PANGERANKU OM-OM

PANGERANKU OM-OM
BAB 36


“Jadi kamu sudah tahu kalau ini akan terjadi?” tanya Luna dengan suara sengau, seperti masih ada air mata yang tertahan di antara mata dan hidungnya. Rendra mengangguk.


“Lalu kenapa kamu tidak mencegahnya Mas?” imbuh Luna lagi.


“Saat inI Mas tidak bisa melakukan apa pun Sayang, mereka bisa saja melakukan apapun kepadamu.”


“Lalu bagaimana dengan harta itu?” wajah Luna kembali sendu, dirinya masih menyalahkan diri sendiri atas hal tersebut.


Rendra tersenyum, “jika semua itu masih menjadi milik kita, kita akan mendapatkannya kembali, percayalah!” ucapnya sambil kembali memeluk Luna.


“Aku tidak mengerti Mas, bagaimana ini semua bisa terjadi? Aku sama sekali tidak memberikan tanda tangan ataupun menyutujui pemindahan kekuasaan itu. Lalu bagaimana ini semua terjadi?”


“Lihatlah!” Rendra menunjukkan sebuah berkas yang pernah Luna bawa dari kantor.


“Apa ini?” tanya Luna yang sangat heran saat melihat kertas putih bersih yang hanya berisi tandatangannya.  Luna membolak-balik kertas itu, sama sekali tidak ada tulisan apapun di sana. Kembali gadis itu memeriksa tanda tangan, dan itu adalah tanda tangan asli miliknya.


“Mas bagaimana ini?”


“Itulah, mereka menjebakmu lewat kontrak dengan perusahaan Roby yang telah kamu tanda tangani. Mereka membuat kontrak itu dengan tinta yang bisa hilang dalam hitungan jam. Dan hanya menyisakan tanda tanganmu. Itulah bagaimana mereka bisa mendapatkan tanda tangan itu Sayang.”


“Hah,” Luna menganga. Gadis itu sama sekali tidak habis fikir seseorang bisa melakukan hal serendah itu. Tak lama air mata itu mengalir lagi. kali ini tiba-tiba menjadi sangat deras, ditambah suara sesenggukan yang membuat Rendra khawatir.


“Luna, Luna jangan menangis Sayang!” Hanya kalimat itu yang bisa dikeluarkan oleh Rendra. Dan ternyata kalimat andalannya tersebut sudah tidak mampu lagi menekan air mata Luna agar tidak jatuh.


“Kenapa aku bodoh sekali Mas, kenapa aku sama sekali tidak berfikir bahwa mereka menjebakku. Roby, Ryan, ahh laki-laki bajingan! aku tidak akan memaafkan kalian.”


“Tidak Luna, tidak, kamu salah Sayang. Kamu perempuan yang sangat hebat. Hanya kamu perempuan yang bisa mengancam ibu mertuanya dengan tongkat bisbol,” ucap Rendra yang sudah tidak tahu bagaiamana cara untuk menghibur istrinya. Ya semoga kalimat konyol itu bisa sedikit menghibur Luna.


“Mas, kamu jangan bercanda!” bentak Luna yang membuat Rendra menciut. Hei, aku hanya ingin menghibur tapi kenapa aku juga kena marah.


“Luna, aku sudah tahu ini akan terjadi. Aku sudah memperhitungkan semuanya. Kita hanya tinggal menunggu tanggal mainnya untuk membalas mereka. Ya, anggap saja saat ini kita waktunya libur.” Ucapan konyol dari mulut Rendra kembali membuat Luna menyeringai.


“Eitss, tenang, tenang dulu Sayang! Inilah bisnis Luna. Kita harus mampu membaca waktu dan suasana untuk mendapatkan tujuan kita. Kita tidak boleh gegabah. Semua harus difikirkan dengan matang.”


Kalimat yang tidak terlalu panjang itu akhirnya mampu membuat Luna diam dan juga menghentikan air matanya. “Maksudmu?” tanyanya yang masih belum faham dengan apa yang Rendra katakan.


Rendra mengambil sesuatu dan menunjukkannya ke sang istri. Sebuah tiket paket liburan dan bulan madu di hotel mewah selama seminggu. “Biarkan Ryan melakukan apa yang dia inginkan saat ini. Kita cukup memperhatikan saja. Ya, anggap saja kita waktunya liburan. Lagi pula, selama menikah kita belum pernah menghabiskan waktu berdua. Iya sih, waktu itu kan ada drama tidak mau jatuh cinta sama om-om.” Rendra berkata sambil melirik ke arah istrinya.


