
Luna merasa tertarik dengan apa yang mereka bicarakan. Gadis itu mendekat berusaha mencari tahu lebih banyak tentang parfum yang sedang mereka bicarakan.
“Permisi, bolehkah saya menanyakan sesuatu?” tanya Luna kepada seseorang yang dari tadi diperhatikannya.
“Iya bu ada yang bisa saya bantu.”
“Ah saya sedang mencari parfum, parfum yang biasa dipakai suami saya. Tapi saya tidak tahu parfum tersebut jenis apa.
“Apa Ibu sudah memeriksa katalog?”
“Sudah, saya sudah memeriksa katalog tapi tidak ada yang sama seperti aroma parfum suami saya. Ah, suami saya membeli parfum itu di sini.”
“Apakah boleh kami tahu siapa nama suami Ibu?”
“Narendra Bagaskara”
Orang itu mengangguk kemudian mengetikkan sesuatu di komputernya. Matanya sedikit menyipit setelahnya.
“Ada apa Pak?” tanya Luna sedikit curiga dengan perubahan ekspresi orang tersebut.
“Almarhum Tuan Rendra adalah pelanggan VIP toko kami. Beliau memiliki hak penuh untuk parfum limited yang kami produksi,” jawab orang yang dipanggil Pak oleh Luna tersebut.
Luna memejamkan mata sambil menghembuskan nafas panjang. Jika parfum itu adalah hak penuhnya Rendra, tapi mengapa Doni bisa memilikinya? Sementara Luna tidak akan salah, parfum yang dipakai Doni sama persis dengan parfum yang biasa dipakai Rendra.
“Apakah Bapak juga menjual produk yang sama ke orang?”
“Tidak Bu, sampai kapanpun parfum itu tidak akan pernah kami jual. Kami sangat menghormati Tuan Rendra. Dan kami sudah sepakat untuk tidak memproduksi kembali ataupun menjual parfum tersebut.”
“Lalu apa mungkin ada toko lain yang menjual parfum yang sama dengan parfum itu?” Luna bertanya lagi untuk meyakinkan dirinya.
“Tidak mungkin Bu, parfum tersebut adalah hak paten perusahaan kami,” jawab Bapak itu yakin.
“Kalau boleh tahu kapan terakhir kali suami saya membeli parfum itu di sini?”
Kembali orang itu mengotak atik komputernya, “tanggal 15 bulan lalu,” jawabnya.
Tanggal 15 bulan lalu, itu artinya sehari sebelum kecelakaan itu terjadi.
“Tanggal 15, tuan Rendra mengambil 3 box parfum yang telah dipesan seminggu sebelumnya,” imbuh laki-laki itu.
Luna mengangguk mengiyakan, kemudian berpamitan untuk meninggalkan toko tersebut.
Berarti Doni berbohong, Doni tidak mungkin mendapatkan parfum itu di toko ini. Lalu bagaimana Doni bisa mendapatkan parfum tersebut? Apakah memang benar bahwa Doni adalah…. Luna menghentikan pertanyaannya. Gadis itu menggelengkan kepala, “tidak, ini tidak mungkin.”
*****
Luna memarkirkan motornya di halaman depan. Tampak penjaga rumahnya datang untuk membantu dirinya memasukkan motor tersebut ke dalam garasi.
“Saya akan memecatmu!” Prannngg.. Sebuah teriakan bersamaan dengan suara pecahan piring atau apapun itu dari arah dapur.
Luna terkejut, gadis itu segera menuju ke sumber suara. Tampak bu Fatma dengan wajah penuh dengan amarah menghardik bi Inah, sementara bi Inah tampak sangat ketakutan. Di bagian bawah, terlihat pecahan piring dan
gelas. Entah apa yang telah bu Fatma lakukan.
“Ada apa ini?” tanya Luna.
Bu Fatma sedikit terkejut melihat kehadiran Luna, namun perempuan itu masih tetap bersikap arogan. “Hai menantuku Sayang, apa yang kamu lakukan di luar hingga semalam ini kamu baru pulang?” tanya Bu Fatma kepada Luna.
Luna memutar bola matanya, gadis itu tahu betul apa yang bu Fatma inginkan. Perempuan itu hanya ingin menghinanya.
“Saya bertanya ada apa ini? kenapa piring dan gelas di rumah saya berantakan seperti ini?” ucap Luna yang dibuat searogan ibu mertuanya tersebut tanpa menghiraukan pertanyaan sang mertua sebelumnya.
“Kamu seharusnya memecat perempuan tua ini Luna. Perempuan tidak tahu diri.” Jawab bu Fatma yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan Luna.
“Bi Inah ada apa? Kenapa bibi ketakutan?” Luna beralih ke pembantu yang sangat dekat dengan dirinya itu.
“Maafkan saya Non, tadi bu Fatma memanggil saya untuk meminta jus tapi saya tidak mendengar karena mengurus cucian di belakang. Terus bu Fatma marah-marah dan mengusir saya.”
“Memang kamu perempuan tua budeg!” teriak bu Fatma sambil melayangkan tangan kanannya menuju pipi bi Inah.
Beruntungnya tangan Luna segera memegang pergelangan tangan mertuanya tersebut. “Tidak ada yang boleh menyakiti bi Inah di rumah ini, atau mengusirnya dari sini,” ucap Luna dengan sorot mata tajam.
“Tapi perempuan ini..”
“Perempuan ini lebih baik dari Anda, dia lebih mulia dari Anda, Ibu Fatma. Saat seorang tidak mempedulikan putra tiri yang sangat mencintai dan menyayanginya, bi Inah datang untuk menghapus air mata putra itu. Bi Inah selalu ada untuknya. Bahkan bi Inah tidak pernah mengininkan sepeserpun harta peninggalan sang putra tiri itu.”
Kalimat Luna membuat bu Fatma meradang. Wajah merah yang tampak darinya, menandakan jika perempuan itu sangat marah. “Kurang ajar kamu Luna,” ucapnya dengan sorot mata tajam.
Luna melepaskan tangan bu Fatma dari cengkeraman tangannya. “Bukan maksud Luna untuk kurang ajar terhadap mama, mas Rendra sangat menyanyangimu. Bukalah mata Mama! Mari kita hidup berdampingan dengan baik,” ungkap Luna dengan lembut berharap perempuan itu akan menyadari kesalahannya.
“Tidak Luna, harta ini milik saya. Hanya saya dan Ryan lah yang bisa menguasai harta ini.” Kembali bu Fatma memperlihatkan kearogansiannya.
“Dan saya, Luna, istri mas Rendra, tidak akan pernah mengalihkan semua kekayaan ini kepada kalian. Lebih baik semua harta ini dihibahkan ke panti asuhan, dari pada jatuh ke tangan kalian.”
“Hei Luna, kamu siapa? Kamu hanyalah istri Rendra. Yang paling berhak mendapatkan semua ini adalah anak dari Rendra, sementara kamu? Bahkan melakukan hubungan suami istri saja kalian belum pernah.”
Luna terkesiap mendengar hal tersebut. Apa yang perempuan ini katakan? Batinnya.
“Ryan akan mencari cara untuk menjatuhkanmu Luna. Kami pasti bisa mendapatkan semua ini. Posisi kamu sedang tidak aman.” Bu Fatma tersenyum menyeringai di hadapan Luna, kemudian pergi.
Luna masih terdiam. Ya, bu Fatma benar. Yang paling berhak atas semua ini adalah anak dari Rendra, bukan dirinya. Sementara mereka berdua tidak memiliki anak.