
Beberapa hari kemudian keadaan Luna semakin membaik. Gadis itu sudah memulai aktivitas seperti biasa. Bergelut dengan jadwal kuliah dan juga tugas-tugasnya. Apa lagi ini adalah semester terakhir baginya.
“Kamu jangan terlalu lelah Lun, ingat kamu baru sembuh,” kata Rendra saat melihat istrinya yang seharian duduk di depan laptop.
Luna tersenyum sambil melirik suaminya. Laki-laki itu sangat perhatian kepadanya. Tak jarang Rendra pun membantu Luna untuk menyelesaikan tugas kuliah disela-sela kesibukannya.
Hal ini membuat Luna sangat senang. Gadis itu mengakui jika Rendra memang sangat mencintainya. Lalu bagaimana dengan dirinya? Sedikit demi sedikit rasa cinta itu pun juga tumbuh di hati gadis itu.
“Nanggung Mas, tinggal dikit,” jawab Luna, “kamu mau kemana Mas?” imbuh Luna saat dirinya melihat Rendra tengah mengemasi pakaiannya ke dalam koper.
“Maaf mas belum bilang ke kamu. Mas ada acara mendadak di luar kota dan pulang besok.”
“Apa? Kenapa harus pulang besok?”
“Tempatnya jauh Lun, mas tidak mungkin harus pulang dulu dan kembali esok hari.”
“Boleh ikut?” tanya Luna malu-malu, entah bagaimana kalimat itu bisa keluar dari mulutnya. Yang Luna tahu saat ini dirinya merasa gelisah. Belum pernah Rendra akan pergi selama ini.
Rendra tersenyum gemas melihat ekspresi istrinya. Didekatinya gadis itu perlahan, kemudian meletakkan dua tangan kekarnya di pipi Luna.
“Kamu di rumah saja, mas akan kembali secepatnya.”
“Tapi…”
“Mas akan segera kembali, jaga dirimu baik-baik,” kata Rendra dengan menatap Luna, tatapan yang penuh dengan cinta, tatapan yang membuat Luna tidak bisa berkata-kata lagi.
Cuup, sebuah kecupan mesra mendarat di kening Luna. Luna tersenyum sambil menikmati kecupan itu, sama sekali tidak ada penolakan darinya. Hal ini membuat Rendra senang.
“Aku meninggalkan sesuatu untukmu, hari ini seorang kurir akan mengantarnya, tunggulah!” kata Rendra sebelum meninggalkan Luna.
*****
“Non Luna, ada paket untuk Non. Baru saja ada kurir yang mengantar,” kata bi Inah sambil berlari mendekati Luna yang tengah menikmati malam siangnya.
“Oh iya,” jawab Luna. gadis itu teringat akan pesan Rendra yang meninggalkan sesuatu untuknya melalui kurir.
Luna segera membuka paket itu setelah menyelesaikan makan siangnya. Gadis itu duduk di teras belakang rumah Rendra sambil menikmati hawa segar dari tanaman-tanaman yang ditanamnya di tempat ini.
Apa ini? Tanya Luna dalam hati sambil membuka paket tersebut. Paket itu berisi sebuah buku di dalamnya. Selama beberapa detik buku tersebut berhasil membuat Luna menganga. Buku tersebut adalah novel karangan Narendra Baskoro yang bertajuk “De Luna”.
Masih tampak jelas di ingatan Luna, bagaimana Rendra mengatakan keinginan untuk membuat buku tentang dirinya. “Jangan!” jawab Luna kala itu saat Rendra mengatakan maksud hatinya.
“Apa yang ingin kamu tulis dariku?”
“Aku ingin menulis semua tentang dirimu, kejahilanmu, kenakalanmu…”
“Ihhh, enggak, enggak, enggak mau,” teriak Luna kemudian meninggalkan Rendra.
Luna tertawa sendiri sambil memegang buku dengan cover lukisan gadis yang mirip dirinya itu. Ternyata kamu benar-benar menulisnya. Hhhm, kita lihat apa yang kamu tulis tentangku Tuan Rendra. Aku tidak akan memaafkanmu jika kamu menulis yang tidak-tidak tentangku. Ucap Luna seorang diri.
Luna membuka halaman itu satu per satu, senyumnya mengembang saat Rendra pun membubuhkan tanda tangannya di balik cover novel tersebut. “Kali ini kamu mendapatkannya gratis, tanpa harus berlarian di kantor.” Kalimat itu tertulis di sebelah tanda tangannya.
Luna terus membuka halaman demi halaman, membaca tiap kata yang Rendra tulis. Kata-kata yang mampu membuat dirinya melambung. Di setiap kata, gadis itu bisa merasakan cinta yang begitu besar dari Rendra untuknya.
Gadis cantik, tapi nakal, akankah kamu mencintaiku?
Sebuah kalimat yang membuat Luna tersenyum manis sambil menutupi rasa malu dengan buku yang ditutupkan ke wajahnya.
Yang terluka tanganku, tapi kamu menangis untukku. Tidak sadarkah dirimu bahwa itu adalah cinta?
Kembali kalimat di buku itu mampu membuat Luna mengangkasa. Gadis itu memejamkan mata untuk beberapa saat. Mencoba masuk ke dalam hatinya, mencoba merasakan apa yang ada di dalamnya. Rasa apa ini? Apakah ini cinta?
Kembali Luna membalik halaman buku yang tebal itu. kalimat demi kalimat dibacanya. Tidak henti-hentinya gadis itu mengulumkan senyum manis dari bibirnya. Ini seperti kembali ke beberapa waktu yang lalu dengan POV Rendra.
“Kenapa kamu tidak pernah mengatakannya di depanku? Dasar laki-laki payah,” ucap Luna saat membaca kalimat Rendra yang menuliskan tentang betapa cantiknya dirinya di hadapan laki-laki itu. “Mungkin aku bisa lebih memikirkannya jika kamu mengatakan kalimat ini langsung di hadapanku,” imbuh Luna masih dengan tawa
bahagianya.
“Hei, bukankah kamu bilang masakanku enak? Hanya sedikit terlalu asin. Tapi di sini kamu menulis jika aku gadis manja yang tidak bisa memasak. Akan ku buat perhitungan denganmu, lihat saja.” Luna menyeringai sambil terus tersenyum.
Sekitar
seperempat halaman buku telah Luna baca hari ini. Buku yang benar-benar menceritakan
semua tentang dirinya. Luna bagai bercermin melihat dirinya sendiri di buku
ini. Rendra begitu mengenalnya dari luar maupun dalam.
“Mas Rendra aku merindukanmu, kapan kamu pulang?” kata Luna yang dengan sadar berhasil keluar dari mulutnya.