PANGERANKU OM-OM

PANGERANKU OM-OM
BAB 65


"Pak, kami mendapat laporan dari lapas bahwa bu fatma, ibu dari Ryan berhasil lolos dari penjara," ucap salah satu polisi sambil mendekat ke atasannya. Dari jarak yang tak begitu jauh Rendra bisa mendengar hal tersebut.


"Apa ini?" tanya Rendra heran bercampur geram. Bagaimana bisa seorang narapidana bisa dengan mudah kabur dari tahanan? Kemarin Ryan, kini ibunya.


"Tuan Rendra tenanglah! Kami akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi."


"Mas, kita harus mengurus pemakaman untuk Ryan," bisik Luna kepada suaminya. Hal ini membuat perhatian Rendra teralihkan dan memilih untuk pergi bersama sang istri daripada mendengarkan penjelasan polisi tentang bu fatma.


"Pak kami menemukan pakaian polisi wanita di bagian belakang rumah ini." Salah satu polisi mendekati atasannya dan menunjukkan pakaian yang dia bawa.


"Kita akan menyelidiki hal ini," kata polisi yang merupakan atasan tertinggi di tempat itu.


*****


Pemakaman telah usai, Ryan telah dimakamkan dengan penuh hormat oleh keluarga Rendra. Isak tangis bu Diana sedari tadi tak bisa dibendung.


"Ibu, aku tahu ibu sangat menyayangi Ryan. Setelah apa yang telah Ryan lakukan kepadamu, cintamu untuknya tak pernah luntur. Tapi sudahlah bu! Ryan sudah tenang di sana. Saat ini kita hanya bisa mendoakan Ryan agar mendapatkan tempat terindah di sisi-Nya." Luna berusaha menghibur sang mertua.


Gadis itu menyadari jika hidup bu Diana sangat berat. Disekap selama puluhan tahun hingga mengalami gangguan mental, baru saja sembuh pun bu Diana sudah harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa suami tercintanya telah tiada. Dan kini, anak yang dulu sangat dia sayangi pergi selamanya. Luna pun tidak mungkin sanggup jika harus diposisi bu Diana.


Bu Diana memandang Luna kemudian memeluk menantunya itu sambil menumpahkan air matanya. Luna hanya bisa membalas pelukan bu Diana berusaha mengerti perasaan perempuan yang sangat dia sayangi tersebut.


Beberapa polisi pun turut hadir dalam pemakaman tersebut. Rendra dan Max tampak sedang berbicara dengan mereka.


"Sampai saat ini kami masih melakukan pencarian untuk bu fatma. Pencarian ini akan sedikit sulit karena perempuan itu tidak meninggalkan jejak sama sekali," kata polisi yang sejak kemarin mengurus masalah ini.


"Saya ingin perempuan itu segera ditemukan," ucap Rendra tegas. Max pun menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang kakaknya katakan.


"Pasti, kami akan terus melakukan pencarian. Kami pun juga curiga bahwa kematian Ryan ada hubungannya dengan bu fatma."


"Maksud Anda, bu fatma adalah dalang dari semua ini?" Max menimpali.


"Kami belum meyakini, namun ditemukan sidik jari bu fatma di pakaian polisi wanita yang kami temukan di belakang rumah tersebut."


Max menghembuskan nafas dalam. Pemuda itu seperti tidak kuat mendengar apa yang baru saja polisi katakan. Bagaimana bisa ibu kandungnya melakukan hal seburuk itu? Bahkan dirinya malu dengan kenyataan bahwa darah yang mengalir di tubuhnya adalah darah dari bu fatma.


Seperti bisa melihat kesedihan di mata Max, Rendra pun menepuk pundak adiknya tersebut. "Jangan terlalu difikirkan! Lebih baik kita masuk sekarang dan beristirahat."


Keduanya pun akhirnya masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju kamar masing-masing. Suasana dirumah begitu sunyi, tidak tampak keceriaan seperti biasanya.


"Kamu lelah Sayang?" tanya Rendra sambil memeluk istrinya dari belakang saat dirinya melihat sang istri tengah mengelus punggungnya.


