
"Bajingan, apa yang kamu lakukan hahh?" Luna menyeringai sambil menunjukkan kebencian kepada laki-laki yang baru saja menunjukkan wajahnya di lampu temaram sambil membuka lakban di mulut Luna.
"Hai kucing kecil, aku bahkan tidak menyangka kamu bisa melakukan hal ini. Kamu telah membohongiku, kamu telah menjebakku." Ryan mendekati Luna sambil menarik dagu gadis itu kasar.
Luna berusaha menghindar, "aku tidak membohongimu, hanya kamu yang bodoh sehingga mudah dibohongi."
"Tutup mulutmu Luna! Kamu tidak tahu apa yang bisa kulakukan kepadamu kucing liar," ucap Ryan berusaha menggertak.
Namun Luna malah tertawa mendengarnya, tidak ada sedikitpun ketakutan di hatinya. Bagi gadis itu saat ini dirinya tengah berhadapan dengan laki-laki bodoh yang hanya bisa menggertak.
"Diam kamu Luna!" Ryan membentak membuat Luna menghentikan tawanya. Namun wajah gadis itu masih menunjukkan sikap yang menantang.
"Aku tidak bisa terima hal ini, kamu dan Robert telah mempermainkan aku. Apa hubunganmu dengan Robert hah?"
Mendengar hal itu Luna hanya bisa tersenyum. Kamu memang benar-benar bodoh Ryan, batinnya.
"Aku dan Robert, aku dan Robert saling mencintai. Bagaimana apa kamu puas dengan jawabanku? Lagi pula bukankah kamu juga telah menjual ku kepada Robert, jadi, tidak ada masalah bukan?"
"Kamu memang benar-benar kucing liar Luna. Begitu mudahnya kamu melupakan suamimu."
Kembali Luna tertawa, kali ini semakin kencang. Membuat Ryan menjadi kesal lalu pergi meninggalkan gadis itu.
Di kantor Rendra
Rendra atau Robert yang tengah bekerja di kantor dibuat cemas oleh telepon dari Mang Ujang yang melaporkan jika istrinya telah diculik. Laki-laki itu segera menelepon polisi dan juga detektif untuk membawa kembali sang istri.
Rendra berusaha menelpon Luna berharap ponsel sang istri masih dibawa, namun ponsel itu tidak bisa dihubungi. Para penculik itu telah membuang ponsel Luna.
"Sial," umpat Rendra sambil memukulkan tangannya ke tembok. Darah segar mengalir dari punggung tangan itu.
"Ini pasti ulah Ryan, laki-laki biadab itu pasti telah menculik Luna untuk membalas dendam. Tidak Ryan, kamu harus membayar semua yang kamu lakukan kepada istriku. Kamu tidak akan bisa menyentuhnya apalagi menyakitinya."
Ponsel Rendra berbunyi, panggilan dari detektif bayarannya.
"Bagaimana?" tanya Rendra setelah menggeser tombol hijau di ponsel miliknya.
"Sudah selesai Tuan, saya sudah berhasil melacak keberadaan mereka."
"Bagus, segera kirimkan shareloc nya." Rendra tersenyum menyeringai kemudian segera berangkat menju tempat yang telah dikirim oleh detektif itu.
Sementara Luna,
Gadis cantik itu tampak sangat lesu. Wajahnya nampak pucat. Tangan yang sedari tadi diikat di belakang membuat tubuhnya terasa sangat sakit.
"Mas tolong aku," ucapnya sambil meneteskan air mata.
Tak lama Ryan datang bersama bu Fatma. "Kamu telah bermain di belakangku Luna," kata bu Fatma sambil menjambak rambut Luna.
Luna berteriak kesakitan, hal ini membuat bu Fatma semakin keras menariknya.
"Sakit hah, apa sangat sakit rasanya Sayang?" ucap bu Fatma menyeringai.
"Lepas, lepaskan aku!" teriak Luna sambil menangis menahan sakit.
"Inilah akibatnya Luna. Kamu telah bermain di belakang ibu mertuamu. Dan sekarang, aku tidak akan membiarkan hidupmu tenang."
"Cihh, aku bahkan jijik menyebutmu sebagai ibu mertuaku. Aku pun tidak habis fikir bagaimana bisa mas Rendra memiliki ibu tiri seburuk dirimu." umpat Luna yang pastinya membuat perempuan itu meradang
Hingga plakkk, sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Luna. Gadis itu tidak mengeluh ataupun berteriak meskipun darah segar mengalir dari pipinya.
"Kamu..." Kembali bu Fatma mengayunkan tangan hendak kembali menampar sang menantu namun tangan itu dihentikan oleh Ryan.