Luna masih mengaga, gadis itu tidak percaya dengan apa yang baru saja Rendra katakan. “Kamu serius Mas?”


Rendra kembali tersenyum, “Mang Ujang telah siap di depan. Semua kebutuhanmu juga telah disiapkan oleh bi Inah. Kita berangkat sekarang,” ucap Rendra sambil menggandeng erat tangan sang istri.


“Kamu yakin kita mau liburan? Di saat seperti ini?”


“Ihh, apaan sih,” balas Luna sambil malu-malu.


*****


“Waow, bagus sekali Mas,” ucap Luna saat baru saja menginjakkan kaki di kamar hotel VVIP yang telah Rendra sewa.


Gadis itu segera berlari membuka korden jendela dan tampaklah pantai berpasir putih dengan air yang tampak biru seluas mata memandang. Langit biru bersih dengan sedikit bercak putih menambah sempurnanya ciptaan Tuhan yang satu ini. Luna menutup mulutnya yang menganga lebar.


“Kamu suka?” tanya Rendra yang  tiba-tiba memeluk Luna dari belakang.


Luna membalikkan badan, mengecup pipi kanan suaminya sambil berkata, “bagus banget, makasih Sayangku.”


Rendra tersenyum senang melihat kebahagiaan dari wajah istrinya. “Mau melihat yang sebelah sana?” tawar Rendra yang sontak dibalas dengan anggukan kepala oleh Luna.


Keduanya pun berjalan menuju balkon kamar mereka. Kali ini Luna sudah tak mampu lagi menutup mulutnya yang telah terbuka beberapa centimeter tersebut.


Di sisi kiri, tampak sebuah bukit kecil. Bukit itu sangat rindang dengan pemandangan hijau yang dia hidangkan. Belum lagi taman-taman buatan dan juga kolam kecil yang telah dibuat sedemikian rupa indahnya hingga membuat setiap orang yang melihat mampu melupakan semua beban di hidupnya. Mereka akan merasa hidup kembali dalam dunia yang berbeda.


Rendra hanya tersenyum melihat ekspresi sang istri tanpa berani berkata apapun. Ah laki-laki itu tidak ingin merusak suasana dengan menggoda perempuan buas di hadapannya itu.


Luna memejamkan mata sambil tersenyum. Gadis itu kembali mencoba mengingat mimpi-mimpi masa kecilnya. Mencoba mengingat keinginan dan harapan-harapan yang telah dia ciptakan untuk dirinya sendiri.


Dimana dirinya menjadi seorang putri dan ada laki-laki tampan yang menjadi pangerannya. Di tengah pantai, sang pangeran datang mengulurkan tangan dan meraihnya. Kini, pangeran itu telah ada di hadapannya. Bukan hanya pangeran bertubuh kekar, berwajah tampan, namun pangeran miliknya adalah laki-laki berhati emas yang memiliki kesabaran lebih luas dari samudra.


“Terimakasih Mas,” ucap Luna lirih setelah dirinya membuka mata.


“Kamu sudah mengucapkannya berkali-kali Sayang,” jawab Rendra sambil mencubit pipi Luna gemas.


“Bahkan rasa terimakasih di seluruh dunia tidak akan bisa setara jika dibandingkan kebaikanmu kepadaku Mas. Kesabaranmu, cintamu, kebaikanmu, semua itu aku tidak mungkin bisa membalasnya.”


“Ssstt, jangan katakan apapun! Aku mencintaimu Luna. Dan kebahagiaan terbesar dalam hidup ini adalah saat melihatmu bahagia. Jadi jangan pernah meneteskan air matamu kembali, Sayang.”


Luna pun memeluk erat tubuh sang suami. “Jangan pernah tinggalkan aku Mas, aku tidak bisa hidup tanpamu.”


“Aku akan selalu bersamamu,” jawab Rendra sambil mengangkat dagu sang istri. Luna menutup mata, gadis itu sudah siap jika sebuah benda kenyal akan mendarat di bibirnya.


Namun, krucuuk, krucuk, krucuk, terdengar suara cacing dari perut Luna.


“Kamu lapar?” tanya Rendra sambil melepas pelukannya. Luna hanya mengangguk pelan sambil tersenyum malu.


“Baiklah Sayang, kita makan siang.”