PANGERANKU OM-OM

PANGERANKU OM-OM
BAB 43


“Kamu sudah bangun?” tanya Rendra saat melihat Luna mulai menggeliat sambil membuka mata perlahan.


Luna tersenyum, gadis itu memutar tubuhnya ke kiri dan ke kanan untuk mengurangi rasa kaku di kaki dan punggungnya. “Kamu mau ke kantor Mas?” tanya Luna saat melihat sang suami telah rapi dengan kemeja dan jasnya. Eits tak lupa kumis dan juga rambut palsunya. Rendra masih dalam masa penyamaran.


Rendra mengangguk, “kamu mau ikut?”


Luna sedikit berfikir, kemudian menganggukkan kepalanya. “Aku tidak bisa jauh-jauh dari suamiku,” rengeknya manja.


Rendra hanya tersenyum memandang istri manjanya itu. “Segeralah bersiap! Aku akan menunggumu untuk sarapan di bawah.”


“Siap suamiku Sayang.”


Luna pun segera bersiap. Setelah membersihkan diri, gadis itu dengan cepat memoleskan beberpa krim ke wajahnya. Tidak susah, Luna sudah terbiasa melakukan semua kebutuhannya sendiri.


Drrtt.. drrtt.. ponsel Luna berbunyi, sebuah nama RANI muncul di layar.


“Hai Ran, apa kabar?” ucap Luna dengan wajah berbinar. Pasalnya sudah beberapa hari ini mereka mengobrol.


“Hai Lun aku baik, bagaimana keadaanmu?”


“Aku juga baik, ada apa Ran? Kamu sepertinya terlihat bingung.”


“Iya, aku ingin bertanya apakah kamu measih menyimpan nomor telepon psikiater yang dulu?”


“Ah, iya, iya sepertinya aku masih menyimpannya. Kamu membutuhkannya?”


“Ya, aku sangat membutuhkannya Lun.”


“Apa yang terjadi Ran?”


“Kemarin ibuku baru saja bertemu teman lamanya, teman yang dia kira sudah meninggal ternyata masih hidup. Tapi keadaannya sangat tidak baik, wanita itu seperti mengalami gangguan jiwa.”


“Ohh, begitu.”


“Aku membutuhkan psikiater itu Lun, ibuku ingin membawa sahabatnya ke psikiater.”


“Baiklah, aku akan segera mengirim kontaknya untukmu.”


Luna memutuskan panggilan telepon. Entah kenapa fikirannya tak tentu saat ini. Ada sesuatu yang mengganjal hatinya.


“Luna, kamu sakit?” tanya Rendra saat keduanya tengah sarapan bersama.


“Ah enggak,” jawab Luna dengan sedikit kaget.


“Ada apa Sayang?” Rendra mencari tahu, pasalnya sedari tadi sang istri seperti tidak memiliki selera untuk makan. Dan ini jarang sekali terjadi di dunia perLunaan.


“Ah Mas, sepertinya aku tidak jadi ikut denganmu ke kantor. Bolehkah aku ke rumah Rani?”


Rendra sedikit terkejut dengan ucapan Luna. bukan dia melarang, namun laki-laki itu sedikit khawatir. “Ada apa dengan Rani?”


“Ah tidak, tidak ada apa-apa. Tadi Rani menelfonku dan meminta nomor telepon psikiater. Dia bilang teman ibunya datang dan membutuhkan psikiater. Aku merasa penasaran dan ingin mengetahui lebih jauh.”


“Lun, tidak baik ikut campur urusan orang lain,” ucap Rendra yang takut jika istrinya terlewat batas.


“Enggak Mas, bukan seperti itu. aku hanya merasa penasaran. Lagi pula, aku juga sudah sangat lama tidak bertemu ibunya Rani, aku ingin menemuinya.


“Baiklah, tapi aku tidak bisa mengantarmu Sayang. Mang Ujang yang akan mengantar.”


Luna pun mengangguk sambil berucap terimakasih kepada sang suami yang selalu mengerti dirinya.


Luna mengantar Robert atau Rendra suaminya ke depan sebelum laki-laki itu berangkat ke kantor. Keduanya tampak bercanda ria seperti layaknya suami istri pada umumnya.


Luna memutar bola matanya, “lingeri lagi?” tanyanya sambil memonyongkan mulutnya, apalagi yang ada di otak suaminya selain hal begituan.


