PANGERANKU OM-OM

PANGERANKU OM-OM
BAB 47


Ibu.. Ibu tunggu aku! Ibu.." Seorang anak kecil berlarian mengejar perempuan di depannya.


"Rendra, ayo kejar ibu!" ucap perempuan itu dengan suara merdu nan lembut.


"Ibu aku capek," rengek Rendra kecil.


"Hei, Pangeranku, kamu adalah putra ibu. Putra yang kuat, sangat kuat." Kata perempuan itu sambil memegang bahu putranya.


"Seperti gatotkaca," timpal anak itu.


Sang ibu tertawa renyah, hingga tampak sebuah kecantikan alami dari wajahnya. "Pastinya Sayang, kamu akan selalu kuat meski tanpa ibu."


"Ibu mau kemana?"


"Ibu akan pergi sementara waktu Nak, nanti ibu akan kembali. Tunggulah sampai waktunya kita akan bertemu kembali."


Perempuan cantik berpakaian putih itu pun beranjak dari tempatnya. Kemudian berjalan pelan dan menghilang.


"Ibu, ibu.." Rendra kecil berlari kesana kemari mencari keberadaan ibunya yang sudah tidak ada. Hingga anak kecil itu tertunduk lesu dan hanya bisa berkata, "ibu kembalilah!"


"Nak, Nak Rendra, Nak.."


Rendra segera membuka mata saat seseorang menepuk-nepuk pundaknya. Tampak dihadapannya ibu Luna dengan mata berbinar, "ibu.." ucapnya dengan suara sengau.


"Lihatlah! Luna sudah sadar Nak. Luna sudah membuka matanya," kata ibunya Luna dengan wajah sangat senang.


Ya, keduanya saat ini masih berada di rumah sakit. Dua puluh empat jam bukan waktu yang sebentar bagi keduanya untuk menunggu Luna membuka mata. Rasa cemas dan khawatir menemani mereka saat menjaga Luna.


"Luna," seru Rendra sambil bergegas mendekati tempat tidur istrinya.


Di ciumnya tangan sang istri yang masih terkulai lemas di tempat tidur itu. Senyum dalam wajah pucat gadis itu menandakan jika dirinya tengah menahan sakit.


"Mana yang sakit Sayang?" tanya Rendra.


"Sakit semua," jawab Luna lirih.


"Maafkan aku Sayang, aku tidak bisa menjagamu. Aku terlalu bodoh." Rendra sangat menyesali kejadian ini.


Luna menggeleng pelan, "tidak Mas, kamu suami terbaik di dunia ini."


"Sudahlah Rendra, tidak perlu disesali semua sudah terjadi. Yang penting Luna sekarang sudah sadar." Ibu yang sedari tadi memperhatikan keduanya juga ikut bicara. "Bagaimana kabar Ryan dan ibunya, Ren?" tanya Ibu Luna. Perempuan itu sangat geram dengan tingkah ibu dan anak tersebut.


"Polisi masih terus mencari keberadaan mereka Bu, foto keduanya sudah disebar. Sebentar lagi mereka pasti tertangkap."


"Syukurlah kalau begitu."


Rendra kembali memperhatikan sang istri, "ada apa sayang?" tanyanya saat memperhatikan wajah Luna yang berubah.


"Laper, mau makan bebek goreng," jawab gadis itu lirih yang pastinya membuat suami dan ibunya tertawa terbahak."


"Luna, Luna, ada-ada saja," kata Rendra dan mertuanya bersamaan.


Sementara di sisi lain di tempat persembunyian Ryan dan ibunya.


"Kita harus segera menemukan Diana," kata bu Fatma dengan cemas.


"Tenanglah Ma!"


"Bagaimana mama bisa tenang Ryan? Diluar polisi sedang mencari kita."


"Ryan akan mencari solusinya."


"Aaahh, kamu dan ayahmu sama saja. Kalian berdua sama-sama tidak berguna."


"Maa!" Ryan membentak, laki-laki itu sudah mengepalkan tangannya.


Sang ibu pun terdiam, sedikit ada rasa takut karena baru kali ini Ryan berani membentaknya.


"Mama boleh merendahkan Ryan sesuka hati, tapi tolong sekali lagi jangan membawa nama ayah di sini. Laki-laki yang sama sekali tidak mama hormati itu adalah ayahku. Ayah yang sangat menyayangiku. Aku pun juga sangat mencintainya." Ryan menekankan setiap kata pada kalimatnya.


Bu Fatma menghela nafas panjang, perempuan itu tidak memiliki cara lain selain hal ini. Dirinya lupa bagaimana kedekatan Ryan dengan suami pecundangnya itu. Entahlah laki-laki yang baginya hanya seorang pecundang, begitu berarti di hati Ryan.


"Baiklah maafkan Mama, saat ini kunci kemenangan kita hanya Diana. Kita harus mencari perempuan gila itu sampai ketemu,"  kata bu Fatma mencoba mengalihkan suasana.


***


Beberapa hari berlalu, keadaan Luna sudah semakin membaik. Hal ini membuat Rendra sangat bahagia. Baginya kebahagiaan apapun tidak akan bisa menggantikan kebahagiaan saat Luna sembuh dari sakitnya.


