
Ihh, menyebalkan, menyebalkan, menyebalkan." Luna menghentak-hentakkan kakinya dengan telapak tangan yang di kepalkan.
"Luna, kamu kenapa Sayang?" Rendra yang baru saja masuk ke dalam mobil terkejut melihat kelakuan istrinya. Kesambet setan mana anak ini, batinnya.
"Ihh berani sekali perempuan gatel itu pegang-pegang tubuh suamiku. Pake acara mendesah segala. Udah bajunya kurang bahan, dasar perempuan tidak tahu malu. Ihhh..." Luna masih terus melampiaskan kekesalannya. Rendra terkekeh melihat istrinya tersebut.
"Ngapain ketawa? Pasti kamu menikmatinya. Pasti ******* perempuan itu udah buat kamu tergoda, iya kan?"
Rendra menggelengkan kepala sambil menatap sang istri. "Bagaimana harus ku jelaskan jika aku sama sekali tidak tergoda dengan Starla. Mungkin dulu aku pernah mencintainya. Tapi cinta itu telah hilang tanpa sisa saat ini."
Luna sedikit melirik sang suami berusaha melihat celah kebohongan dari matanya, tetapi sedikit pun tidak ditemukan.
"Apa kamu fikir tubuh **** Starla membuatku tergoda?"
Luna mengangguk menjawab pertanyaan sang suami. Rendra pun tersenyum, "milikmu jauh lebih indah Sayang, apalagi hanya aku yang bisa melihat dan menikmatinya." Ucapan Rendra kali ini berhasil membuat Luna tersipu malu.
Wajah malu Luna membuat Rendra gemas. Dengan pelan diangkatnya dagu sang istri yang tersembunyi karena rasa malunya. "Wajah seperti inilah yang membuatku tergoda. Apakah aku bisa memintanya sekarang?" Rendra mulai mengecup bibir Luna lalu ke bawah mengecup leher jenjang sang istri.
Luna yang menyadari akan sesuatu segera menjauhkan tubuh suaminya dari dirinya. "Kita masih diparkiran apartemen Mas," kata Luna sambil celingak celinguk takut jika ada yang melihat.
"Aku sudah tidak tahan Sayang, tidak akan ada yang melihat," rayu Rendra sambil terus menggoda istrinya.
"Selamat siang pak, ada yang bisa kami bantu?" Tiba-tiba suara dari luar mengagetkan keduanya. Tampak satpam telah berada di samping mobil Rendra.
Luna tertawa cekikikan melihatnya, sementara Rendra kembali merapikan pakaiannya dan membuka kaca mobil. "Tidak, tidak apa-apa. Saya dan istri saya akan segera pergi. Terimakasih."
Rendra pun melajukan mobilnya. Sementara Luna tertawa terbahak-bahak menyaksikan tingkah suaminya.
*****
Di sebuah rumah kecil yang terletak jauh dari keramaian. Rumah sederhana yang hanya memiliki ukuran sekitar 7x8 meter itu, terlihat tak terawat. Dengan dinding yang lapuk dan rumput yang panjang di sekitarnya.
Di dalam rumah tersebut tampak seseorang yang tengah duduk di kursi goyang. Seorang perempuan setengah baya yang tengah menghisap rokok sambil menikmati cahaya matahari yang sedikit menyeruak masuk ke dalam rumah.
Perempuan itu tampak tersenyum menyeringai. Namun dari senyum itu tampak sebuah kebencian yang sangat dalam.
"Rendra, Luna, Diana, kalian tidak akan ku biarkan hidup tenang. Sebelum kalian bertiga hancur dan menjadi gembel aku tidak akan pernah berhenti." Perempuan yang ternyata adalah bu Fatma tersebut bergumam sambil tertawa.
Akan tetapi tak lama wajahnya berubah. Kali ini dirinya mengeluarkan air mata, kemudian menangis dengan keras dan berteriak. "Ryaaannn, putraku, Ryaaaannn, aku, aku telah menusuk putraku. Aku telah membunuh putraku." Bu Fatma menangis sambil berteriak.
