PANGERANKU OM-OM

PANGERANKU OM-OM
Bab 63


Ryan berjalan dengan terseok, hatinya terasa hancur saat ini. Jika tidak ada kacamata hitam yang menutupi mata, mungkin semua orang bisa melihat jika saat ini mata itu bengap karena terlalu banyak air mata yang jatuh.


Tidak dia hiraukan beberapa pasang mata yang kini tengah memperhatikannya. Entah memperhatikan karena cara jalannya, ataupun memperhatikan karena merasa mengetahui laki-laki yang tengah berjalan terseok tersebut. Bagaimana tidak, sejak kabur dari tahanan, Ryan adalah orang paling dicari di kota ini. Bahkan pihak kepolisian telah menjanjikan hadiah berupa uang jika seseorang bisa memberikan informasi tentang Ryan.


Ryan terus berjalan, hingga sampai di sebuah rumah kecil, rumah tempat persembunyiannya selama ini bersama sang ibu sampai akhirnya mereka ditangkap. Ryan masuk ke rumah itu, kemudian segera berjalan menuju lemari dan membukanya.


Sebuah kotak kecil yang terbuat dari kayu. Meskipun usianya sudah tua, namun terlihat jika barang tersebut sangat kuat. Ryan mengambil kotak itu. Bibirnya sempat tersenyum kecil kala mengingat bagaimana dirinya dulu mendapatkan kotak tersebut dari sang ayah.


Ya, itu adalah kotak hadiah dari ayahnya saat Ryan berulang tahun yang ke enam. Saat itu Ryan masih tinggal bersama bu Diana dan juga suaminya.


Dengan pelan Ryan membuka kotak tersebut. Kotak yang mamanya sama sekali tidak mengetahunya. Kotak itu berisi beberapa foto. Foto masa kecilnya dan juga kebersamaannya dengan sang ayah.


Ryan memang sengaja merahasiakan kotak tersebut dari mamanya, karena dia tidak ingin mamanya marah dan berakhir dengan membuang kotak tersebut. Laki-laki itu tahu jika sang mama tidak menyukai almarhum suami pertamanya itu. Kotak tersebut adalah peninggalan satu-satunya dari sang papa, Ryan menjaganya dengan sangat baik.


Seperti biasa, saat gundah, Ryan memandang foto papanya. Wajah teduh papa kandungnya itu membuat dirinya tenang dan lebih kuat dalam menghadapi segala hal. Berbeda sekali dengan sang mama yang selalu menjelek-jelekkan.


"Papa, kamu sangat tampan dan gagah. Aku sangat merindukan mu pa." Kata Ryan sambil memeluk foto tersebut.


Namun mata Ryan tertuju pada sebuah kertas yang berada di bagian dalam kotak itu. Bagian dalam yang ternyata masih bisa dibuka. Ryan penasaran dan segera mengambilnya.


"Apa ini?" Katanya sambil mengangkat tutup merah dalam kotak itu. Sungguh, dirinya baru menyadari jika ada tempat lain di kotak yang selama ini dia simpan.


Sebuah kertas. Ya, kertas yang sudah sangat usang karena usia. Ryan membukanya pelan-pelan, jika tidak kertas itu akan robek.


Ryan putraku,


Entah bagaimana bisa ku ungkapkan dengan kata-kata, betapa besar kasih sayang ku kepadamu Nak. Kamu adalah pelipur hati, pembawa kebahagiaan kepadaku. Terimakasih telah hadir ke dunia dan melengkapi hidup papa.


Tapi maaf, ternyata kasih sayang saja tidak cukup untuk membuat diri ini berarti. Ada banyak hal yang papa tidak bisa lakukan untuk kebahagiaanmu dan mamamu. Ah, mungkin saat ini kamu masih terlalu kecil untuk memahaminya. Tapi percayalah Nak, apapun yang papa lakukan semua hanya untuk kalian berdua.


Maafkan papa, telah membuat kalian berdua menderita. Papa pun juga tidak menyangka akan mengalami hal seperti ini. Kesalahan terbesar yang pernah papa lakukan seumur hidup ini.


Papa tahu papa salah. Perbuatan buruk yang tidak patut untuk dicontoh. Bahkan papa malu untuk menceritakan kepadamu.


Di luar mungkin banyak sekali spekulasi-spekulasi demi kepentingan pribadi. Namun kebenarannya adalah papa melakukan perbuatan buruk dan menghianati orang-orang baik seperti Airlangga.


Hidup memang kejam Ryan, bahkan lebih kejam daripada tajamnya belati. Mamamu selalu mengancam untuk meninggalkanku kembali dan membawamu dariku. Hanya karena gaji papa di kantor Airlangga yang kecil.


Lalu saat ada kesempatan aku berusaha mencuri uang perusahaan. Dan saat itu juga aku kehilangan sahabatku, aku kehilangan orang-orang yang selalu membantuku. Airlangga dan Diana, bukan hanya orang tua angkatmu mereka adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk nenjagamu.


Tetapi setidaknya mamamu akan bahagia karena hal ini. Kulakukan pekerjaan diluar nalar ini dengan baik demi kebahagiaannya. Tapi entahlah, selalu saja ada yang salah dimatanya.


Dan akhirnya, papa tidak tahan lagi. Rasa malu ku kepada keluarga Airlangga membuatku kehilangan arah. Mereka sangat baik, saat mengetahui kejahatan ku mereka tidak marah, malah menawarkan diri untuk terus menjadi orang tua asuh bagimu. Papa hanya ingin pergi dari dunia yang sangat kejam ini.


Sekali lagi, maafkan papa Nak.


"Papa...."


Ryan berteriak, saat goresan pena di kertas tersebut sudah habis terbaca, laki-laki itu merasa sang papa ada selalu bersamanya.


Ryan memeluk kertas tersebut sambil duduk tersungkur di lantai. Banyak sekali hal yang ada di otaknya saat ini.


Hingga pada sebuah kesimpulan besar yang muncul begitu saja dari mulutnya. "Ini semua karena kerakusan mama!"


Ryan juga ingat apa yang telah Max katakan kepadanya. Tentang masa kecil keduanya dan juga kematian Chloe. Ryan menghembuskan nafas panjang. Beberapa jam yang lalu dirinya masih memuja-muja sang mama, tapi sekarang, tidak.


"Sudah cukup Ma, aku sudah mengerti semuanya. Mama hanya menggunakan diriku sebagai pion untuk mendapatkan apa yang mama inginkan. Sekarang tidak lagi."


"Bu Diana," Ryan mengingat sesuatu tentang perempuan yang dulu juga ikut andil dalam membesarkannya. Laki-laki itupun menangis, menangis sejadi-jadinya.


"Ibu, maafkan aku... Maafkan aku bu!" ucap Ryan sambil terus menangis.