
"Ren, dimana ayahmu Nak?"
"Ayah, ayah.." Rendra terbata.
"Ibu belum melihat ayahmu sama sekali Ren. Dimana dia sekarang? Dia pasti sangat merindukan ibu."
Rendra memandang Luna dalam. Tidak tahu apa yang harus dikatakan nya saat ini. Melihat wajah Luna adalah kekuatan terbesar baginya agar bisa menghadapi semua masalah.
"Ren, kenapa kamu diam Nak? Dimana ayahmu?"
"Ayah sudah meninggal Bu." Rendra berkata pelan. Bersamaan dengan perubahan wajah sang ibu dari yang awalnya berbinar menjadi sendu. Bu Diana terdiam beberapa saat, tubuhnya sedikit oleng hingga Luna harus
membantunya untuk duduk kembali.
"Ibu, ibu baik-baik saja?" tanya Luna.
Bu Diana tidak menjawab, ekspresi wajahnya yang memperlihatkan bahwa perempuan itu tengah menghadapi kesedihan yang luar biasa.
"Kalian pulanglah! Ibu bisa di sini sendiri." Kalimat bu Diana yang beliau katakan dengan pelan membuat Luna dan Rendra iba.
"Tidak Bu, kita akan menemani ibu di sini." Rendra menjawab.
"Pulanglah Ren!" Kembali bu Diana berkata, kali ini perempuan itu sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan menarik selimut.
Rendra tidak bisa melihat hal ini, laki-laki itu hendak berkata kepada ibunya. Namun Luna menarik tangannya dan memberi tanda agar Rendra tidak melakukan apapun.
"Baik Bu, Luna dan mas Rendra akan pulang. Besok kami kembali. Ibu istirahat ya." Ucap Luna, kemudian mengecup punggung tangan sang ibu dan keluar. Rendra pun demikian, meskipun laki-laki itu masih tidak
mengerti dengan apa yang Luna fikirkan. Sementara bu Diana tidak mengatakan apapun. Perempuan itu hanya diam.
"Lun, apa ini tidak salah?" tanya Rendra saat keduanya sudah di luar kamar perawatan bu Diana.
"Ini salah mas, tapi tidak ada yang lebih baik selain meninggalkan ibu. Ibu membutuhkan waktu untuk sendiri. Kehilangan suami yang sangat dia cintai dan dia rindukan memberikan luka dan kesedihan yang sangat dalam.” Luna seperti mengerti apa yang tengah dirasakan oleh ibu mertuanya itu. Sama halnya dengan dirinya saat kehilangan Rendra waktu itu.
Rendra mengangguk berusaha memahami apa yang perempuan-perempuan itu inginkan.
“Sebaiknya kita meminta perawat untuk menjaga ibu malam ini dan menghubungi kita jika ada apa-apa,” imbuh Luna.
*****
“Bagaimana keadaan bu Diana kak?” tanya Max saat Luna dan Rendra masuk ke dalam rumah. Max sedari tadi cemas memikirkan perempuan yang telah dianggapnya sebagai ibunya sendiri itu.
Rendra hanya melihat adiknya sekilas, tersenyum simpul, kemudian berjalan masuk menuju kamar. Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya.
Hal ini membuat Max sedih, dia merasa keadaan bu Diana semakin memburuk.
“Ibu baik Max, berkat doa kamu,” jawabnya simpul.
“Syukurlah, lalu kenapa kak Rendra tampak sedih?”
“Tidak, tidak apa-apa. Ada berita yang sangat bagus. Ibu telah mengingat semuanya, beliau telah tahu bahwa mas Rendra adalah putra kandungnya.”
“Waw, itu berita yang sangat bagus Kak. Akhirnya doa kita selama ini terkabul. Tapi kak Rendra seharusnya bahagia dengan hal ini Kak.”
“Inilah hidup Max, satu hal kita dapatkan, satu lagi harus kita buang. Dengan kembalinya ingatan ibu, ibu mendapatkan putranya kembali, namun ibu kehilangan suaminya.”
Max terdiam, selama ini mereka sama sekali tidak memikirkan hal itu. Padahal itu adalah sebuah pukulan untuk bu diana.
“Semoga semua segera kembali seperti dulu. Ibu memerlukan waktu untuk menerima kenyataan ini.”
Luna pun mengakhiri obrolannya dengan Max. gadis itu pun memutuskan untuk segera menemui sang suami. Jika bu diana merasa sangat sedih karena kehilangan suaminya, Rendra pun pasti akan merasakan hal yang sama. Hal ini seperti membuka kembali luka yang belum usai.
Sementara Max masih terdiam di tempat sebelumnya. Laki-laki itu pun mulai berfikir. Apakah bu diana bisa menerimanya kembali? Setelah bu diana tahu bahwa bu Fatma atau ibu kandung Max sendirilah yang telah membuatnya terpisah dari keluarga. Membuat bu diana tersiksa di beberapa puluh tahun kehidupannya. Mungkin Rendra dan Luna bisa menerima dirinya dan dengan senang hati menampungnya di rumah ini. Tapi bagaimana dengan bu Diana?
Rasa gundah memenuhi fikiran Max. Di sisi lain dirinya turut bahagia atas kembalinya ingatan bu Diana. Tapi di sisi lain, dirinya juga sangat takut apabila bu Diana akan marah setelah tau siapa sebenarnya dirinya.
****
“Mas, kamu sedang apa?” Luna memeluk sang suami dari belakang saat dilihatnya Rendra tengah memandang langit yang gelap tanpa rembulan.
Rendra membalikkan tubuhnya membalas pelukan hangat sang istri. “Aku terus memikirkan ibu.”
“Aku tahu, aku pun juga memikirkannya. Hal ini sama sekali tidka kita fikirkan sebelumnya. Itulah yang membuat kita menjadi shock. Tapi percayalah Mas, ibu pasti bisa melewati semuanya. Hanya butuh waktu dan dukungan
dari kita.”
Rendra mengangguk mengiyakan. “Aku berniat mengadakan pesta,” ucap Rendra dengan antusias.
“Pesta?”
“Ya, pesta syukuran yang akan dihadiri oleh orang-orang terdekat dan juga kolega kerja. Mungkin dengan acara itu ibu akan bisa sedikit melupakan apa yang telah terjadi.”
“Ide bagus, aku akan mempersiapkan semuanya.”
“Pasti, lakukan apa yang kamu inginkan.” Kata Rendra sembari mengecup kening istrinya. “Sekarang segeralah tidur! Akhir-akhir ini wajahmu sering terlihat pucat. Mungkin karena kamu sering tidur larut malam Sayang.”
Luna mengiyakan perkatakan Rendra. Gadis itu segera beranjak dan mempersiapkan diri untuk tidur malam ini. Rendra tidak salah, dirinya pun juga merasakan hal yang suaminya katakan. Sering lemas, pusing, mual, apalagi
di pagi hari. Ah tapi sudahlah, mungkin itu hanya lelah.