
Rendra terus menghubungi Luna, namun seperti yang sebelumnya ponsel gadis itu mati. Hanya robot yang menjawab. Para detektif, polisi, dan juga orang-orangnya telah dia kerahkan untuk mencari sang istri tercinta.
Berkali-kali Rendra bernafas panjang mencoba berpikir dengan jernih. Kemana Luna pergi? Apakah dirinya sedang dalam bahaya? Apakah Ryan dan ibunya ikut ambil peran dalam hal ini?
Laki-laki itu hanya bisa menekan kepalanya karena terasa sakit. Rasa bersalah kembali menghantui dirinya. Rendra merasa menjadi laki-laki yang tidak berguna karena tidak bisa menjaga orang-orang yang dia sayangi. ibunya, ayahnya, dan kini Luna. Apakah Luna juga akan meninggalkan dirinya seperti ibu dan ayahnya? "Luna kamu dimana Sayang?" ucapnya lirih.
"Saya tidak mau tahu, hari ini kalian harus menemukan keberadaan istri saya!" bentak Rendra setelah menerima panggilan yang masuk ke ponselnya.
Namun tak lama sebuah suara sirine mobil polisi masuk ke halaman rumahnya. "Luna," katanya kemudian bergegas keluar rumah.
Ya benar saja, beberapa mobil polisi telah terparkir rapi di depan rumahnya. Rendra sedikit bingung. Namun kebingungan itu tidak terlalu dia pedulikan saat melihat Luna keluar dari salah satu mobil tersebut.
"Luna," teriak Rendra sambil berlari mendekati istrinya kemudian memeluk erat istri yang sangat dicintainya itu.
"Apa yang terjadi padamu Sayang? Apakah kamu terluka?" Rendra membolak-balik tubuh Luna mencari apakah ada luka di sana.
Luna tersenyum, memegang kedua pipi suaminya dengan kedua tangan. "Aku baik-baik saja Mas. Aku tidak kenapa-kenapa."
Rendra kembali memeluk Luna sambil terus mengucap syukur. Semua yang ada di situ pasti bisa melihat betapa besar cinta Rendra untuk Luna.
"Aku membawa sesuatu untukmu, sesuatu yang sangat berharga."
Rendra bingung dengan apa yang Luna katakan. Laki-laki itu tidak tahu apa maksud istrinya.
Tak lama Rani keluar dari mobil beserta ibunya. Rendra semakin heran. Apa yang terjadi?
Laki-laki itu ingin bicara, namun Luna menghalangi sambil menunjukkan seseorang yang juga keluar dari mobil. Tampak perubahan ekspresi di wajah Rendra. Laki-laki itu hanya bisa diam sambil melihat perempuan yang baru saja keluar dari mobil itu dengan menganga.
"Itu ibu Mas, ibu kandung kamu. Ibu masih hidup," ucap Luna.
Mendengar apa yang Luna ucapkan membuat tubuh Rendra lemas. Kaki laki-laki itu seperti tidak mampu menopang tubuhnya. Namun Luna ada di sampingnya untuk selalu menguatkan.
"Luna," Kata Rendra, mungkin hanya kata itu yang bisa dia katakan sebagai ekspresi bahagia, terkejut, dan tidak percaya.
"Iya Mas, itu Ibu. Itu ibu Diana yang sering kuceritakan. Yang ternyata adalah ibu kita. Ibu terus bertahan demi kamu Mas."
Mendengar penjelasan Luna kembali membuat jantung Rendra seperti berhenti berdetak. Dengan pelan didekatinya perempuan yang kini tampak ketakutan dan tengah memeluk Rani tersebut.
"Ibu, Bu ini Rendra Bu. Putra Ibu." Sambil berlinang air mata Rendra bersimpuh di kaki sang ibu.
"Ibu maafkan Rendra. Rendra tidak bisa menjaga ibu. Bahkan mengira ibu telah tiada. Maafkan Rendra bu.. Rendra sangat merindukan Ibu." Laki-laki yang selalu tampil maskulin itu tampak rapuh saat ini.
Semua orang pun turut meneteskan air mata melihatnya. Sementara bu Diana tidak melakukan sesuatu apapun. Perempuan itu tampak ketakutan saat ini. Hal ini membuat Rendra merasa kecewa.
"Nak Rendra, Diana mengalami gangguan jiwa. Tante menemukannya beberapa minggu yang lalu dengan keadaan yang sangat memprihatinkan. Saat ini ibumu tidak bisa mengenali bahkan mengingat masa lalunya. Bersabarlah Nak!" Ibu Rani ikut berbicara. Sahabat bu Diana itu pasti juga merasa sangat terharu melihat pertemuan ini.
Luna menghampiri sang suami dan membantunya berdiri. "Ibu ada di hadapan kita saat ini. Bersabarlah, ibu pasti akan mengingatmu kembali Mas."
