PANGERANKU OM-OM

PANGERANKU OM-OM
BAB 50


"Apa? Bu Diana diculik?"


Luna segera beranjak dari tempat tidurnya. Gadis itu sangat cemas. Entahlah, bu Diana memang bukan siapa-siapa baginya tapi dia merasa sangat dekat dengan perempuan itu.


"Bagaimana bisa? Siapa yang telah menculik Bu Diana?" fikirnya.


Gadis itu mencoba menenangkan diri dengan meneguk minuman yang telah Rendra siapkan untuknya. Saat ini dirinya harus bisa berfikir dengan kepala dingin. Tidak boleh ada ketakutan ataupun kecemasan. Cukup tenang.


Luna mencoba berfikir lebih jauh, kondisi bu Diana sedang tidak stabil. Mungkin bu Diana tidak diculik, mungkin diamankan oleh petugas. Ya, aku tidak boleh berburuk sangka. Rani pasti salah, lagi pula siapa orang yang mau menculik perempuan yang keterbelakangan mental? Untuk apa?


Luna mengambil ponselnya. Meskipun tidak begitu yakin, tapi gadis itu tahu siapa yang harus dihubungi.


"Dinas Sosial, aku harus menghubunginya." Ucap Luna. "Ah, kemana aku harus menghubungi nya. Aku bahkan tidak tahu nomor telepon polisi."


Luna menekan kepalanya berusaha berfikir, kemudian tersenyum setelah mengingat sesuatu.


"Mas Rendra pasti memiliki semua nomor telepon penting di kota ini." Luna membuka beberapa buku yang Rendra letakkan di kamar. Berharap menemukan apa yang dia inginkan.


Namun nihil, gadis itu pun berlari menuju ruang kerja sang suami. Membuka beberapa lemari dan mulai mencari, tapi tetap saja nihil.


Luna memegang kepala sambil menjambak rambutnya. Gadis itu merasa frustasi sekarang. "Apa yang harus kulakukan sekarang?"


Tidak, Luna tidak bisa hanya berdiam diri seperti ini. Dirinya harus segera bertindak. Luna pun bergegas untuk keluar dari tempat kerja Rendra hendak ke kamar dan bersiap menuju rumah Rani.


Tapi fokusnya teralihkan saat melihat sebuah peti kecil di atas meja kerja Rendra. Awalnya gadis itu tidak tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang benda itu. Tapi entah kenapa tubuhnya mulai maju dan mendekati kotak tersebut.


Sebuah kotak yang terlihat kuno. Tangan mungil Luna merasa tertarik untuk mengambilnya. Apa ini? katanya sambil membuka peti kecil yang tak terkunci itu.


Betapa terkejutnya Luna saat melihat sebuah foto yang berada di urutan paling atas dari beberapa lembar foto yang ada di sana. Foto seorang perempuan yang tidak asing baginya


"Bu Diana," ucapnya pada diri sendiri. Luna mengambil beberapa foto di belakang foto tersebut. Tampak Rendra kecil dan juga ayah almarhum ayah mertuanya.


"Kenapa foto bu Diana ada di sini? Ya Tuhan, inikah rencanamu selama ini?" ucap Luna dalam hati sambil terus memperhatikan foto di depannya. Melihat dengan lebih baik bahwa itu adalah foto perempuan yang dia kenal.


"Jadi benar, selama ini bu Diana adalah ibu kandung mas Rendra. Ibu Diana yang dianggap sudah meninggal ternyata.." Luna mundur beberapa langkah, gadis itu seperti tak kuat menopang tubuhnya sendiri. Kakinya terasa sangat lemas bahkan untuk berdiri. Hingga bugg tubuh itu pun jatuh ke lantai.


Selama beberapa menit Luna masih terbuka dengan dirinya sendiri. Gadis itu tidak bisa berfikir apapun. Kecurigaannya selama ini terbukti.


Dengan begitu Luna bisa tahu kenapa dirinya merasa sangat dekat dengan perempuan itu. Dan juga dari sini Luna bisa mengerti kenapa dirinya selalu melihat sosok Rendra di wajah bu Diana.


