
"Mas Rendra.." ucap Luna pelan. Suaranya seperti tercekat di dalam tenggorokan. Apa yang dilihatnya saat ini membuat dirinya sangat terkejut.
Meskipun pelan, tapi suara itu bisa membuat dua orang di depannya terkejut. Dengan segera Rendra beranjak dari duduknya.
"Luna," teriaknya saat melihat Luna terhuyung. Kemudian segera memapah istrinya. Namun Luna sudah lebih dahulu kehilangan kesadaran.
"Siapa dia Ren?" tanya perempuan yang bersamanya.
"Dia istriku." Perempuan itu mendelik seperti tidak suka. Namun segera menghembuskan nafas panjang dan mendekati Luna.
"Tenanglah, dia hanya pingsan. Sebentar lagi pasti sadar. Apakah ada minyak gosok atau minyak yang lain disini?"
Rendra segera berlari menuju kotak p3k yang ada di sudut ruangan. Kemudian mengambil minyak kayu putih dan membawanya kepada sang istri.
Perempuan yang masih berada di situ itu pun mengambil minyak dari tangan Rendra dan mengusapkannya ke badan Luna.
"Sebaiknya kamu pergi dari sini," ucap Rendra kepada perempuan itu sambil terus menggosok kaki Luna.
"Apa?" Perempuan itu seperti tidak percaya dengan apa yang dikatakan Rendra.
"Luna sedang hamil, aku tidak ingin mengambil resiko apapun. Dia salah faham kepadamu. Aku akan berusaha menjelaskannya dengan tenang."
"Tapi ren, kenapa harus aku yang..."
"Aku mohon Starla," kata Rendra kepada perempuan itu yang bernama Starla itu, "aku akan menemui mu esok."
"Baiklah" Dengan berat hati Starla pun meninggalkan kantor Rendra.
Tinggallah Rendra yang kini hanya bersama Luna. Sudah lebih dari 10 menit Luna pingsan dan belum menunjukkan tanda-tanda siuman. Rendra semakin khawatir, laki-laki itu berniat hendak memanggil ambulans dari ponselnya. Namun terdengar suara batuk dari Luna.
"Luna, Sayang, kamu sudah sadar?" tanya Rendra dengan tersenyum senang.
Luna mulai membuka mata, meskipun terasa sangat berat. Kemudian memalingkan mukanya setelah pertama kali yang dia lihat adalah wajah Rendra.
"Luna, kamu kenapa? Kamu pusing? Kita ke dokter ya?
Luna masih tidak ingin memandang sang suami. Masih teringat jelas di kepalanya apa yang baru saja dia lihat.
"Luna kenapa kamu kesini Sayang? Kamu bisa menelfon ku jika membutuhkan sesuatu." Rendra mulai mengutarakan kalimatnya.
Namun tidak disangka, kalimat itu bisa membuat Luna mengeluarkan amarahnya. "Oh, jadi aku harus menelfon dulu saat akan datang ke kantor suamiku. Kenapa? Agar kalian bisa leluasa bermesraan di belakangku hahh?" Luna mulai mengeluarkan air mata. Sungguh sakit rasanya melihat orang yang sangat dia cintai bermain di belakangnya.
"Luna apa yang kamu katakan Sayang? Tenanglah! Kasihan anak kita."
"Apa yang aku katakan mas? Kamu lupa, aku bisa melihat, mataku masih normal. Aku bisa melihat bagaimana kamu bermesraan dengan perempuan itu. Dimana dia sekarang hah?" Dengan nafas terengah-engah dan tubuh yang masih sedikit terhuyung, Luna berusaha berdiri dan mencari perempuan yang bersama suaminya tadi.
"Dimana dia hah?" Bentak Luna kepada Rendra saat dirinya tidak menemukan perempuan yang dicarinya itu.
"Luna kamu mencari siapa?"
"Ahh, diam kamu! Dasar laki-laki bajingan! Aku membencimu." Teriak Luna sambil menangis.
Rendra tidak tega melihat keadaan sang istri. Namun laki-laki itu pun tidak mampu berkata apapun yang bisa menenangkan istrinya.
"Luna Sayang, itu semua tidak seperti yang kamu lihat. Aku tidak mungkin menghianatimu Sayang."
"Aku pun juga berfikir seperti itu. Bahkan sebelum aku membuka pintu ini, aku masih memiliki fikiran seperti itu. Tapi kini? Tidak lagi. Aku tidak lagi percaya denganmu Tuan rendra."
