PANGERANKU OM-OM

PANGERANKU OM-OM
BAB 37


"Apa ini Mas?" tanya Luna saat membuka kotak berwarna hijau yang baru saja Rendra berikan untuknya.


"Buka saja, lalu katakan apa kamu menyukainya?"


Luna menurut perkataan suaminya, mulai membuka pita berwarna senada dengan kotak di bawahnya. "Wow," ucap Luna takjub saat melihat sebuah gaun indah di dalam kotak tersebut. "Ini bagus sekali Mas," ucapnya lagi sambil membuka pakaian itu dan meletakkannya di badan.


"Aku ingin kamu memakainya malam ini."


"Malam ini?"


"Aku sudah menyiapkan makan malam spesial untuk kita Sayang."


Luna tersenyum senang sambil memandang sang suami dengan penuh cinta, "baiklah Om ku sayang, aku akan memakainya malam ini."


Malam pun tiba, Rendra tidak mampu mengedipkan mata saat melihat Luna keluar dari kamar. Gaun itu begitu pas di tubuh belahan jiwanyatersebut. Luna sangat pandai membuat riasan di wajahnya. Sehingga dirinyaselalu tampil natural, segar, namun terkesan mewah. Belum lagi gaun selutut yang mengekspos kaki jenjangnya, membuat Luna tampak seksi.


"Cantik, cantik sekali," ucap Rendra berkali-kali. Laki-laki itu seperti terhipnotis oleh oleh makhluk Tuhan yang kini menjadi istrinya tersebut.


"Yuk kita makan!" ajak Luna.


"Kamu sangat menawan Sayang, aku tidak ingin apapun aku hanya ingin memakanmu."


"Apa?"


"Ah, tidak, tidak. Ayo, ayo kita makan!" kata Rendra gelagapan.


Bagaimana tidak, sejak sampai di tempat ini sulit sekali bagi Rendra untuk mengendalikan dirinya dan juga nafsunya. Setiap melihat Luna, adik kecil di bagian bawah selalu bangun dari hibernasinya. Apalagi saat Luna


tampil seperti ini? Oh Tuhan, bagaimana cara membujuk Luna agar mau melakukannya? Lama-lama aku akan frustasi, batinnya.


Luna dan Rendra sampai di tempat yang telah Rendra pesan khusus untuk makan romantisnya. Beberapa waiters tampak sibuk mengantarkan makanan terbaik yang mereka punya untuk dihidangkan.


"Luna kamu sangat cantik, aku merasa sangat beruntung memilikimu Sayang."


Luna yang tengah menyeruput minumannya hanya tersenyum geli melihat sang suami.


"Aku memiliki sesuatu untukmu." Rendra mengambil sesuatu dari kantong jas hitam yang dia kenakan. "Kalung ini adalah satu-satunya peninggalan ibu yang masih ada. Aku selalu menyimpannya hingga ini. Dan sekarang, aku ingin kamu memakainya."


Luna mengangguk, kemudian menyingsikan rambutnya ke satu arah. Rendra pun bangkit dari tempat duduk dan memasangkan kalung berliontin permata biru itu di leher istrinya.


"Terimakasih Mas, ini adalah sebuah penghormatan bagiku. Aku pasti akan selalu menjaganya," kata Luna sambil mengecup liontin permata biru di lehernya tersebut. Rendra pun mencium kening sang istri sebagai tanda cinta yang luar biasa besarnya.


"Ibu pasti perempuan yang sangat cantik." Luna melihat permata itu seperti melihat seseorang di dalamnya.


Rendra hanya tersenyum dan mengangguk mengiyakan. "Ratu di hati ayah."


Luna memandang suaminya dengan seksama. Tampak kerinduan yang begitu dalam dari seorang putra kepada ibunya.


"Aku akan menyembuhkan luka masa kecilmu Mas. Aku berjanji akan selalu membuatmu bahagia," ucap Luna dalam hati.


****


Luna masuk ke kamar untuk mengganti pakaiannya. Sementara Rendra masih duduk di balkon sambil menikmati udara malam.


Mata Luna tertuju pada tempat tidur yang sedari tadi siang belum digunakan. Bahkan hiasan bunga mawar di atasnya juga masih tertata dengan rapi membentuk simbol hati.


Luna membuka tas yang disiapkan oleh bi Inah. Dalam hati dirinya pun bertanya-tanya, bagaimana bisa bi Inah menyiapkan barang-barangnya, sementara perempuan itu tidak pernah tahu tentang barang-barang Luna. Ya, Luna adalah gadis mandiri yang mampu mengurus semua perlengkapannya seorang diri.


