PANGERANKU OM-OM

PANGERANKU OM-OM
BAB 58


Waktu yang ditentukan tiba, sebuah pesta syukuran yang besar dan meriah. Luna yang menyiapkan segalanya. Jika gadis itu sudah turun tangan maka semua akan terlihat sempurna.


“Waw, aku tidak menyangka hasilnya akan seluar biasa ini,” ucap Rani yang juga turut andil dalam persiapan acara yang Luna adakan. Sahabat Luna tersebut juga merasa bertanggungjawab atas kebahagiaan bu Diana yang sudah dia anggap sebagai ibunya sendiri itu.


“Iya dong, Luna gitu.” Gadis cantik itu tersenyum puas sembari menyombongkan diri di hadapan sahabatnya.


“Alahh, enggak ingat semingu yang lalu nangis-nangis mohon-mohon datang ke rumah bilang, Ran bantuin aku dong plisss.., enggak ingat yang kayak gitu hahh.” Rani dengan gaya tak kalah songong berusaha menjatuhkan mental sahabatnya itu. Keduanya pun tertawa riang.


“Hay guys, ada yang bisa saya bantu?” Tiba-tiba sebuah suara mengejutkan keduanya. Ya, Max datang dengan pesonanya.


“Kemana aja kamu? Baru nongol udah mau selesai.” Luna mengomel. Max hanya tersenyum simpul sambil menatap Luna. Omelan kakak iparnya itu sudah menjadi makanan sehat baginya sehari-hari.


“Ini, kamu bisa memasangnya di sana,” ucap Rani kepada Max sambil memberikan hiasan bunga yang ada di tangannya.


“Ok,” jawab Max sambil memandang Rani dalam sambil tersenyum manis. Sebuah senyum yang sangat berbeda dari Max.


Luna hanya menganga melihat pemuda pemudi di hadapannya. Max tidak pernah senyum semanis itu di hadapannya. Dan Rani, apa itu? kenapa gadis itu seperti salah tingkah setelah bertemu Max. Apa jangan-jangan? Luna menutup mulutnya dengan tangan, gadis itu tidak ingin jika senyumnya terlihat oleh Rani.


“Apakah di sini?” teriak Max sambil melihat ke arah Rani. Laki-laki itu ingin memastikan bahwa bunga yang telah dia pasang berada di tempat yang tepat. Tapi sepertinya tidak, Max hanya ingin mencari perhatian Rani.


“Ah sepertinya sedikit terlalu ke kanan.” Rani pun juga berteriak menyahut pertanyaan Max.


Luna tertawa kecil sambil terus memperhatikan keduanya yang tengah memasang bunga dengan gaya mereka. Kenapa tidak pernah terfikir olehnya jika hal ini akan terjadi anatara Max dan Rani? Usia mereka tidak terpaut jauh, Max satu tahun lebih muda dari Rani. Tapi tidak apa-apa, mereka berdua sangat serasi.


“Apa yang kamu lakukan Sayang?” Sebuah pelukan dari belakang mengejutkan Luna, gadis itu pun tersenyum dan membelai lembut wajah pemeluknya saat tahu bahwa itu adalah Rendra.


“Lihatlah itu!” Luna menunjukkan kepada Rendra, Max dan Rani yang sedang sibuk. “Mereka sangat serasi bukan? Apa kamu bisa melihat cinta di mata keduanya?”


Rendra tersenyum, “iya, aku bisa melihatnya. Sepertinya…”


“Ini berita yang sangat bagus. Biarlah mereka saling mengenal. Aku sangat mengenal keduanya, dan mereka memang sangat cocok,” ucap Luna.


“Lalu bagaimana denganku Sayang?” tanya Rendra sambil mengecup leher jenjang sang istri.


Luna membalikkan badan, “apa yang terjadi denganmu Mas?” tanyanya heran.


“Aku sangat merindukanmu. Tidak bisakah kita meninggalkan tempat ini dan juga pasangan itu? aku telah terjerat oleh pesonamu. Dan kini kamu harus bertanggungjawab untuk itu.”


Rendra memutar bola matanya, tidak mungkin dirinya akan menjelaskan dengan gamblang masalah yang saat ini sedang dia hadapi. Tanpa ba bi bu, laki-laki itu segera mengangkat tubuh istrinya dan menggendongnya menuju kamar.


“Mereka sangat serasi bukan,” ucap Max yang kini telah berada di samping Rani. Keduanya masih memperhatikan pasangan yang kini berjalan menuju kamar.


“Iya, sangat serasi dan sangat bahagia. Kebahagiaan yang sangat pantas mereka dapatkan setelah perjalanan cinta yang tidak mudah untuk keduanya.”


