PANGERANKU OM-OM

PANGERANKU OM-OM
BAB 49


Luna pulang ke rumah dengan lesu. Berbagai macam fikiran muncul di otaknya. Siapa bu Diana? Apa hubungan bu Diana dengan kalung ini? Apakah ini ada kaitannya dengan Rendra?


Ah, memikirkan hal itu membuat gadis cantik tersebut menjadi sedikit pusing. Penglihatannya mulai rabun. Hingga tanpa sengaja tuukkk, Luna menabrak tiang di teras rumahnya.


“Aduhhh,” teriaknya.


Gadis itu mengelus kepalanya yang terasa sakit, “pasti ini karena kualat sama suami,” ucapnya sedikit menyesali kepergiannya makan bebek goreng yang tanpa sepengetahuan sang suami.


Luna menghela nafas panjang setelah kepalanya sudah tak terasa sakit. Dia masuk ke dalam rumah yang tampak sepi.


“Di depan sudah ada mobilnya, dimana mas Rendra?” fikir Luna.


Luna naik ke atas dan menuju kamar, mencari keberadaan sang suami. Namun tidak ditemukan suaminya di sana. Gadis itu mulai gelisah dan melangkahkan kakinya kembali untuk keluar kamar dan mencari Rendra.


“Mas Rendra ngapain?” tanya Luna saat melihat sang suami tengah di meja kerjanya sambil membaca beberapa berkas dengan serius.


Laki-laki itu terlihat tidak baik-baik saja. Luna mendekat saat Rendra tidak mendengar pertanyaannya. “Mas Rendra ngapain?” ulangnya.


“Hai Sayang, bagaimana keadaanmu?” Bukan menjawab pertanyaan Luna, Rendra malah mengajukan pertanyaan yang menurutnya tidak penting. Sudah tahu dirinya berdiri dengan tegak, masih saja ditanya seperti itu.


Luna juga tidak menjawab pertanyaan suaminya, gadis itu mendekati sang suami dan ikut membaca berkas-berkas yang dirasa dia mengetahuinya.


“Ini kan profil dan surat kerjasama dengan PT Bina Karya Mas?”


“Iya, ada sedikit masalah dengan managerialnya. Mas harus mempelajarinya.”


“Apa aku boleh membantu?” tawar Luna sambil terus membaca berkas, gadis itu tahu benar perusahaan yang sedang mengalami masalah tersebut. Saat Rendra tidak ada, Luna lah yang menanganinya.


Rendra memandang istrinya sekilas, kemudian mengulumkan senyum dan memberikan beberapa berkas kepadanya.


“Kamu pintar sekali Sayang,” ucap Rendra setelah Luna menjelaskan beberapa masalah dan cara mengatasinya.


“Iya dong,”  balas gadis itu dengan gaya sombong yang pastinya terlihat lucu.


Ya, benar sekali. Dengan mudah dan gamblang Luna menjelaskan cara mengatasi masalah di perusahaan binaan Rendra tersebut. Padahal sejak berjam-jam tadi Rendra berusaha mencari solusi, namun Luna hanya butuh waktu beberapa menit untuk menyelesaikannya.


“Baiklah, kalau begitu mas akan pergi ke kantor dan segera menyelesaikannya. Kamu istirahat dan makan bubur yang telah mas siapkan!” Ujar Rendra kemudian segera bergegas keluar dari ruangannya.


Luna ingin sekali mencegah kepergian sang suami. Ada banyak hal yang harus diceritakannya tentang bu Diana. Namun sepertinya saat ini tidak tepat. Lagipula dirinya juga belum tahu psti kebenaran itu, Luna tidak ingin Rendra kecewa jika ternyata bu Diana yang ada saat ini bukanlah ibu kandung Rendra.


Sementara di tempat lain.


Bu Fatma dan Ryan sangat gelisah. Uang mereka telah menipis. Orang-orang yang mereka minta untuk mencari keberadaan bu Diana terus meminta uang.


“Tutup mulutmu Rojak! Aku ingin kamu membawa Diana ke mari hidup-hidup. Setelah itu aku akan membawa uangnya untukmu.” Teriak Bu Fatma saat berbicara di telepon, kemudian melempar ponselnya.


“Tenanglah Ma!” kata Ryan mencoba menenangkan dengan memberikan segelas air putih kepada ibunya itu.


“Kita tidak bisa diam Ryan, kita harus keluar dan mencari sendiri keberadaan perempuan gila itu.”


“Tapi bagaimana caranya Ma? Jika polisi melihat maka tamat riwayat kita.”


Bu Fatma tersenyum ke arah putranya. Perempuan itu memiliki ide cemerlang untuk hal ini.


“Badut”


“Ya, kita akan menjadi badut untuk menyamar.”


“Apa?”