Luna segera menyadarkan diri sendiri. Mengusap air mata yang tanpa sadar mulai menetes. Gadis itu kembali ke kamar mengambil ponsel dan menghubungi suaminya.


"Ayo Mas cepat angkat teleponnya!" ucap Luna dengan tangan gemetar.


Sementara di sana Rendra masih disibukkan dengan meeting penting.


Luna kembali mengulang panggilan, berulang-ulang kali. Hingga gadis itu bosan kemudian melempar ponselnya. Luna pun bergegas mengganti pakaian dan segera menuju rumah Rani.


Di kantor meeting Rendra telah selesai. Laki-laki itu berhasil mendapatkan tender besar hingga membuat dirinya tersenyum lebar. Begitu pula dengan para karyawannya yang juga merasa bahagia.


"Luna, apa yang terjadi?" serunya saat melihat banyak sekali panggilan tak terjawab dari istrinya.


Laki-laki itu mulai mencoba menghubungi Luna, namun ponsel yang telah menghubunginya beberapa menit yang lalu itu kini telah mati.


Hati Rendra tak karuan, ada banyak ketakutan yang ada di dalam hatinya untuk sang istri.


"Luna apa yang terjadi denganmu?" ucapnya dengan cemas. Tanpa berfikir panjang, Rendra segera keluar dari kantor dan pulang ke rumah.


Saat ini Luna telah sampai di rumah Rani. Beberapa orang dan juga polisi sudah ada di tempat itu. Luna segera berlari masuk ke dalam rumah.


"Ran, bagaimana bu Diana?" tanyanya kepada sahabat yang kini tengah menangis tersedu. Dan tampak perban di kepalanya.


"Tenanglah Ran! Semua pasti baik-baik saja. Katakan apa yang terjadi!" pinta Luna pelan sambil memeluk Rani yang tampak ketakutan.


"Aku mengajak bu Diana jalan-jalan. Kami ke supermarket. Bu Diana tampak sangat senang. Dia membeli beberapa bahan makanan. Bu Diana meminta izin untuk keluar lebih dulu saat aku di kasir. Aku mengiyakan. Namun tak lama aku melihat bu Diana masuk ke dalam mobil dengan seorang badut."


"Badut?" Luna heran dengan apa yang dikatakan temannya itu.


"Iya, seorang badut mengajaknya naik ke mobil. Saat aku tahu, aku berusaha mengejarnya. Namun kepalaku dipukul dari belakang. Aku sempat melihat badut lain yang memukulku."


"Jadi maksud anda ada dua orang badut?" Polisi menginterogasi.


"Iya Pak, aku tidak bisa melihat wajah mereka dengan jelas."


"Untuk apa badut menculik Diana?" Ibu Rani yang juga cemas pun tampak berkomentar.


Sementara Luna hanya diam memikirkan sesuatu. Gadis itu mulai mengingat beberapa hal yang sangat membantunya.


"Mereka bukan badut, mereka adalah Ryan dan Bu Fatma." Kata Luna yang pastinya membuat orang-orang yang ada di tempat itu terkejut.


"Bagaimana kamu tahu Lun?"


"Bu Diana adalah ibu kandung mas Rendra. Bu Fatma dan Ryan telah menculik nya selama bertahun-tahun, bahkan ingin menghabisinya. Hingga membuat bu Diana menjadi seperti itu."


"Baiklah Nona Luna, kami akan memperketat penjagaan. Dan akan menyebar informasi ini ke seluruh kantor polisi wilayah ini."


"Terimakasih Pak, saya berharap ibu mertua saya segera diketemukan."


"Pasti, kami akan mengusahakannya." Polisi itu pun berpamitan.


Sementara Luna, Rani, dan juga Ibu Rani hanya bisa berdoa agar keadaan Bu Diana baik-baik saja.


Di lain tempat, Rendra sudah sampai di rumahnya. Laki-laki itu segera masuk dan memanggil-manggil nama sang istri. Namun tidak ada jawaban yang dia inginkan. Rendra berlari masuk ke kamar sambil terus meneriakkan nama Luna. Hatinya teriris saat melihat kamar yang kosong. Pandangannya tertuju pada bubur yang telah disiapkannya di atas meja.


"Luna kamu dimana Sayang?" ucapnya lirih.