"Mana?" rengek Luna.


"Apa Sayang?"


"Sudah empat hari dan kamu tidak membawakan ku bebek goreng Mas. Kenapa kamu jahat sekali sih Mas?"


"Luna keadaanmu masih belum memungkinkan untuk memakannya Sayang. Kamu harus makan bubur saat ini."


"Pertanyaan itu sudah lima puluh kali kamu tanyakan hari ini. Ibu sampai pulang karena bosan mendengarnya," omel Rendra.


Luna tersenyum, ya Rendra memang tidak salah. Bahkan ibunya memutuskan untuk pulang karena itu. Tidak sih, ibunya Luna pulang karena keadaan Luna sudah semakin membaik dan ada beberapa hal yang harus beliau urus di sana.


"Mas, aku sudah sembuh." Kembali Luna merengek, kali ini sambil memeluk sang suami dan mengelus dadanya.


"Hmm," balas Rendra sambil tetap membalas pesan di ponselnya.


"Apa kamu tidak mau berbicara dengan dokter dan memintanya mengizinkanku untuk pulang?"


"Tidak," jawab Rendra tegas.


Luna tidak kehilangan akal, diciumnya pipi sang suami dengan lembut. "Apa kamu tidak merindukan diriku?" ucap Luna dengan tatapan nakal.


Tatapan itu mampu membuat Rendra menelan ludah. Laki-laki itu faham apa yang dibicarakan oleh istrinya.


Cuuppp, kecupan mesra kembali mendarat di pipi Rendra, "kita akan mencoba gaya yang baru. Yang pernah kamu katakan waktu itu." Kembali Luna merayu suaminya. Tatapan manja dan penuh gairah membuat Rendra gagal fokus.


Rendra membalas kecupan mesra itu di pipi dan leher Luna. Ah bagaimana bisa, laki-laki ini selalu tidak tahan dengan hal seperti ini.


"Lekaslah! Bicaralah kepada dokter agar mengizinkanku pulang," kata Luna yang masih dengan aksen manja dan juga bergairah.


Rendra tersenyum, mengecup kening istrinya mesra. "Aku tidak akan melakukannya, aku akan menunggu sampai dokter mengatakan bahwa kamu boleh pulang Sayangku."


"Aaaaaahhhh," teriak Luna. Gadis itu merasa ditipu oleh suaminya. "Awas kamu Mas!" ujarnya sambil melepas pelukannya.


Rendra hanya tertawa melihat kelakuan sang istri yang menurutnya sangat lucu tersebut.


Drrt.. drrt.. drrt..


Sebuah panggilan masuk ke ponsel Luna. Panggilan dari Rani.


"Hallo Ran," jawab Luna dengan suara sedikit malas karena masih merasa jengkel kepada suaminya.


"Gimana kabar kamu? Udah sembuh belum? Kapan pulang? "


"Gak boleh pulang, suruh di sini aja sampe tua," jawab Luna sekenanya yang membuat Rendra tertawa kecil mendengar hal itu.


"Iya bener tuh kamu di situ aja enggak usah pulang. Di rumah ngerepotin, udah gitu makannya banyak."


"Ih apaan sih kamu."


"Eh Lun, ini tante Diana kangen kamu katanya."


"Oh ya, gimana kabar tante Diana?"


"Baik, bahkan jauh lebih baik. Dia aja udah bisa ingat kamu. Psikiater itu memang jago."


"Itu sih keinginan bu Diana sendiri. Keinginan beliau untuk sembuh besar banget."


"Iya, semoga saja tante Diana segera ingat dengan keluarganya."


Rendra mengernyitkan dahi mendengar obrolan dua sahabat itu. Nama yang keduanya sebut mengingatkan dirinya akan seseorang yang sangat dekat di hati.


Rendra mencium pipi Luna saat gadis itu selesai mengobrol dengan sahabatnya. Meskipun masih sedikit jengkel, tapi melihat wajah polos suaminya membuat gadis itu luluh.


"Siapa?" tanya Rendra.


"Rani, siapa lagi?" jawab Luna sedikit terkejut dengan pertanyaan suaminya. Tumben dia bertanya seperti itu.


"Bukan, siapa tante Diana?"


"Oh itu yang pernah aku ceritain waktu itu. Teman mamanya Rani yang jiwanya terganggu itu."


"Ohh,"


"Kenapa?"


"Mengingatkanku dengan seseorang."


"Siapa?"


"Ibuku, ibu kandungku. Namanya Diana. "


Luna sedikit terperanjat, "aku tidak tahu kalau nama ibu adalah Diana. Nama yang sangat bagus."


Rendra mengangguk, "hari ini aku hanya mendengar nama itu, tapi aku merasa berada di dekat ibu."


"Ibu pasti sangat bahagia di sana. Ibu pasti sangat bahagia memiliki putra sepertimu." Kata Luna sembari memeluk sang suami.


Rendra membalas pelukan istrinya dengan lembut. Di balik wajah sang istri laki-laki itu berfikir, memikirkan sebuah mimpi yang menghiasi tidurnya beberapa hari ini. Ya, mimpi bertemu dengan sang ibu. Sang ibu yang sangat Rendra rindukan.