*****


Malam ini Rendra tidak bisa memejamkan mata. Banyak sekali pekerjaan yang harus dikerjakannya. Apalagi semua orang saat ini telah mengetahui identitas aslinya sebagai Rendra. Semua karyawan sangat senang mengetahui hal ini. Beberapa investor dan juga perusahaan-perusahaan kecil binaan yang sempat mundur karena ulah Ryan, kini kembali lagi untuk bekerjasama.


Ya, semua orang sangat percaya kepada Rendra. kehilangan Rendra merupakan hal yang sangat berat bagi mereka. Dan kini, saat mereka telah kembali mau tidak mau Rendra harus berjibaku dengan pekerjaan-pekerjaan yang tiada habisnya. Apalagi beberapa hari yang lalu dirinya juga disibukkan dengan menunggu Luna di rumah sakit. Sehingga membuat pekerjaan menjadi berkali-kali lipat.


Laki-laki itu melihat ke arah tempat tidur. Tampak Luna tengah terdidur pulas di sana. Gadis periang itu awalnya bersikukuh ingin menemani suaminya untuk bekerja malam ini. Tapi belum ada satu jam menemani, sudah tidur duluan.


Rendra melanjutkan pekerjaannya. Laki-laki itu mengernyit dahi saat mengingat sesuatu. “Dimana aku menaruhnya?” katanya pada diri sendiri.


Laki-laki itu pun bergegas ke ruang kerjanya. Membuka beberapa lemari untuk mencari sesuatu. Namun matanya tertarik pada kotak peti kecil yang berada di sudut lemari. Rendra pun mengambilnya. Ada sedikit senyum yang tersungging dari bibirnya, senyum bahagia namun terlihat sendu.


“Ibu,” ucapnya saat melihat sebuah foto yang berada di dalam peti kecil tersebut.


Peti kecil itu berisi foto ibu kandungnya, dan juga beberapa foto masa kecilnya. “Ibu, aku sangat merindukanmu. Semoga engkau selalu bahagia. Jika bisa, aku ingin sekali mengenalkan Luna kepadamu Bu. Ibu pasti sangat senang bertemu dengannya.” Rendra terus memandang foto sang ibu yang tampak begitu cantik.


“Mas….” Sebuah suara yang pasti membuat Rendra meninggalkan pekerjaannya.


Laki-laki itu segera berjalan keluar dari ruang kerjanya dan kembali ke kamar. sementara peti kecil itu lupa dia kembalikan ke tempatnya.


“Kamu bangun Lun?”


“Mas Rendra kenapa biarin aku ketiduran sih? Kan aku pengen nemenin kamu Mas,” ucap Luna sambil mengucek-ucek matanya.


“Kamu tidur pulas sekali Sayang, tidak apa-apa sebentar lagi juga selesai.”


Tapi aku pengen nemenin kamu Mas..” rengek Luna yang membuat Rendra harus mempertebal kesabarannya menghadapi makhluk yang diciptakan dari tulang rusuknya itu.


“Yuk, Mas temani. Kamu tidur lagi ya Sayang. Kamu harus banyak istirahat, kondisi kamu masih belum stabil.” Rendra menggendong tubuh Luna dan meletakkannya di tempat tidur dengan pelan.


Eh tapi, tidak ada semenit dari Rendra meletakkan tubuhnya, Luna sudah memejamkan mata dan tertidur kembali. “Lah cepat sekali,” kata Rendra sambl tertawa melihat kelakuan istrinya. Dielusnya kening Luna lembut kemudian dikecup. “Aku sangat mencintaimu,” bisiknya. Rendra pun kembali ke tempat duduknya semula, kemudian melanjutkan pekerjaan.


Ah Luna, beruntung sekali dirimu mendapatkan Rendra. Laki-laki yang tampan, kaya raya, penuh perhatian, penuh cinta, pengertian, setia. Oh Tuhan, sisakan satu laki-laki yang seperti ini.


*****


Luna mulai membuka mata dengan malas. Gadis itu mencium aroma bubur yang membuat kepalanya pusing. Bagaimana tidak, sudah dua minggu lebih makanan seperti itu terus masuk ke dalam mulut dan pencernaannya. Hingga membuat Luna ingin kembali memejamkan mata dan melanjutkan mimpi makan rawon di depot langganannya.


Luna melirik jam di dinding, sudah menunjukkan pukul 08.30. “Hahh,” ucapnya sambil segera merubah posisi karena terkejut. “Bagaimana bisa aku bangun sesiang ini?” ucapnya kemudian melihat ke sekeliling. Sudah sepi, Rendra pasti sudah berangkat ke kantor.


“Aahh, istri macam apa diriku ini,” racaunya sambil menjambak rambutnya sendiri.  Gadis itu merasa tidak bisa menjadi istri yang baik karena tidak bisa melayani suaminya. Bahkan suaminya yang selalu melayani dirinya.


Luna segera mengambil ponsel di nakas hendak memanggil Rendra melalui sambungan telepon. Namun layar di ponselnya lebih dahulu memperlihatkan nama RANI yang menelpon dirinya.


“Halo, iya Ran. Apa? Bu Diana diculik.”