PANGERANKU OM-OM

PANGERANKU OM-OM
BAB 59


“Kenapa kamu begitu cantik Sayang?” Rendra memandang Luna tanpa berkedip. Gadis yang tengah memoles wajahnya di depan cermin itu tampak sangat cantik seperti seorang bidadari yang dulu selalu Rendra impikan.


Luna tersenyum mendengar pujian yang hampir setiap hari keluar dari mulut sang suami. “Segeralah mandi! Satu jam lagi acara akan dimulai. Aku telah menyiapkan semua peralatanmu di sana.” Luna menunjukkan pakaian yang tergantung rapi di sudut kamar.


Rendra tidak beranjak, laki-laki yang hanya memakai handuk di bagian bawahnya itu masih ingin bermanja dengan kehangatan tubuh sang istri. Rendra mulai mendekati Luna kemudian mengenduskan kepalanya di leher istrinya. Dasar Rendra, om-om itu selalu merasa kurang dan ingin terus melakukannya. Meskipun belum ada setengah jam yang lalu permainan mereka selesai.


“Bolehkah sekali lagi?” Rendra memelas seperti anak kecil yang tengah merengek minta permen.


Tapi bukan Luna namanya jika tidak melakukan hal yang diluar nalar. Gadis itu tahu benar apa yang suaminya inginkan. Diambilnya gunting yang tergeletak di meja riasnya lalu dimainkan. “Mau lagi?” ucapnya sambil melirik sang suami.


Rendra hanya bisa meringis, kemudian segera berlari menuju kamar mandi. Luna terlihat menakutkan saat seperti ini. apa jadinya adik kecil di bawah, jika Luna memainkannya dengan gunting di tangan. Ah tidak, jangan!


Luna tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan tingkah Rendra. “Sukurin,” ucapnya sambil terus tertawa. Kemudian melanjutkan pekerjaannya memoles wajah dengan make up.


“Aku harus cepat, aku pun harus membantu ibu untuk bersiap,” ucap Luna kepada dirinya sendiri. Saat ini dirinya tengah tergesa-gesa.


Drrt.. drtt.. sebuah pesan masuk ke ponsel gadis itu.


[hai cantik, tunggu kejutan dariku.]


Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk ke ponsel Luna. Gadis itu berusaha menerka-nerka siapa pengirim pesan tersebut. Kejutan? Kejutan apa?


“Luna, Sayang, dimana kaos dalamku?” teriak Rendra yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Perhatian Luna terpecahkan, gadis itu tidak melanjutkan untuk memikirkan siapa pengirim pesan tersebut. Luna segera mengangkat tubuhnya dan mulai membantu sang suami.


“Terimakasih Sayangku,” ucap Rendra yang hanya dibalas dengan putaran bola mata dari Luna.


“Berapa kali harus kukatakan Mas, saat mencari usahakan kedua mata terbuka dan melihat ke segala arah.” Omel Luna yang sepertinya sangat geram dengan ulah sang suami. Ya mungkin, suami-suami di seluruh dunia pun juga pernah melakukannya.


“Sudah Sayang, tapi tidak ada. Aku juga sudah mencarinya di tempat itu tadi.” Rendra berusaha membela diri. Eits, jangan lupa! Seberapa benar suami, seberapa pintar suami, dia selalu salah di hadapan istrinya.


“Karena kamu mencarinya enggak sambil membuka mata.”


Apakah sedari tadi mataku tertutup? Kata laki-laki itu dalam hati. Kalimat yang tidak mungkin dia keluarkan dari mulutnya. Perang akan dimulai jika sampai kalimat itu terdengar oleh Luna. Rendra hanya bisa menarik nafas panjang, berusaha memberikan kekuatan untuk dirinya sendiri. Jika bukan dirinya, siapa yang akan memberikan kekuatan kepada dirinya. Ah, rumit.


“Aku akan ke kamar ibu, aku akan membantu ibu menyiapkan dirinya. Ibu harus terlihat istimewa malam ini.” kata Luna yang membuat hati Rendra menjadi adem. Bagaimanapun dan apapun istrinya, Luna tetap gadis manis dan baik hati yang dia cintai. Gadis yang mencintainya dan juga sangat menyanyangi ibunya.


“Aku akan ke bawah terlebih dahulu untuk menyapa para tamu,” ucap Rendra sambil membuka tutup parfum kesukaannya.


Namun tiba-tiba, hueekk, hueekk…


Luna segera berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi perutnya. Rendra yang terkejut segera mengejar sang istri dan memijat punggungnya.


