Ah tidak, kami hanya mengeluarkan satu produk untuk jenis parfum itu Tuan. Itu adalah parfum limited edition. Dan kami sudah memiliki pelanggan. Kami tidak mungkin mengeluarkan produk jenis itu lagi Tuan.” Terdengar seseorang sedang berbicara dengan lawan bicaranya.


Luna merasa tertarik dengan apa yang mereka bicarakan. Gadis itu mendekat berusaha mencaritahu lebih banyak tentang parfum yang sedang mereka bicarakan.