PANGERANKU OM-OM

PANGERANKU OM-OM
BAB 20


Malam ini Luna tidak bisa memejamkan mata. Banyak sekali fikiran yang tengah mengganggu otaknya saat ini. Bayangan akan Ryan, masih belum bisa juga hilang. Kenapa aku merasa seperti ada yang salah? Aku seperti pernah melihat laki-laki tu, tapi dimana? Dan kenapa sampai malam tiba pun mama belum juga ke makam mas Rendra? “Ah, aku terlalu berfikiran lebih,” ucapnya seorang diri.


Gadis itu beranjak dari tempat tidurnya, menyalakan lampu dan mengambil novel “De Luna”. Kembali Luna membuka halaman yang belum dia baca, membaca satu persatu kata yang mampu membuatnya melayang. Merasakan cinta Rendra yang sepertinya masih ada di sampingnya.


Jika aku tiada, biarlah hanya diri ini yang tiada. Cintaku akan tetap utuh untukmu.


Tersenyumlahsayang! Teruslah berbahagia! Seperti kupu-kupu yang dengan cantiknya selalu


mengepakkan sayap.


Beberapa kalimat di novel itu yang selalu dibaca berulang-ulang oleh Luna. Tidak ada kata bosan untuk terus mengulang. Rendra seperti kembali hadir di dekatnya.


“Aku merindukanmu Mas, aku sangat merindukanmu,” ucap Luna lirih sambil memejamkan mata. mencoba masuk ke relung hatinya, merasakan cinta yang makin hari makin besar untuk almarhum sang suami.


Luna terhenyak dari lamunannya, berusaha menguasai diri saat dirinya mendengar suara dari luar kamarnya.


“Apa itu?” ucapnya sambil berjalan ke arah pintu. Ini sudah jam satu malam, apa bik Inah belum tidur? fikirnya. Ya, sejak kepergian Rendra , Luna meminta bik Inah untuk tinggal di rumah ini menemaninya.


Luna membuka pintu kamarnya perlahan, mengeluarkan sedikit kepalanya untuk melihat apa yang terjadi. Betapa terkejutnya gadis itu saat melihat seorang laki-laki yang tak asing baginya tengah berjalan sambil memeluk seorang perempuan berpakaian minim. Dari cara mereka berjalan terlihat bahwa keduanya sedang dalam keadaan mabuk.


“Apa yang dilakukan Ryan? Siapa perempuan yang bersamanya?” tanya Luna seorang diri.


Gadis itu kembali masuk ke dalam kamar, kembali fikiran buruk menghampiri otaknya. Apa yang terjadi dengan keluarga ini? Kenapa sepertinya mereka sama sekali tidak berduka atas kepergian Rendra?


*****


Keesokan hari


Luna tampak sibuk dengan buku-buku yang dibawanya. Gadis itu ingin kembali ke kampus dan segera menyelesaikan kuliahnya. Kesedihan yang berlarut-larut hanya akan membuat dirinya terjebak dalam situasi.


Ibunya benar, masa depan masih panjang. Akan ada banyak tantangan dan ujian di masa depan. Cinta Rendra akan selalu membersamai langkahnya.


“Kamu mau kemana Lun?” sebuah suara membuat Luna sedikit terkejut.


“Eh Mama, mau ke kampus Ma. Mama mau kemana?” Luna balik bertanya karena dilihatnya perempuan yang dipanggilnya mama itu tengah berpakaian rapi dan glamor.


“Mama akan bertemu dengan teman-teman mama. Ya, mumpung mama di sini jadi sekalian bisa reuni,” jawabnya santai.


Luna sedikit mencibir, sejak datang, perempuan ini belum pergi ke makam sang putra. Namun dengan santai akan reuni dengan teman-temannya. Seperti itukah?


“Ah Ma, Luna ingin bilang sesuatu.”


“Tadi malam Luna melihat kak Ryan membawa seorang perempuan ke rumah ini. sepertinya mereka sedang mabuk. Apa Mama sudah melihatnya?”


“Apa-apaan kamu Lun? Apakah seperti itu cara kamu memperlakukan kakak ipar kamu? Kamu menjelek-jelekkan Ryan, hahh.”


Hal yang sama sekali tidak pernah terfikir oleh Luna. gadis itu tidak berfikir jika ibu mertuanya akan marah saat dirinya mengatakan hal tersebut.


“Tidak Ma, tidak seperti itu. Luna hanya…”


“Luna, jangan pernah mengurus masalah orang lain! Urus saja diri kamu sendiri,” bentak sang ibu mertua.


Luna hanya mengangguk, kemudian segera keluar dari rumah untuk berangkat ke kampus.


*****


“Hah, ibunya Rendra bilang kayak gitu? Enak saja, mau ambil alih warisannya Rendra. Itu surat wasiat kan udah jelas Lun, Rendra mewariskan semuanya untuk kamu. Terus kenapa harus dialihkan ke Ryan?” cerocos Rina setelah Luna menceritakan apa yang terjadi di rumahnya.


“Kamu apaan sih Rin, aku jadi istrinya mas Rendra kan juga baru sebentar. Harta yang mas Rendra punya juga bukan perolehannya bersamaku. Lagipula Rendra masih punya adik-adik yang….”


“Rendra pasti sudah memikirkan semuanya Lun. Tidak mungkin laki-laki sepintar Rendra akan mewariskan seluruh hartanya ke kamu, istri yang baru saja dinikahinya. Pasti ada sesuatu yang menjadi pertimbangannya Lun,” imbuh Rina dengan wajah serius.


 “Aku enggak tahu Ran, aku pusing.”


“Yasudah habiskan dulu makanan kamu, aku ke kamar mandi sebentar,” ucap Rani kemudian meninggalkan Luna yang tengah menyantap makan siang di kantin kampus.


Luna terus memegang kepala, rasa nyut nyut tidak bisa hilang dari bagian atas tubuhnya itu. Rasa kehilangan yang masih dalam, ditambah masalah harta warisan membuat gadis itu sangat bingung.


Tiba-tiba sebuah aroma muncul, aroma yang mengingatkan Luna akan sosok yang sangat dirindukannya. “Mas Rendra,” nama itu keluar dari mulutnya bersamaan dengan aroma kuat yang dia cium.


Luna melihat ke sekelilingnya, hal bodoh muncul di fikirannya. “Mas Rendra di sini,” ucapnya dengan senyum lebar sambil matanya terus mencari.


“Lun, ada apa?” Tiba-tiba seseorang memegang pundaknya. Luna terkejut saat melihat Rani yang kini sudah berada di belakangnya.


“Mas Rendra, Mas Rendra di sini Ran,” ucap Luna dengan senyum lebar.


Rani segera memeluk sahabatnya itu, “sudahlah Lun, suamimu pasti sudah tenang di sana. berdoa saja untuk mas Rendra ya Lun.”


Kembali air mata Luna jatuh. Untuk sesaat gadis itu merasa sangat bahagia, aroma parfum yang seringkali Rendra pakai membuat dirinya merasa jika hadir di tempat ini. Namun tidak, Rendra telah melupakannya, Rendra meninggalkannya untuk selama-lamanya.