
Beberapa bulan berlalu. Keluarga Rendra nampak lebih bahagia dari sebelumnya. Keadaan Bu Diana semakin membaik. Meskipun perempuan itu masih belum mengenali Rendra sebagai putra kandungnya, namun hubungan Bu Diana dan Rendra tampak begitu dekat. Tak jarang bu Diana memeluk dan mengecup kening Rendra. Hal itu juga dilakukannya kepada Max dan juga Luna. Semua dia anggap sebagai anaknya. Perempuan itu sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Max, putra kandung dari bu Fatma itu kini merasa seperti memiliki keluarga yang lengkap. Kasih sayang bu Diana mampu menggantikan kasih sayang ibunya yang selama ini juga jarang dia dapatkan. Kehangatan Luna dan Rendra, membuat laki-laki itu bisa melupakan sang adik yang telah tiada. Kini dirinya telah bekerja di kantor Rendra. Max bersikeras untuk hidup mandiri, namun Luna dan bu Diana selalu memintanya untuk tetap tinggal. “Kenapa seorang keluarga harus tinggal berpisah? Jika kamu sudah memiliki istri, aku akan ikhlas membiarkanmu pergi Max.” Begitulah kata mereka yang kadang membuat Max terharu.
“Hmm, masakan ibu memang tiada duanya,” ucap Luna sambil mengangkat dua jempolnya saat menikmati sarapan buatan bu Diana.
“Iya, aku belum pernah merasakan masakan seenak ini. Kak belajarlah memasak! Jadilah istri yang baik.” Max menimpali sambil menyindir Luna. Ya begitulah, sejak tinggal bersama Max dan Luna semakin akrab, keduanya sudah seperti saudara kandung yang hobi bertengkar.
“Idih sejak kapan istri yang baik harus bisa masak,” seringai Luna.
“Kak Ren, apa kamu tidak bosan setiap hari memasak untuk istrimu? Kamu kan suami kak.” Max balik bertanya kepada Rendra.
Bu Diana yang menyaksikan perdebatan itu hanya tertawa sambil mengunyah makanannya.
“Tidak, untuk apa bosan? Istriku bukan tukang masak yang setiap hari harus memasak untukku. Aku lah yang bertanggungjawab untuk menjaganya. Termasuk memberinya makanan yang enak.” Rendra menjawab sambil merangkul pundak Luna. Sementara Luna yang merasa menang hanya memandang Max dengan tatapan sombong.
“Makanya kamu cari istri dong Max,” timpal bu Diana yang akhirnya ikut ambil suara mendengar perdebatan itu.
“Gimana mau punya istri bu, nyari pacar aja enggak berani.” Luna tertawa mengejek Max. Rendra dan bu Diana pun juga ikut tertawa mendengarnya. Sementara Max hanya nyengir sendirian merasa kalah. Memang apa yang dikatakan Luna tidak salah sih.
Drrt, drrtt, ponsel Luna berbunyi, panggilan dari RANI. Rendra yang sempat membaca nama di layar ponsel itu memberi tanda kepada istrinya untuk mengangkat telepon.
“Hallo ada apa Ran?” “Oh iya ada. Ambil aja ke sini, ini ibu kangen banget sama kamu katanya.” Kata Luna di telepon sambil melirik ke arah bu Diana.
“Rani?” tanya bu Diana yang dibalas anggukan kepala oleh Luna.
“Ok aku tunggu.” Pungkas Luna kemudian menutup sambungan teleponnya.
“Ibu akan memasak kudapan untuk Rani. Anak itu sangat menyukai kue cubit.” Ucap bu Diana dengan semangat kemudian segera beranjak ke dapur untuk melakukan apa yang ingin dia lakukan.
“Aku sangat senang ibu sudah lebih baik. Meskipun sampai sekarang beliau tidak mengenaliku sebagai putranya,” kata Rendra kepada Max dan Luna.
“Aku faham apa yang kamu rasakan Kak, tapi percayalah bu Diana secepatnya akan mendapatkan ingatannya kembali. Mungkin kita hanya perlu bersabar.” Max berujar dengan rasa iba mendalam terhadap Rendra.
Luna menggenggam erat tangan sang suami dan tersenyum sambil memandangnya dalam. “Kita akan selalu bersama ibu dalam menghadapi ini semua.”
Rendra mengangguk, kemudian tersenyum berusaha melepaskan ego di dalam dirinya. “Baiklah, aku berangkat
ke kantor dulu ya Sayang.” Rendra beranjak dari duduknya dan mencium kening sang istri. “Max, ada pekerjaan di luar kota. Ada sedikit masalah dengan penerbit di sana. Aku harap kamu bisa menanganinya.”
“Siap kak, aku sudah tahu hal itu. hari ini aku akan pergi ke sana.”
“Beberapa karyawan akan menjemputmu ke rumah. Jadi kamu tidak perlu pergi ke kantor. Tunggu di rumah saja!”