Rendra tersenyum manyun, istrinya benar. Entahlah, laki-laki itu seperti ketagihan dengan pesona dan gairah yang Luna berikan.


“Ih Mas Rendra ih, capek ah,” ucap Luna sambil memukul manja dada sang suami dengan manja.


Namun di salah satu sudut, tampak sepasang mata yang tengah memperhatikan keduanya. Yang kemudian


tersenyum menyeringai, sambil berkata, “waow kalian sudah dekat, kamu memang kucing liar Luna.”


Tapi tak lama senyum itu berubah menjadi sebuah kepanikan yang terpancar dari wajahnya. Segera laki-laki yang tak lain adalah Ryan tersebut berbalik arah dan menekan pedal gas mobilnya.


*****


Sampai di rumah Rani.


Luna segera masuk ke rumah yang sangat familiar baginya itu. rumah itu sudah seperti rumahnya sendiri. Luna pun juga telah menganggap keluarga Rani sebagai keluarganya sendiri.


Namun mata Luna tak mampu berkedip saat melihat seorang wanita yang pernah dia temui tengah duduk di ruang tamu sambil menggendong seorang boneka bayi.


“Ibu,” ucap Luna setelah ingat bahwa perempuan yang dilihatnya adalah perempuan yang pernah dia temui.


Ya, perempuan gila yang pernah dia temui di minimarket. Perempuan yang itu. Luna tersenyum, tidak menyangka jika dirinya akan bertemu kembali dengannya. Bahkan perempuan ini adalah teman ibunya Rani. Ah dunia memang sempit.


“Luna,” sebuah suara dari dalam mengagetkan gadis itu.


“Tante, Rani, ngagetin aja,” balas Luna kepada orang yang baru saja menyapanya itu.


“Apa ini teman tante yang tadi Rani ceritakan?” tanya Luna sambil mencium dan memeluk perempuan yang juga sudah dianggapnya sebagai ibu itu.


“Iya Lun, ini teman tante. Kami terakhir bertemu saat dia menikah sekitar 30 tahun yang lalu bahkan lebih. Terakhir berita yang beredar menyebutkan bahwa Diana sudah meninggal. Tapi ternyata berita itu salah, Diana kembali, dia masih hidup,” ungkap ibu Rani.


“Lalu bagaimana tante menemukannya?”


“Entahlah, mungkin memang sudah takdir Tuhan. Kemarin kami bertemu di taman. Tante pun juga tidak percaya jika Tuhan mempercayai tante untuk menjaga Diana. Tapi begitulah, keadaan Diana sangat mempihatinkan. Kondisi jiwanya terganggu.”


“Bagaimana dengan keluarganya Tante?”


“Diana adalah yatim piatu, menurut info yang beredar, suami Diana juga sudah meninggal. Tapi dia meninggalkan seorang putra. Tapi akan sangat sulit untuk menemukannya, apalagi kondisi Diana seperti ini.”


Luna mengangguk mengiyakan.


“Perempuan biadab, kurang ajar! Pergi! Pergi!” Tiba-tiba ibu Diana berteriak dan mulai mengamuk. Luna, Rani, dan juga ibunya, segera mendekatinya dan berusaha menenangkan.


“Dia putraku, kamu tidak berhak mengambilnya. Itu putraku, putraku, putraku!”


Dalam kekacauan wanita itu selalu memanggil putranya. Luna merasa iba melihatnya. Wanita ini pasti memiliki masalalu yang buruk. Hingga menganggu kesehatan jiwanya.


“Diana, sadar Di, sadar,” ucap ibu Rani yang mulai meneteskan air mata. Seorang sahabat memang tidak akan bisa melihat sahabatnya menderita.


“Sepertinya ibu Diana memiliki masa lalu yang buruk Tante,” kata Luna setelah ketiganya berhasil menenangkan bu Diana.


“Aku pun juga merasa demikian Lun. Pasti ada sesuatu yang membuatnya seperti ini. Dan aku yakin, hanya putranya lah yang masih membuat dia bertahan.”


“Jangan khawatir! Kita pasti akan menyembuhkannya. Setelah itu kita akan membantu bu Diana mencari putranya."


Ketiganya pun memandang bu Diana dengan iba. Sepertinya mereka bisa merasakan penderitaan yang tengah dialami perempuan itu. Sambil berdoa agar keadaan perempuan itu segera membaik.