
Rendra berjalan menuju kamar di tempat persembunyiannya sambil membawa secangkir kopi yang baru saja dia buat. Kopi hitam dengan sedikit gula. Pahit memang, karena rasa manis tidak cocok untuk laki-laki semanis Rendra. Rasa yang over manis tidak terlalu enak bukan?
Laki-laki itu membuka laptop yang berada di depannya. Mulai mengetikkan sesuatu dan tersenyum senang setelahnya.
"Kena kau," serunya bersamaan dengan senyum merekah dari bibir maskulinnya.
Entah apa yang sedang dia kerjakan. Pastinya laki-laki itu sedang berbahagia saat ini. Sepertinya apa yang dia inginkan telah tercapai.
Rendra meraih ponsel hendak membuat panggilan, kontak dengan nama ISTRIKU SAYANG sudah siap untuk dipencet tombol teleponnya. Namun niat itu dia urungkan. Ada hal lain yang menyebabkan dirinya tidak melanjutkan niatnya tersebut.
Sreek, srek, terdengar sebuh suara dari luar. Rendra terkejut, suara apa itu? batinnya.
Sreek, sreek, kembali suara yang sama muncul. Apakah bi Inah? ucapnya sambil melihat jam di tangannya. Kepala Rendra menggeleng, mereka tidak akan datang di jam seperti ini.
Sreek, sreek, kali ini suara itu lebih dekat. Dan tidak hanya itu, Rendra mulai mendengar suara deru langkah mendekati kamarnya.
Laki-laki itu mulai curiga, perasaannya mulai campur aduk tak karuan. Apakah ada penyusup? Apakah orang lain telah mengetahui tempat ini?
Rendra beranjak dari tempat duduknya, kemudian mengambil tongkat besar yang ada di dekatnya untuk berjaga-jaga. Dengan mengendap-endap, Rendra berjalan menuju ke depan. Apapun yang terjadi laki-laki itu sudah siap
dengan tongkat di tangannya.
Namun suara itu hilang bersamaan dengan posisi Rendra yang sudah berjalan keluar kamar. Dimana orang itu? fikirnya sambil mengedarkan pandangannya ke berbagai penjuru.
Rendra tidak menemukan apapun, hingga akhirnya laki-laki itu segera berlari setelah melihat Luna tengah tertunduk lesu duduk di lantai sambil memeluk kedua lututnya.
"Luna, Sayang kamu kenapa?" seru Rendra setelah tahu orang yang dicurigainya ternyata adalah istrinya sendiri.
Luna tidak menjawab, gadis itu memandang Rendra dengan tatapan tajam sambil menangis tersedu.
"Ada apa Sayang?" Ulang Rendra sambil menghapus air mata di pipi istrinya.
Luna memeluk Rendra erat, tidak ada jawaban dari bibir manis gadis itu. Hanya suara isak tangis yang mampu keluar. Hal ini membuat Rendra iba melihatnya.
"Mas," ucap Luna pertama setelah memeluk suaminya begitu lama. Dan selama itu pula Rendra tidak bicara apapun. Dia lebih memilih diam sambil mengelus rambut Luna.
"Iya Sayang, kamu kenapa?" Laki-laki itu bertanya kembali setelah dia mengira Luna sudah mulai mau bicara.
"Maafkan aku Mas, maafkan aku." Kembali Luna menangis tersedu. Hal ini membuat Rendra sangat bingung. Namun dia lebih memilih diam. Nanti Luna pasti akan menceritakannya, mungkin saat ini gadis itu membutuhkan waktu untuk merangkai kata dan juga mengatur emosinya.
"Mas, Ryan akan menjual seluruh saham perusahaan," ucap Luna yang otomatis membuat Rendra terhenyak. "Laki-laki itu telah melakukan perjanjian dengan pria asing. Dan besok perusahaanmu akan diambil alih oleh investor itu Mas." Luna kembali terisak.
Tampak sekali kesedihan di hati Luna. Meskipun dirinya baru sebentar bekerja dan mengelola perusahaan itu. Namun hatinya sudah terpaut di sana. Senyum para karyawan dan kebaikan mereka, itulah yang membuat Luna terasa sangat berat untuk melepasnya.
Begitupun Rendra, laki-laki itu sudah barang pasti lebih sedih dari Luna. Perusahaan yang dia besarkan dari 0, kini akan diambil alih oleh orang lain begitu saja.
"Aku tahu Mas sangat sedih mendengarnya. Ryan sangat bodoh Mas, bahkan aku sama sekali tidak bisa menelisik jalan pikirannya. Bagaimana dia bisa mengambil kesimpulan dan melakukan keputusan bodoh itu?"
Luna menjelaskan tentang apa yang tadi telah diperdebatkan olehnya dan Ryan kepada Rendra. "Ryan hanya memikirkan dirinya sendiri, dia tidak pernah memikirkan orang lain, bahkan kamu dan perjuangan mu Mas." Luna merasa sangat geram.
Rendra mengambil nafas panjang, kemudian berjalan ke dalam. Luna memperhatikan, gadis itu memalingkan wajah. Namun tak lama berselang, Luna kembali menengadah dan bergegas menyusul suaminya. Berita ini pasti akan sangat berat didengar oleh Rendra. Dan saat-saat seperti ini juga sesuatu yang buruk bisa saja terjadi padanya.
"Mas, Mas Rendra," panggil Luna sambil mencari keberadaan sang suami.
"Mas Rendra," ucapnya lagi saat melihat sang suami tengah berdiri di cermin sambil memakai kumis dan rambut palsu.
