PANGERANKU OM-OM

PANGERANKU OM-OM
BAB 11


“Luna, sudahlah, kenapa kamu masih terus menangis? Aku sudah di sini, aku tidak apa-apa,” ucap Rendra berusaha menghentikan isak tangis istrinya yang sedari tadi tidak bisa berhenti. Laki-laki itu sampai tidak tahu lagi bagaimana menenangkan Luna.


“Apa ini masih sakit?” tanya Luna sambil mengoleskan salep luka ke tangan Rendra.


“Sudah tidak terlalu.”


“Tapi darahnya masih keluar, lukanya juga semakin dalam,” gadis itu terus menangis. Rendra tersenyum memandang sang istri. Rasa khawatir Luna membuat Rendra yakin jika di hati Luna masih ada tempat untuk cintanya.


“Tidak Luna, percayalah! Sudah tidak terlalu sakit.”


“Apa kamu yakin?”


“Selama kamu terus di sisiku, luka sebesar apapun tidak akan terasa sakit.” Rendra berusaha mengatakan kalimat manis untuk Luna, berharap gadis itu akan membalasnya dengan senyum yang manis pula.


Namun Rendra salah, bukan senyuman manis yang dirinya dapat. Ekspresi khawatir yang sejak tadi Luna tampilkan seketika berubah. “Dasar om-om, ngegombalnya kayak era 90 an,” batin Luna.


“Aaaa, aaaa, Luna sakit Lun,” teriak Rendra saat Luna menekan luka di tangannya.


“Oh sakit, katanya kalau ada aku enggak sakit,” jawab Luna sambil terbahak, sementara Rendra hanya bisa merintih kesakitan.


“Dasar Luna, tadi khawatir sampai nangis-nangis. Sekarang malah tertawa. Kok bisa sih?” Rendra masih tidak bisa memahami istrinya.


“Mereka siapa sih? Kamu kenal?” tanya Luna santai. Air mata yang sedari tadi membasahi wajahnya kini sudah kering, entahlah kenapa bisa cepat sekali.


“Enggak, mungkin preman di daerah sini.”


“Di sini aman Mas, enggak ada preman. Lagi pula preman itu emang ngincer Mas Rendra. Mereka sengaja bikin aku teriak buat manggil kamu. Mungkin mereka ada hubungannya sama laki-laki yang nyuruh Sherly waktu itu,” ungkap Luna.


“Idihh, kamu udah kayak detektif aja,” timpal Rendra yang pastinya membuat Luna merasa tidak senang.


“Dasar om-om, dibilangin enggak percaya,” gerutu Luna pelan namun masih terdengar jelas oleh Rendra. Sementara Rendra hanya tertawa melihat sang istri.


“Om-om ganteng,” balas Rendra.


*****


“Hati-hati ya Nak!” ucap Ibu saat Luna dan Rendra berpamitan hendak pulang ke rumah Rendra. Luna yang sudah siap dengan kemudi motornya menunggu Rendra yang sedari tadi tidak segera naik ke atas motor.


“Gimana kalau aku saja yang menyetir, kamu di belakang?” tawar Rendra yang merasa trauma dengan ini.


“Aku saja,” jawab Luna sekenanya.


“Lunaaa, biar Rendra yang di depan. Kamu yang di belakang,” bentak ibu yang pastinya membuat Luna tidak berani berkutik. Gadis itu pun turun dari motornya dan membiarkan Rendra mengambil alih setang motor itu.


“Nah, kalau gini kan enak suaminya yang bawa motor, istrinya yang di belakang,” ucap Rendra menggoda Luna.


“Nyetir yang bener!” perintah Luna ketus yag membuat Rendra semakin terbahak.


Suasana jalanan sore ini sangat padat. Berbagai macam motor, mobil, memenuhi jalan raya. Suara klakson bersahutan, menandakan jika rasa sabar di negara ini sangat mahal harganya. Jika saat pagi jalan ramai dengan orang-orang yang akan memulai hari, saat sore pun mereka juga masih sibuk entah ingin mengakhiri hari ataupun melakukan rencana lain untuk mengahabiskan hari.


“Ramai sekali,” kata Rendra memulai obrolan saat motor Luna harus berhenti di lampu merah.


“Kenapa? Enggak kuat naik motor?” Luna balik bertanya dengan terkekeh, gadis itu mengira jika Rendra akan merasa stres berada di atas motor dengan suasana seperti ini.


“Tidak, aku suka seperti ini,” balas Rendra yang membuat Luna menyeringai.


Rendra pun kembali melajukan motornya saat lampu hijau telah menyala. Laki-laki itu ingin sekali menggoda Luna, entahlah Rendra sekarang mulai ketagihan dengan omelan dari istrinya itu.


“Auuuu,” teriak Luna saat Rendra mengerem dengan mendadak. Kepala Luna sampai tertantuk helm yang dipakai suaminya, “bisa bawa motor enggak sih?”


“Makanya pegangan Lun, ini jalanan ramai. Kalau tidak pegangan bisa jatuh, bahaya lho,” ucap Rendra sambil berusaha menahan tawa.


Luna tidak mengindahkan perkataan Rendra, gadis itu tahu benar jika Rendra berusaha menggodanya. “Usahamu tidak akan berhasil Tuan Rendra,” batin Luna menyeringai.


“Awass..!” teriak Luna bersamaan dengan tangannya yang memeluk erat tubuh Rendra. Bus besar yang melaju tanpa haluan itu berhasil membuat Luna merangkulkan tangannya ke tubuh Rendra.


“Nah kalau pegangan gini kan nyaman jadinya,” ledek Rendra sambil terbahak. Sementara Luna segera melepas pelukannya. “Eh kok dilepas, bukannya nyaman banget ya berada di pelukan suaminya.” Rendra terus tertawa meledek sang istri.


Sementara di belakang, Luna pun juga tersenyum. Meskipun hanya senyuman tipis, tapi mampu memberi tahu jika saat ini dirinya tengah bahagia. Ya, baru kali ini Luna merasa nyaman saat memeluk seseorang. Bukan hanya nyaman, tapi Luna juga sedikit merasakan getaran-getaran di hatinya.


******