"Hah, apa ini?" gumam Luna setelah melihat isi koper yang kaya Rendra disiapkan oleh bi Inah. Koper itu hanya berisi beberapa lingeri dan juga bikini. Luna berulang kali memeriksa koper itu. Tidak ada barang lain di sana selain pakaian haram itu.


"Ini pasti kerjaan Mas Rendra," gumamnya lagi.


"Luna, apa aku boleh masuk?" suara dari luar mengagetkan gadis yang masih mematung kan diri di depan koper.


"Ah iya Mas, sebentar," jawabnya.


Rendra pun mengerti dan mengurungkan niatnya untuk membuka pintu. Laki-laki itu lebih memilih ke dapur mengambil minum sambil menunggu sang istri.


"Luna apa aku sudah boleh masuk?" tanya Rendra lagi. Namun kali ini tidak ada jawaban dari perempuan yang sangat dicintainya tersebut.


"Luna," panggilnya lagi yang sama saja tanpa jawaban.


"Luna," kembali laki-laki itu memanggil nama istrinya, namun kali ini tangannya sudah membuka pintu kamar. Jantung Rendra semakin berdetak cepat saat melihat kondisi kamar yang temaram.


"Luna," panggilnya lagi sambil berjalan mencari keberadaan istrinya. Hati Rendra sudah tidak menentu, berbagai fikiran buruk telah memenuhi otaknya. Apakah seseorang telah menculik Luna? Fikirnya.


"Luna," sekali lagi Rendra memanggil nama sang istri sambil membuka kamar mandi yang mana tidak ada seorang pun di sana.


Rendra semakin frustasi, laki-laki itu mengambil ponsel di sakunya hendak membuat panggilan. Namun sebuah tubuh yang hangat mendekapnya dari belakang.


"Kamu mencariku?" tanya Luna dengan nada manja.


Rendra bisa bernafas lega kali ini. Ketakutannya akan kehilangan Luna tidak terjadi. "Kamu dari mana Sayang?" omel Rendra sambil hendak membalikkan tubuhnya.


"Aku selalu di hatimu Mas," jawab Luna mengeratkan pelukannya.


Rendra mengurungkan niatnya untuk berbalik badan. Laki-laki itu kini bisa merasakan dua benda kenyal yang menempel di punggungnya. Pelukan erat dari Luna pun membuat tubuhnya hangat dan membangkitkan gelora.


Rendra mengangkat tangan Luna sampai ke bibirnya, mengecup tangan itu lembut. Seraya berkata, “aku sangat takut Sayang, aku tidak akan bisa hidup tanpa dirimu Luna.”


“Jangan katakan apapun! Kita tidak akan terpisahkan Mas. Cinta kita akan selalu abadi.”


Rendra terus mengecup tangan mulus Luna, perlahan menuju ke atas hingga Luna tertarik sampai ke hadapannya. Tidak ada yang bisa Rendra katakan saat ini, laki-laki itu hanya tersenyum senang melihat pemandangan epik di hadapannya.


Sebuah pemandangan yang sudah sangat lama dirinya nanti. Balutan lingeri berwarna hitam membuat perempuan di hadapannya terlihat sangat menggairahkan.


Dengan mengumpulkan seluruh keberanian dan keganjenannya, Luna melingkarkan tangannya ke leher Rendra. Kemudian membisikkan sesuatu ditelinga suaminya itu, “malam ini aku milikmu Om.”


Gairah pun tidak bisa terelakkan kembali. Hal yang sudah sangat lama Rendra inginkan, kini datang sendiri tanpa diminta. Apakah ini yang dinamakan buah dari kesabaran?


Rendra memulainya dengan mengecup bibir Luna perlahan. Mencoba sepelan mungkin agar sang istri tetap merasa nyaman. Hei bagaimana bisa? Ini adalah yang pertama bagi mereka. Rasa canggung, hal-hal diluar nalar juga pasti terjadi.


Ah apalah namanya, saat ini mereka berdua tengah diburu oleh deru nafas dan juga *******-******* yang bersahutan dari bibir keduanya. Hingga sampailah keduanya di puncak kenikmatan. Bersamaan


dengan keringat yang mengucur dari tubuh mereka.


“Aku mencintaimu Luna,” kata Rendra sambil terengah-engah kemudian terkulai lemas di atas tubuh istrinya. Sementara Luna mengecup kening Rendra dalam.


“Aku juga sangat mencintaimu Mas.”