Namun hal yang sama kembali terjadi. Setelah berteriak dan menangis, perempuan itu tertawa kembali. "Tidak akan ada yang bisa menghalangi ku untuk menghancurkan keluarga itu. Keluarga Airlangga Baskoro, mantan suamiku. Maafkan aku suamiku sayang, dengan air mata kamu mempercayai ku. Dan dengan air mata pula ku hancurkan hidupmu dan juga putramu." Bu Fatma kembali tertawa lebar.
"Dengan mudah aku menghabisi mu Airlangga, dengan mudah aku juga menghabisi Ryan dengan tanganku sendiri. Lalu, bagaimana dengan Rendra dan keluarganya?"
Drrtt, drrttt, ponsel bu Fatma berbunyi. Dari layarnya tertulis nama Starla.
"Halo," Kata bu Fatma setelah menggeser tombol hijau di ponselnya.
"Apa? Kamu tidak bisa merayu Rendra untuk membiarkanmu tinggal di rumahnya? Bodoh, bodoh kamu Starla. Saya telah keliru memilihmu untuk menjadi sekutuku." Bu Fatma tampak tidak suka dengan apa yang lawan bicaranya katakan dari seberang.
"Saya tidak peduli Starla, yang saya inginkan adalah kamu masuk ke keluarga Rendra dan menghancurkan pernikahan Rendra dengan Luna. Mengerti kamu!"
Dengan wajah merah padam bu Fatma membanting ponselnya ke tempat tidur. Perempuan itu menatap langit-langit atap rumah yang terlihat sangat kotor tersebut. Berusaha memikirkan sesuatu untuk melancarkan keinginannya. Tak lama senyum mengembang dari mulut perempuan jahat itu. "Aku selalu tahu apa yang harus kulakukan. Kita lihat saja."
*****
"Max, dimana baju kotormu? Berikan kepada ibu, biar bisa Inah mencucinya." Kata bu Diana setelah membuka kamar Max dan melihat pemuda itu tengah berdiri di depan jendela. Ya, seperti itulah. Max sudah dianggap putra kandungnya sendiri oleh bu Diana.
"Astaga Max, kenapa meja kamu berantakan sekali. Berapa kali ibu mengatakan, kembalikan barang-barang ke tempatnya Max." Omel bu Diana. "Apakah setelah menikah kamu akan tetap seperti ini hah?" Bu Diana terus mengomel. Namun kalimatnya terhenti saat melihat Max yang hanya diam sedari tadi.
Pelan-pelan bu Diana mendekati pemuda tersebut. Ditepuknya punggung Max samb tersenyum. Max sedikit terperanjat.
"Ibu, sejak kapan ibu disini?" tanya Max sambil menyeka air mata di pipinya. Ternyata anak ini tengah menangis.
"Ada apa Nak? Kamu sedih?" Bu Diana khawatir. Max menggeleng.
Bu Diana tersenyum sambil mengelus rambut Max, "ada banyak hal yang kita tidak mengerti Nak. Semua itu sudah menjadi kehendak Tuhan. Kita hanya tinggal menjalani."
Max hanya menyunggingkan sedikit senyum dari bibirnya berusaha tegar dihadapan orang yang sangat dia hormati itu.
"Kamu merindukan keluargamu?" tiba-tiba pertanyaan itu muncul dari mulut bu Diana.
Max hanya diam tanpa menjawab, sambil menundukkan kepalanya. Disaat itulah bu Diana bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Max.
"Kita hanya bisa berdoa semoga semua menjadi lebih baik. Kamu harus ingat bahwa ibu dan kakakmu akan selalu ada bersamamu untuk mendukung dirimu Sayang. Jangan khawatir! Kita akan selalu bersama dalam keluarga."
Max memandang bu Diana dalam kemudian memeluk perempuan itu dengan manja. "Aku sangat menyayangi kalian bu, aku sangat menyayangi ibu," ucap Max dengan air mata berderai.
"Ibu juga sangat menyayangi mu Nak."