Rendra yang masih menangis tidak bisa berfikir jernih. Antara bahagia, sedih, semua fikiran bercampur aduk menjadi satu di hatinya. Rendra, kamu juga manusia yang juga bisa menangis.
"Kami menemukan Ryan dan bu Fatma yang menyamar sebagai badut. Mereka mengenakan kostum seperti itu agar bisa lelehasa berkeliaran. Tapi syukurlah, kepolisian tidak tertipu. Mereka tertangkap saat akan keluar dari kota. Dan kini keduanya telah mendekam di penjara." Polisi yang telah menangani kasus ini turut bicara.
"Mereka harus mendapatkan hukuman yang setimpal sesuai dengan kejahatan yang telah mereka lakukan." Rendra menyeringai.
"Baik Tuan Rendra, kami pastikan proses ini berjalan sesuai dengan peraturan yang ada," imbuh polisi tersebut kemudian berpamitan untuk meninggalkan tempat.
Luna dan Rendra masuk ke dalam kamar dimana bu Diana akan tinggal di kamar tersebut. Nampak bu Diana telah tertidur pulas dengan ditemani Rani dan ibunya.
"Tante, Rani, saya tidak bisa berkata apapun. Rasanya berterima kasih bahkan harta di dunia ini tidak cukup untuk membalas jasa kalian berdua," ucap Rendra.
Rani dan ibunya tersenyum. "Nak Rendra, jangan seperti itu. Diana adalah sahabat tante. Jadi sudah menjadi kewajiban tante untuk membantunya. Dan tante juga sanagt senang dan lega bahwa Diana ternyata adalah ibu kamu Nak, mertuanya Luna. Ini adalah tempat terbaik untuknya," ujar ibu Rani.
"Tidak apa-apa Tuan Rendra. Selama ini tante Diana juga sangat dekat dengan Luna. Entahlah meskipun keduanya sama-sama tidak tahu jika mereka adalah mertua dan menantu tapi mereka sangat dekat," Rani menimpali membuat Luna sedikit tersipu.
"Ya semoga saja kali ini Luna tidak bertengkar dengan ibu mertuanya." Gurau Rani yang membuat semua yang ada di situ tertawa renyah. Hanya Luna yang tampak tidak senang mendengarnya.
Luna dan Rendra memandangi Bu Diana yang tengah tidur pulas setelah Rani dan ibunya pamit pulang. Rendra seperti tidak ingin melepaskan pandangannya dari wajah perempuan yang sangat dia rindukan berpuluh-puluh tahun itu.
"Bagaimana kamu tahu kalau dia ibuku?" Tiba-tiba pertanyaan muncul dari mulut Rendra.
"Aku melihatmu di mata Bu Diana sejak pertama kali bertemu. Tatapan matanya sangat mirip denganmu. Cara bicaranya, pelukan hangatnya. Aku selalu merasakan dirimu dalam diri bu Diana."
"Seperti itukah?" Kembali Rendra bertanya sambil memandang gemas sang istri yang dinilai terlalu berlebihan.
"Iya, mungkin karena aku sangat mencintaimu Om." Kali ini Luna menjawab sambil memeluk suaminya.
Rendra tersenyum mendengarnya kemudian mencium kening gadis itu dalam. Lalu pandangannya kembali memandang sang ibu.
"Kamu sangat merindukannya?"
Rendra mengangguk, "aku dan ayah hancur saat kehilangannya. Entahlah bagaimana ibu menjalani hidup berpuluh-puluh tahun dalam penyekapan para bajingan itu. Ibu pasti sangat menderita."
"Aku tahu, saat ibu telah kembali mengingat semuanya dia pasti akan sangat bahagia. Tapi aku masih tidak habis fikir, untuk apa bu Fatma melakukan ini semua? Apa tujuan mereka sebenarnya? Hingga bisa sejahat itu dengan ibu?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu," jawab Rendra sambil menunduk. Laki-laki ini pasti sangat kecewa dengan bu Fatma. Perempuan yang selalu dia bela, melakukan hal di luar nalar yang sangat menyakiti dirinya.
Luna bisa melihat hal itu. Gadis ini tidak ingin suaminya terus menerus memikirkannya.
Cuup, sebuah ciuman mendarat di pipi Rendra. "Aku sangat mencintaimu," ucap Luna dengan gaya khasnya yang pasti membuat Rendra gemas.
Seperti sebuah sinyal, Rendra pun memahami apa maksud sang istri. Laki-laki itu pun beranjak dari duduknya lalu mengangkat tubuh Luna.
"Hei turunkan aku!"
"Hari ini kamu sudah membuatku sangat cemas. Dan aku akan meminta ganti rugi atas itu." Kata Rendra sambil menggendong tubuh sang istri menuju kamar kemudian menuntut balas apa yang telah Luna lakukan kepadanya hari ini.