Luna membuka pelukan Rendra yang melingkarkan tangan di perutnya, terasa sedikit berat, tidak seperti biasa. "Ada apa?" Rendra bertanya lagi.


"Perutku sedikit kaku, mungkin sedikit lelah."


"Apa yang terjadi? Apakah sebelumnya kamu pernah seperti ini? Bagaimana ini bisa terjadi?" Rendra mulai khawatir dan mencecar banyak pertanyaan untuk istrinya.


"Aku, aku akan membawamu ke dokter."


"Tidak perlu," kata Luna seraya membuka laci dan mengeluarkan sesuatu dari dalam.


"Apa itu Sayang?" tanya Rendra, namun Luna tidak menjawab malah berjalan menuju kamar mandi.


Hal ini membuat Rendra bingung, "Sayang, kenapa kamu ke kamar mandi? Apa perutmu sakit karena salah makan dan kamu diare?" Tetapi Luna tidak menjawab, Rendra hanya bisa berdiri di depan pintu kamar mandi.


Saat ini berjuta fikiran berkecamuk di otaknya. Benda apa yang dibawa Luna? Apakah itu sebuah obat? Atau benda yang bisa mengobati sakit di perutnya? "Luna, apakah kamu masih lama?" Rendra kembali mengetuk pintu kamar mandi.


Tak lama Luna keluar, dengan wajah datar gadis itu membuka pintu dan berdiri di hadapan suaminya.


"Sayang, bagaimana? Apa yang terjadi denganmu Luna?"


Luna tidak membuka mulutnya. Gadis itu malah memberikan sesuatu ke tangan Rendra. "Apa ini Lun?"


Kali ini wajah Luna berubah, dirinya sudah tidak bisa lagi menyembunyikan ekspresi bahagia dari wajahnya. "Mas aku hamil," ucapnya.


Rendra melongo, laki-laki itu tidak mampu berfikir apapun saat ini.


"Mas aku hamil, aku hamil. Kamu akan menjadi seorang ayah." Luna berkata penuh semangat sambil memeluk suaminya. Sementara Rendra hanya diam tanpa mengeluarkan satu patah kata pun.


"Lihat ini, ini namanya tespect, aku membelinya tiga hari yang lalu dan baru bisa melakukan tesnya sekarang. Lihat ini Mas! Ini ada garis dua, yang artinya aku hamil." Luna sangat antusias.


Dengan terbata Rendra mulai mengeluarkan kalimat dari mulutnya, "apa benar aku akan menjadi ayah, Sayang?"


"Iya Mas, iya. Kamu akan jadi ayah dan aku jadi ibu." Luna berusaha meyakinkan suaminya dengan air mata yang sudah mulai bercucuran. Rasa Haru meliputi dirinya, apalagi melihat ekspresi sang suami yang juga tengah meneteskan air mata.


"Aku akan jadi ayah, aku akan menjadi orang tua. Oh, Sayang. Terimakasih Tuhan." Rendra memeluk istrinya erat. Dari mulutnya tak berhenti kalimat syukur dia panjatkan kepada Tuhannya.


"Terimakasih Luna, terimakasih Sayang. Aku akan menjadi ayah." Berulang kali kalimat itu pun ke luar dari mulut Rendra. Seperti tak percaya dengan rahmat Tuhan yang diberikan untuknya saat ini.


"Setelah semua yang terjadi, Tuhan memberikan kabar gembira untuk kita Sayang. Rumah ini akan ramai dengan tangisan bayi, teriakan bayi, dan akan ada seorang putri kecil yang akan memanggilki ayah."


"Kamu ingin seorang putri Mas?"


"Aku ingin seorang putri kecil yang sangat mirip denganmu."


"Tapi aku ingin seorang pangeran kecil yang tampan sepertimu."


Rendra tersenyum kemudian memeluk sang istri, "apapun harus kita terima asal kamu dan anak kita sehat."


"Kita akan memberi tahu kabar gembira ini kepada semuanya. Mereka pun juga pasti sangat bahagia," imbuh Rendra kembali.


Luna pun mengangguk mengiyakan apa kata suaminya. Kabar ini pasti akan membuat semua orang bahagia. Setelah ketegangan selalu menyelimuti keluarga ini, akhirnya kabar gembira datang.