PANGERANKU OM-OM

PANGERANKU OM-OM
BAB 71


Rendra berjalan ke lantai atas hendak masuk ke kamarnya. Selesai menghabiskan sarapannya laki-laki itu ingin mandi dan juga bermanja-manja dengan istrinya. Akan tetapi langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamar. Luna masih marah dan ini sangat tidak menyenangkan.


Pelan-pelan Rendra membuka pintu. Meskipun jantungnya berdegup kencang karena takut melihat wajah marah istrinya, namun laki-laki itu tetap memilih menjadi suami yang gentle.


Rendra membuka pintu tanpa suara sedikit pun. Hidupnya benar-benar kacau setelah istrinya marah, bahkan di rumah sendiri pun laki-laki itu merasa takut.


Akan tetapi apa yang terjadi, sebuah pemandangan yang membuatnya tersenyum-senyum sendiri. Saat ini luna tengah berdiri di depan cermin dengan hanya memakai pakaian dalam dan tengah memamerkan perut buncitnya kepada cermin.


"Apakah aku gendut? Tidak, aku tidak gendut, hanya sedikit lebih berat dari biasanya." Pertanyaan luna yang dia jawab sendiri yang dia jawab sendiri.


"Apakah aku jelek? No, no, no, luna adalah rembulan yang sangat cantik. Lebih cantik dari perempuan, si starla itu." Kedua kalinya pertanyaan yang dia jawab sendiri.


"Aku cantik, aku ****," kata luna sambil memainkan tubuhnya seperti model, "lalu kenapa aku harus takut dengan si Starla perempuan tak tahu malu itu? Lagipula, aku lah istri mas Rendra yang sah. Kalau dia macam-macam, tinggal hiak hiak." Luna menampilkan gaya kuda-kuda karate gagalnya.


Rendra yang masih berada di depan pintu, berusaha menahan tawa agar tidak terdengar oleh sang istri. Laki-laki itu tidak menyangka jika Luna bisa melakukan hal seperti ini. Sungguh lucu.


Luna mendengus, entahlah tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah. Apakah ibu hamil memang begini? "Tapi kenapa perempuan tidak tahu malu itu harus duduk di pangkuan suamiku? Mas Rendra juga tampak menikmati nya? Apakah dulu mereka sudah pernah melakukan hal yang... Ihhh.." Luna tampak frustasi mengingat hal tersebut. Gadis itu lantas menunduk, mungkin air mata sudah jatuh dari netranya.


"Mungkin mas Rendra sudah tidak menyukaiku. Aku sudah tidak cantik, aku gendut, jelek."


Rendra yang masih memperhatikan Luna merasa sangat bersalah. Didekatinya sang istri perlahan.


"Sayang.." sapanya yang pasti membuat Luna terkejut. Sedari tadi gadis itu tidak menyadari bahwa ada orang lain di tempat tersebut. Dengan gerakan reflek, Luna mengambil pakaian yang ada di sebelahnya. Dengan gerakan cepat Luna memakai pakaian tersebut. Seperti tidak ingin Rendra melihat tubuhnya.


"Biarkan saja, aku sangat menyukainya." Rendra meminta Luna untuk melepaskan baju yang akan dia kenakan. Luna menurut, namun gadis itu masih tetap diam.


Rendra melangkah kaki ke belakang, empat langkah. Kemudian memperhatikan tubuh Luna dengan seksama.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Luna yang keheranan melihat tingkah suaminya.


Lalu Rendra mendekati Luna, berhongkok di hadapan sang istri lalu berkata tepat di perut Luna. "Sayangku, anakku, kamu adalah anak yang sangat beruntung karena dilahirkan oleh ibu yang sangat cantik dan juga ****. Jika nanti papi lebih sering melihat mamimu daripada melihatmu, maka kamu jangan cemburu ya nak. Bagaimana lagi nak, kecantikan mamimu bahkan tujuh belas kali lebih cantik dari rapunzel."


Luna berusaha menahan tawa mendengar gombalan suaminya. Namun tetap dia tahan.