Max mengangguk menuruti perintah Rendra. laki-laki itu sangat bersyukur Rendra bisa mempercayainya. Dan dia berjanji akan selalu bersungguh-sungguh dalam bekerja agar tidak mengecewakan kakaknya itu.
Beberapa jam berlalu, Max tampak gelisah menunggu karyawan dari kantor yang Rendra katakan sebelumnya. Namun tak lama sebuah mobil masuk ke halaman rumah. Seorang gadis cantik keluar dari mobil.
Mata Max tidak bisa berkedip dan mengalihkan perhatiannya. Gadis yang dia lihat mampu membuat hatinya bergetar.
“Maaf, apa…”
“Ah iya saya Max. Saya sudah siap.”
Gadis itu heran mendengar apa yang Max katakan. “Apa?”
“Iya, saya sudah siap.”
“Saya siap untuk apapun. Termasuk menikah denganmu.”
“Hahhh..”
“Ah maksud saya, saya sudah siap untuk pergi. Saya sudah mempersiapkan semuanya. Mari, ayo!” Max menarik tangan gadis itu.
“Hai Ran, udah lama?” Suara dari dalam mengejutkan Max, dengan otomatis laki-laki itu segera melepaskan pegangan genggamannya di tangan gadis yang ternyata adalah Rani tersebut.
“Jadi kamu bukan pegawai dari kantor?” tanya Max yang hanya dijawab dengan tawa renyah dari mulut Rani. Hal ini membuat Max malu.
Max kamu belum berangkat?” tanya Luna sambil berjalan mendekati keduanya. Max menggeleng.
“Ran, kenalkan ini Max. Max, dia sahabatku Rani.” Imbuh Luna memperkenalkan keduanya. “Yuk masuk, ibu sudah nungguin!” ajak Luna.
Rani melihat Max sambil tersenyum, “sudah siap menikah?” gurau Rani sambil menunjukkan senyum manisnya yang mampu membuat Max terpana.
“Asal bersamamu aku siap gadisku,” jawab Max yang kali ini membuat wajah Rani berubah. Gadis itu merasa sedikit takut, kemudian segera berlari mengikuti Luna.
Max tersenyum sendiri menyaksikan Rani dari belakang. “Pencarian sudah berakhir,” katanya lirih.
*****
“Luna kamu kenapa Nak?” tanya bu Diana saat melihat Luna dengan wajah lesu. Perempuan yang sangat penyanyang itu membantu Luna untuk kembali ke kamarnya.
“Entahlah bu, aku merasa sangat lemas hari ini.”
“Mungkin kamu terlalu lelah Lun, istirahatlah!” bu Diana merebahkan tubuh Luna ke tempat tidur.
“Tidak bu, Luna tidak bisa seperti ini. masih banyak pekerjaan yang harus Luna selesaikan.” Gadis itu berniat untuk beranjak dari tidurnya.
“Mau kemana kamu Lun?”
“Ke ruang kerja, ada beberapa berkas yang harus Luna selesaikan. Seharusnya hari ini Luna pergi ke kantor, tapi sangat lelah bu.”
“Kenapa Rendra membiarkanmu bekerja Nak?”
“Tidak bu, mas Rendra tidak memintaku bekerja. Aku hanya ingin membantunya. Beberapa bulan ini perusahaan mengalami kenaikan permintaan yang sangat besar.” Luna masih terus berusaha untuk bangkit, namun kepalanya terasa sangat sakit untuk berjalan bahkan berdiri pun dirinya merasa lemah.
“Begini saja, ibu akan mengambilkan berkas-berkasmu di ruang kerja. Kamu bisa mengerjakannya di sini. Katakan apa saja yang harus ibu ambil!”
“Tapi bu…”
“Sudahlah, ayo cepat katakan!”
Luna pun mengatakan apa yang harus bu diana ambil di meja kerja dengan detail. Berharap bu diana mengerti dengan apa yang dirinya inginkan. “Ada di laci sebelah kanan bu, di dalam lemari di kanan pintu meja, di map warna biru,” katanya.
Bu Diana pun bergegas masuk ke ruang kerja. Mulai mencari benda yang Luna sebutkan tadi. “lemari di kanan pintu atau di kiri ya?” Sepertinya bu Diana mulai lupa dengan arahan Luna.
Bu diana membuka lemari di kiri pintu, “tidak ada laci di sini?” ucapnya pada diri sendiri. Namun mata perempuan itu tertarik dengan sesuatu yang terletak di sudut dari lemari yang baru saja dibukanya. Sebuah kotak peti kecil. Perempuan itu merasa tertarik, seperti ada sebuah kekuatan yang memintanya untuk membuat peti kecil tanpa kunci tersebut.
“Aaaaaaaaaaa,” suara teriakan bu Diana membuat Luna sangat terkejut. Gadis itu segera melupakan sakitnya dan segera beranjak mencari sumber suara.
“Ibu….” Teriak Luna.