“Hidup memang tidak seindah apa yang kita inginkan,” terang Max yang kali ini membuat Rani menatapnya.


“Tapi kita pasti akan mendapatkannya jika kita bersabar. Bahkan lebih dari apa yang kita inginkan.” Rani mengatakan kalimat terakhirnya penuh penekanan, sedikit banyak dia tahu tentang apa yang dialami Max.


“Kamu benar, aku pun juga sangat bahagia saat ini. aku tidak pernah membayangkan akan memiliki kehidupan seperti ini setelah apa yang terjadi padaku beberapa waktu yang lalu.” Max bernafas panjang berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh, ingatannya melayang pada kenangan bersama sang adik, Chloe.


Rani menepuk punggung Max dengan harapan bisa memberikan kekuatan pada laki-laki di sampingnya.


“Ah sorry, sorry, aku terlalu…”


“Don’t worry Max, semua orang berhak untuk menangis termasuk kamu. Keluarkan apa yang ada di hatimu. Aku akan berusaha menjadi pendengar yang baik untukmu,” kata Rani yang mampu membuat Max tersenyum senang. Entah kenapa laki-laki itu merasa sangat nyaman saat berada di dekat Rani.


“Dari dulu aku tidak tahu apa arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Papa bekerja sepanjang hari, mama keluar dengan teman-temannya hingga larut. Chloe adalah duniaku. Kami berdua besar dengan sendirinya. Tidak ada kasih sayang dan juga cinta dari mama. Hanya papa yang selalu mengasihi kami meskipun kami sangat jarang bertemu.” Max memulai ceritanya, sementara Rani mendengar dengan seksama.


“Saat setiap anak mendapatkan belaian kasih sayang dari ibu mereka, kami hanya mendapatkan pukulan dan cacian. Papa bilang itu hanya karena mama yang terlalu lelah, dan beliau minta kami untuk membantu menyelesaiakan pekerjaan rumah. Tapi semakin lama aku sadar, jika mama tidak lelah. Mama hanya memikirkan dirinya sendiri.” Rani kembali menepuk punggung Max, gadis itu bisa merasakan emosi besar dari dalam tubuh Max yang dia pendam sejak kecil.


“Aku bersyukur sekali memiliki kak Rendra. dia bukan kakakku, bukan putra kandung mama, tapi kakak sangat menyayangi kami. Chloe pun sangat menyayangi kak Rendra, bahkan gadis kecil itu menyayangiku kak Rendra lebih dari dia menyanyangiku. Selain cinta kak Rendra juga selalu memberi kami uang, tapi mama selalu menghabiskan uang kak Rendra dengan berfoya-foya. Uang sekolah kami, uang kesehatan Chloe, semua mama gunakan untuk kebahagiaannya sendiri.” Max meneguk minuman dari gelas yang dia pegang. Saat ini hatinya telah penuh dengan rasa emosi.


“Mama memang perempuan yang jahat. Tidak bersyukur dengan apa yang telah kak Rendra beri, mama masih terus ingin menghancurkan kak Rendra bersama anak terdahulunya Ryan. entahlah siapa Ryan, aku sama sekali tidak tahu jika memiliki kakak tiri bernama Ryan. Bahkan keduanya menculik bu Diana hingga mengalami depresi seperti dulu.” Max mulai meneteskan air matanya. Kali ini dirinya tidak bisa membendung air mata itu lebih lama lagi.


“Apa kamu tahu Ran, aku sama sekali tidak menyangka terbuat dari apa keluarga ini? aku tidak tahuterbuat dari apa hati kak Luna, hati kak Rendra, hingga mereka berdua masih bisa menerimaku untuk tinggal di sini dan menerimaku sebagai anggota kelurga. Dan ibu, bu Diana, malaikatku, ibu periku, aku sudah tidak lagi memiliki


kalimat yang bisa menggambarkan betapa baik hati dan tulusnya perempuan itu Ran.” Air mata Max mengalir semakin deras.


Rani pun memeluk Max, gadis itu tidak tega melihat Max dalam keadaan seperti ini. “Aku tahu, aku faham dengan apa yang kamu rasakan Max.”


“Tidak ada orang sebaik bu Diana, Ran. Beliau masih mau menerimaku setelah apa yang telah ibu kandungku perbuat kepadanya. Bu Diana masih memelukku, masih mengecup keningku dengan cinta, memberiku makan dengan tangannya, mendoakanku.” Max terus menangis.


“Kamu orang baik Max, kamu pantas mendapatkan semua ini. Kamu sangat pantas mendapatkannya.” Kali ini Rani mengatakan dengan cucuran air mata yang juga tiba-tiba mengalir dari matanya.