"Luna tenanglah Sayang!" Hanya itu kalimat yang bisa dia katakan saat ini. Luna sangat marah hingga seperti kesetanan. "Dia starla, dia sahabatku sejak sekolah dulu. Kita tidak pernah bertemu sejak lama. " Rendra mulai menjelaskan.
Luna masih membuang muka. Apakah seperti itu cara bertemu dengan sahabat lama?
Ya, perut Luna terasa sangat kaku. Mau tidak mau dirinya harus menenangkan dirinya sendiri saat ini.
"Tidak pernah sedikit pun terbersit perasaan untuk menyukai gadis lain selain dirimu. Aku hanya mencintaimu."
Luna masih tidak ingin menatap sang suami. Baginya apa yang dilihatnya hari ini sudah bisa membuktikan jika Rendra telah bermain di belakangnya.
"Starla tinggal Amerika. Kemarin dia baru saja kembali ke Indonesia. Dia menghubungi ku untuk membantunya mendirikan perusahaan di sini. Lalu tadi pagi, dia menelfon kembali untuk meminta bertemu pagi-pagi karena siang hari dia harus menyelesaikan beberapa masalah. Aku pun mengiyakan dan memintanya untuk datang ke kantor karena semua berkas-berkas yang dibutuhkan ada di sini."
"Apakah kamu membantu nya dengan memangkunya di atas tubuhmu hah?" Luna menangis kembali saat mengatakan hal itu. Baginya peristiwa itu sangat menyakitkan.
"Starla memang seperti itu. Dia perempuan yang ceria dan suka..."
"Suka mengambil kesempatan dengan suami orang."
"Sayang... Maafkan aku! Hukumlah diriku sesukamu." Rendra menciumi tangan Luna. Namun Luna masih diam dan terisak.
Drrtt, drrtt.. Ponsel Luna berbunyi. Ponsel yang terletak di dalam tas yang kini tergeletak di lantai itu diambil oleh Rendra. Nama IBU DIANA tertulis di layar.
Rendra memandang Luna, kondisi sepeti ini tidak memungkinkan Luna untuk mengangkat telepon.
Rendra pun menggeser tombol hijau di ponsel itu. Hingga terdengar suara sang ibu dari seberang.
"Luna, kamu sudah bertemu suamimu Nak? Jika sudah, segeralah makan! Kalian berdua belum sarapan. Kamu juga lun, ibu hamil tidak boleh telat-telat makan."
"Buk, ini Rendra."
"Oh kamu ren, jadi kalian sudah bertemu ya. Dimana luna?"
"Luna, Luna di kamar mandi bu." Rendra berbohong.
"Segera ajak istrimu makan! Sejak pagi dia sangat mencemaskan dirimu. Hingga tidak mau makan."
"Iya bu."
Rendra pun memutuskan panggilan dengan ibunya. Dan kembali beralih ke Luna yang tengah merajuk.
"Kita makan di luar yuk." Rendra kembali mencium tangan Luna sambil menawarinya makan. Laki-laki itu menyesal dengan apa yang dilakukannya pagi ini.
Luna tidak menjawab, bahkan menarik tangannya dari kecupan Rendra.
Laki-laki itu tahu benar jika saat ini Luna sangat marah. Dirinya tidak ingin putus asa. Bagaimanapun juga ini adalah kesalahannya. Yang harus dirinya lakukan saat ini yang pertama adalah memberi Luna makan.
"Aku dengar restoran F memiliki menu yang baru. Kalau tidak salah, mereka membuat variasi baru dari rawon."
Wajah Luna sedikit berubah mendengar kata rawon, yang merupakan makanan kesukaannya. Hal ini tidak disia-siakan oleh Rendra.
"Beberapa orang disini sudah pernah kesana. Bahkan Max pun juga pernah ke sana. Kata anak itu, rawon baru nya sangat enak."
Luna masih tidak berkata apapun tapi Rendra bisa melihat dari wajah Luna, bahwa dirinya sangat menginginkan apa yang diiming-imingi.
"Kamu mau kesana?" tanya Rendra hati-hati. Namun Luna masih diam.
"Baiklah kalau kamu tidak mau, kalau begitu aku saja yang pergi ke sana. Aku juga sangat lapar. Nanti aku akan membungkusnya untukmu."
"Bodoh, rawon itu enaknya dimakan saat hangat." Luna mengeluarkan kalimat umpatannya. Bersamaan dengan dirinya yang mengambil tas miliknya dan bergegas keluar dari ruangan Rendra.
Rendra tidak bisa menahan tawa melihat kelakuan sang istri. Laki-laki itu hanya bisa mengangguk dan mengikuti Luna dari belakang.