Rendra melihat Luna sekilas, kemudian melakukan kembali aktivitasnya mencoba beberapa kumis dan memasangkan dengan rambut palsu.
"Kamu ngapain Mas?" tanya Luna yang pastinya sangat heran melihat kelakuan suaminya. Ketakutan akan hal buruk yang terjadi pada Rendra, malah hal konyol yang dia lihat.
"Sayang lihatlah! Lebih pantas mana ini atau ini atau yang ini?" tanya Rendra sambil mencoba-coba kumis palsu.
"Mas kamu ngapain? Di kantor semua pada bingung tapi kamu malah asyik memilih kumis. Mas kamu baik-baik saja kan?"
Rendra tertawa mendengar pertanyaan istrinya, apalagi melihat ekspresi Luna. Gadis itu pasti berfikir jika Rendra sudah gila karena memikirkan kelakuan Ryan.
Luna terkejut mendengarnya. Gadis itu berfikir sambil membuka mulutnya lebar. Rendra pun semakin mengeraskan tawanya.
"Jadi, ini semua. Jadi investor yang dibicarakan Ryan itu kamu Mas."
Rendra mengangguk, Luna pun tersenyum dan tidak menyangka jika ketakutannya beberapa jam yang lalu hanyalah sebuah permainan yang diciptakan oleh suaminya sendiri.
"Kamu selalu mempermainkanku," kata Luna dengan memukul dada bidang suaminya.
"Maafkan aku Sayang, tapi aku juga membutuhkan dirimu dalam permainan ini."
"Maksudnya?"
"Ryan tidak akan percaya begitu saja jika kamu menyetujui penjualan saham tersebut." Luna mengangguk memahami maksud suaminya.
"Aku berusaha menjebak Ryan, dengan begini aku bisa mendapatkan banyak bukti kejahatannya dan menjebloslan bajingan itu ke penjara."
Luna kembali mengangguk mengiyakan. Rendra benar, kejahatan Ryan sudah tidak dapat dimaafkan. Jika dibiarkan laki-laki itu akan menghancurkan semuanya.
"Tapi, tapi kamu harus bertanggungjawab," ucap Luna tegas. Rendra memperhatikan istrinya dengan bingung.
"Kamu telah membuatku menangis, membuatku takut, membuat tidur siang ku terganggu. Dan kini kamu harus menanggung akibatnya." Luna cemberut.
Tapi hal ini sangat disukai oleh Rendra, dia tahu benar apa yang istrinya itu inginkan saat ini. Laki-laki tampan itu melingkarjan tangannya di pinggang sang istri. Mengecup pipi kanan Luna seraya berkata, "aku siap melakukan apapun untuk tuan putri cantikku."
"Baiklah, huff, masalah ini membuatku pusing dan lapar. Jadi, aku ingin kamu memasak makanan kesukaanku. Lalu memijat kepalaku."
"Siap tuan putri," ucap Rendra sambil meletakkan telapak tangannya di pelipis bergaya seperti prajurit di hadapan atasannya.
"Tapi tidak ingin masakan yang berkuah, aku ingin masakan yang sedikit manis namun ada asamnya dan juga...."
"Iya Tuan Putri cerewet.., " sanggah Rendra sambil mencubit pipi Luna.
***
"Hai kucing kecilku kamu baru pulang? Hei kenapa wajahmu terlihat bahagia? Dari mana dirimu hah? Apakah kamu habis bersenang-senang?"
"Tutup mulutmu Ryan! Bukan urusanmu."
"Sebentar lagi akan menjadi urusanku, karena kamu akan menjadi milikku Luna."
"Cihh, sampai kiamat pun itu tidak akan terjadi," balas Luna kemudian berlari masuk ke kamarnya.
Ya, bersama Rendra membuat Luna lupa waktu hingga pulang larut malam. Gadis itu tahu betul bahwa Ryan atau bahkan bu Fatma akan curiga dengan kelakuannya. Inilah yang membuat gadis itu segera menghindari mereka.
Ryan tersenyum menyeringai melihat punggung Luna, "kucing kecil sampai kapan kamu menghindar? Aku sudah tidak sabar untuk memelukmu dan menjadikanmu milikku. Ah kamu begitu menggairahkan."
"Tutup mulutmu Ryan!" Sebuah pukulan mendarat di punggung Ryan membuat laki-laki itu sedikit mengerang.
"Mama, apa yang mama lakukan?" protesnya pada perempuan yang baru saja memukul punggungnya itu.
"Baru saja Rojak menelpon. Wanita itu berhasil kabur."
"Apa?" Ryan terkejut mendengarnya, "bagaimana bisa Ma?"
"Mama pun juga tidak tahu Ryan, saat ini Rojak dan orang-orang nya tengah mencari keberadaan perempuan itu. Ah mama tidak bisa berfikir lagi sekarang."
"Aku sudah bilang Ma, lebih baik kita habisi wanita itu sejak dulu. Kalau seperti ini kita repot Ma. Bagaimana jika..."
"Tidak Ryan, tidak. Saat ini wanita itu gila. Tidak akan ada yang mengenalinya."
Ryan menghembuskan nafas panjang. Memperhatikan sang ibu yang tampak sangat gugup. "Mama tenanglah! Rojak dan orang-orang nya pasti bisa menemukan wanita gila itu," hibur Ryan terhadap sang ibu.
"Siapa yang mereka maksud? Wanita gila?" ucap Luna seorang diri yang juga mendengar apa yang tengah ibu dan anak itu bicarakan.