"Nak katakan kepada papimu, jadi orang jangan suka gombal. Meskipun mami cantik juga dia lebih memilih memangku starla." Dengan gaya yang dibuat sama dengan suaminya Luna berusaha membalas Rendra dengan mengatasnamakan anak dalam kandungannya.


"Katakan pada mamimu, apapun yang starla lakukan tidak bisa membuat kegentlemanan papi menjadi lemah. Karena hanya mamimu yang bisa membuat papi bergairah."


"Ihh apaan sih ngomong gitu sama bayi." Omel Luna karena dinilai sang suami telah melebihi batas.


Rendra tidak bisa diam lagi. Ditariknya tangan sang istri hingga jatuh ke pelukannya, dimana saat ini dirinya tengah duduk di ranjang.


"Seperti ini? Inikah yang membuatmu cemburu sayang?" Kata Rendra saat Luna sudah berada di atas pangguannya.


Luna mengangguk, "kamu pasti menikmatinya."


"Tidak, aku tidak menikmatinya."


Mendengar jawaban Rendra, Luna hanya memutar bola matanya. "Mana aku tahu kamu menikmatinya atau tidak."


"Apa?" Luna terkejut mendengar apa yang mulut Rendra ucapkan.


"Iya, bu fatma memanfaatkan starla untuk menjauhkan kita."


"Bagaimana kamu bisa tahu mas?"


"Yang kamu temui di mall waktu itu adalah benar bu fatma, orangku pun melihatnya. Bu fatma tidak akan berhenti menyerang kita sebelum tujuannya tercapai. Bahkan dirinya tega mengahabisi putra kandungnya sendiri."


"Lalu kenapa kamu tidak langsung menangkapnya mas?"


"Bu fatma perempuan yang sangat licik. Starla adalah pionnya. Aku hanya ingin melihat alur serangannya. Sebelum membalas serangan darinya.


"Perempuan itu tidak ada kapok-kapoknya."


Rendra mengangguk, "sebenarnya aku tidak ingin menceritakan masalah ini kepadamu Sayang. Aku tidak ingin membebanimu. Tapi mungkin aku salah."


"Maafkan aku," kata Luna sambil menunduk.


Rendra tersenyum sambil mengangkat dagu sang istri. "Apakah begitu cara meminta maaf yang baik?"


"Bagaimana?"


"Aku dengar, Luna adalah rembulan yang cantik dan ****. Apakah aku bisa membuktikannya?"


Rendra mulai mengendus leher Luna. Gadis itu pun tak bisa menahan ******* dari mulutnya.


"Percayalah kepadaku Sayang, tidak ada yang lebih berharga di dunia ini dari pada keluargaku, terutama kalian berdua." Ucap Rendra dengan yakin.


Luna menutup mulut Rendra dengan jari telunjuknya, kemudian mulai menurunkan jari itu dan memajukan bibirnya. Kecupan manis dan **** Luna jatuhkan di bibir sensual sang suami.


"Aku percaya padamu Mas, aku hanya sangat takut jika kehilanganmu." Kata Luna. Rendra pun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan sebelumnya oleh Luna saat diri mnya berbicara.


Bedanya, Rendra tidak menghentikan ******* bibirnya. Laki-laki itu melanjutkan awal yang baik tersebut ke arah yang lebih dalam. Hingga hanya terdengar suara des*han dan juga ekspresi cinta dari keduanya. Sampai berakhir dengan ******* nafas panjang dari Rendra yang akhirnya terjatuh dengan keringat bercucuran.


"Mas mau kemana?" tanya Luna saat membuka mata dan melihat sang suami telah rapi berdiri di depan cermin. Apa yang baru saja Rendra lakukan kepadanya membuat Luna kehilangan banyak energi hingga tertidur.


"Aku berjanji akan bertemu dengan starla di apartemennya."


"Apa?"


"Sayang..." Rendra memberi ultimatum agar Luna tenang. Laki-laki itu mencium kening dan bibir istrinya kemudian pergi.


Luna yang masih tanpa busana hanya bisa meremas selimut tebalnya untuk mengekspresikan apa yang saat ini dirinya rasakan.


@@@@


para pendukung Luna, mana nih suaranya? Apakah Luna harus diam aja nih saat suaminya mau ketemuan sama Starla?