“Entahlah Mas, tiba-tiba aku merasa sangat mual saat mencium aroma parfum milikmu,” jawab Luna sambil menyeka keringat di keningnya.


“Parfum, bukankah kamu sangat menyukai parfum itu?” Rendra sedikit heran dengan apa yang Luna katakan. Ya, parfum itu adalah parfum khas yang dimiliki Rendra. Luna sangat menyukainya. Tapi kini, kenapa gadis itu muntah saat menciumnya?


“Aku tidak tahu.”


Rendra pun menuntun Luna menuju tempat tidur. “Jika kamu masih merasa tidak enak, sebaiknya istirahat saja di kamar Sayang.”


Luna menggeleng keras. “Tidak Mas, pesta ini sudah lama aku nantikan. Kita membuat pesta ini untuk membuat ibu bahagia. Bagaimana bisa aku tidak ada di acara penting ini?”


“Tapi Lun..”


“Aku mungkin butuh sekitar 10 menit untuk istirahat. Kamu keluarlah dahulu Mas. Mungkin orang-orang di bawah membutuhkanmu,” ucap Luna saat mengetahui ponsel Rendra berkali-kali berbunyi.


Dengan berat hati Rendra pun meninggalkan sang itri yang tampak sedikit lemah itu. Luna berusaha tersenyum, meyakinkan suaminya bahawa dirinya akan baik-baik saja.


Luna merebahkan tubuhnya di tempat tidur setelah Rendra menutup pintu kamar. tidak dihiraukannya gaun cantik yang saat ini tengah membalut tubuhnya. Gadis itu merasa sangat lemah. Apa yang terjadi denganku?


Tanpa sadar mata Luna tertuju pada kalender kecil yang terletak di nakas milik Rendra. dengan sedikit tenaga gadis itu mengambil kalender kecil tersebut. Memperhatikan beberapa angka di dalamnya, bahkan membolak-balik halamannya. Hingga sebuah kalimat kecil terucap dari mulutnya, “apakah aku hamil?”


Luna tersenyum senang. Rasa sakit yang sedari tadi dia rasakan seperti hilang begitu saja setelah menyadari hal tersebut. “Aku harus mengatakan kepada Mas Rendra, ah tidak, tidak. Bagaimana jika aku salah, bagaimana jika aku tidak hamil?”


Bermacam pertanyaan dan keraguan mengisi otaknya. Tapi tidak apalah, setidaknya Luna memiliki semangat tinggi sekarang. Rasa lemas, pusing, dan mual sudah tidak terasa sama sekali. Gadis itu pun segera beranjak keluar kamar untuk menjemput sang mertua. Tanpa sadar Luna meninggalkan hal yang sangat penting. Sebuah pesan.


 “Apa? Bagaimana bisa?” Rendra berteriak, wajah laki-laki itu memerah. Amarah dan kekhawatiran tengah menyelimuti dirinya saat ini. Setelah seseorang memberikan berita bahwa Ryan telah kabur dari penjara.


“Aku tidak mau tahu, tangkap kembali laki-laki itu. aku tidak ingin keluargaku kembali menderita karena kejahatan dua iblis itu.” Perintah Rendra.


“Siap Tuan.” Jawaban tegas dari anak buah Rendra.


Rendra memijat kepalanya dengan tangan. Laki-laki itu merasa cemas saat ini. Dia sangat cemas dan takut jika sesuatu yang buruk akan menimpa keluarganya kembali. Hal ini tidak boleh terjadi, Rendra harus mencari cara supaya Ryan tidak bisa mendekati keluarganya.


“Perketat semua penjagaan di sekitar rumah ini. Tidak ada seorang pun tanpa tanda pengenal boleh masuk ke rumah ini!” Perintah Rendra kepada para anak buahnya melalui sambungan telepon.


“Kak, ada apa?” Max yang sedari tadi memperhatikan Rendra mencoba bertanya.


Rendra menatap Max tajam, “Ryan kabur dari penjara. Kita harus memperketat penjagaan di rumah ini. Aku takut jika…”


“Kak, jangan khawatir! Aku akan selalu mendukungmu. Keluarga kita pasti akan baik-baik saja.” Max berusaha menenangkan kakaknya.


Rendra tersenyum, setiadaknya kalimat sederhana dari Max bisa membantunya untuk lebih tenang dan berfikir jika dia tidak sendiri. Max selalu ada bersamanya. Inilah yang bisa membuat lebih kuat, cinta keluarga.