"Sudahlah Ma, tidak ada gunanya mama mengeluarkan banyak tenaga untuk menghajar Luna. Saat ini kita harus memikirkan cara untuk mendapatkan harta itu kembali," ucap Ryan
Bu Fatma pun menuruti perkataan Ryan. Dengan penuh amarah perempuan itu mendorong tubuh Luna hingga tersungkur.
"Mama tidak habis fikir, bagaimana Robert dan Luna bisa bekerjasama? Bagaimana kamu mengenal Robert, Ryan?"
Ryan memandang ibunya dengan tatapan kosong. Selain sang ibu, fikiran yang sama juga muncul di dalam otaknya. Sementara Luna yang saat ini tengah tak berdaya hanya bisa menahan tawa melihat kebodohan ibu dan anak itu.
"Robert adalah investor dari Amerika, dia tiba-tiba datang menawari ku dan aku mempercayainya Ma."
"Kamu sama seperti ayahmu Ryan, kalian berdua memang bodoh," ucap bu Fatma yang membuat putranya hanya bisa terdiam.
"Apa aku bisa membantu kalian memberitahu siapa Robert?" Dengan suara sayu Luna berusaha ikut berkomentar. Pasalnya gadis itu merasa sedikit kasihan terhadap Ryan karena dipojokkan oleh ibunya.
Ibu dan anak itu melihat ke arah Luna. "Aku sudah mengatakannya Ryan dan kamu tidak percaya. Robert adalah suamiku," kata Luna.
Bu Fatma tercengang mendengar ucapan Luna. "Gadis itu sudah gila Ma," tutur Ryan.
"Sebentar lagi suamimu akan datang menyelamatkanku, apa perlu kalian berkenalan?" Luna tertawa lebar.
Bu Fatma yang sudah sangat marah, kembali ingin memukul Luna. Tangan kanan sudah mulai terangkat hendak mencari mangsa.
"Hentikan!" Sebuah suara membuat mereka terkejut.
Luna tersenyum senang, "suamiku," ucapnya dengan sisa kekuatan yang dimilikinya.
Pemilik suara yang tak lain adalah Robert tersebut berjalan mendekati mereka. Melirik Luna yang tidak berdaya.
"Kamu akhirnya datang Robert, penghianat." Ryan yang sudah kepalang tanggung berusaha memukul laki-laki dihadapannya, namun dengan mudah Robert mampu menangkisnya.
"Apa kabar Ma?" ucap Robert saat tepat di depan bu Fatma sembari mencium punggung tangan wanita itu.
Bu Fatma terkejut akan hal ini, tanpa sadar perempuan itu berkata, "Rendra."
Robert atau Rendra tersenyum, "aku selalu mengatakan kepada Luna kalau Mama adalah ibu yang baik. Dan terbukti, Mama selalu mengenaliku," ucapnya sambil membuka kumis dan juga rambut palsunya.
Bisa dipastikan bu Fatma dan Ryan sangat terkejut melihat hal ini. Orang yang mereka anggap sudah meninggal ternyata masih hidup.
Rendra mendekati Luna yang tak berdaya. Melepaskan semua ikatan di tubuhnya dan memeluk gadis itu dengan iba. "Maafkan aku, aku tidak bisa menjagamu," bisiknya.
Rendra kembali beranjak mendekati ibu dan anak yang masih dalam keadaan terkejut itu. "Maafkan aku Ma, bukan maksudku untuk tidak sopan. Tapi apa yang selama ini telah mama lakukan adalah salah. Aku sudah berusaha memberikan apa yang mama inginkan tapi mama selalu meminta lebih."
Bu Fatma tidak menjawab, perempuan itu sudah tidak mampu berkata apa-apa lagi. Apakah aku akan kembali menjadi gelandangan? Itulah yang ada di fikirannya saat ini.
"Dan Ryan, aku tidak menerima hal ini. Apa yang kamu lakukan kepada istriku sudah melampaui batas."
Pakkk, pakkk, buuugggg, dengan gerakan cepat Rendra mengayunkan tangannya dan memukuli Ryan dengan membabi buta. Laki-laki itu ingin melawan, namun amarah Rendra tidak bisa dielakkan. Rendra seperti kesetanan yang siap menghabisi Ryan.
Tak lama terdengar suara sirene, polisi datang. Hal ini pasti membuat bu Fatma ketakutan. Rendra pasti akan menjebloskan kami ke penjara, batinnya.
"Aaaaaaaaa" Terdengar teriakan dari mulut Luna. Yang otomatis membuat Rendra menghentikan aktifitasnya memukuli Ryan.
"Luna.., " teriaknya saat melihat sang istri terkulai lemas tak berdaya dengan darah yang mengalir dari perutnya.
Ya, bu Fatma telah menusuk Luna di bagian perutnya