
"Luna, Luna.." Rendra berteriak memanggil istrinya saat baru saja membuka pintu rumahnya.
"Masuklah Max, aku akan mencarinya." Rendra meminta Max untuk duduk, sementara dirinya berjalan ke kamarnya mencari keberadaan sang istri.
Namun perempuan yang dicarinya tidak ada di tempat itu. "Kemana perginya Luna?" fikirnya. Ah kenapa gadis itu selalu menghilang. Apakah harus ku tali kaki dan tangannya agar tidak pergi. Racau Rendra kemudian hendak pergi ke luar kamar mencari keberadaan Luna di tempat lain.
Langkah laki-laki itu terhenti saat dari jendela tampaklah dua perempuan yang sangat dia sayangi sedang bercanda berdua di taman belakang rumahnya. Rendra tersenyum senang melihat hal ini.
Luna adalah orang yang sangat tepat untuk menemani sang ibu. Dalam kondisi ibunya yang sekarang, Luna dengan sabar dan telaten menemani dan menjaganya.
"Terimakasih Sayang," ucapnya lirih.
Rendra bergegas mendekati keduanya. Meskipun dirinya hanya bisa melihat dari jauh, tapi itu sudah bisa membuat hatinya senang. Ya, bu Diana akan mengamuk saat melihat Rendra mendekati mereka.
Mengetahui keberadaan Rendra, Luna pun tersenyum. Dengan pelan gadis itu menjelaskan jika suaminya sudah pulang dari bekerja.
"Kenapa kamu tidak mengajaknya kemari Lun?" pinta sang ibu mertua yang membuat Luna terkejut. Selama di sini belum pernah bu Diana meminta Rendra untuk mendekatinya.
"Baiklah, aku akan memintanya kemari." Luna pun memanggil suaminya untuk mendekat.
Rendra mencium punggung tangan bu Diana dengan sopan. Bu Diana tersenyum.
"Kamu sangat tampan. Beruntung sekali Luna memiliki suami sepertimu Nak. Jaga selalu putri ibu ya Rendra!" Kata bu Diana yang menganggap Luna sebagai putrinya sendiri.
Rendra tersenyum sambil mengangguk, "pasti bu, Rendra akan selalu menjaga Luna."
Bu Diana tersenyum sambil mengelus punggung Rendra, entahlah hal ini baru kali pertama perempuan itu lakukan terhadap Rendra. Rendra pun keheranan melihatnya. Sementara Luna memberi tanda kepada suaminya agar tetap tenang.
"Mungkin putraku akan sebesar ini sekarang." Tiba-tiba kalimat tersebut muncul dari mulut Bu Diana. Rendra terkejut begitu pula dengan Luna. Tapi mereka tidak berani mengatakan apapun apalagi mengatakan yang sesungguhnya.
"Tapi putraku telah meninggal, orang-orang jahat itu membawa putraku, putraku, putraku..." Kembali bu Diana berteriak dan hendak mengamuk.
Namun Luna dengan sigap berada di sampingan dan menenangkan perempuan itu.
"Kita masuk ya bu, waktunya ibu untuk minum obat dan istirahat," ajak Luna kemudian membawa bu Diana masuk ke dalam rumah. Rendra mengikuti dari belakang.
"Mark," sapa Luna saat bertemu dengan Max di ruang tamu. Luna memandang Rendra dengan tatapan heran. Rendra hanya memberi tanda jika ini benar apa adanya.
Rendra menjabat tangan adik iparnya itu, senyum mengembang muncul dari bibirnya. "Aku senang bertemu kembali denganmu Max,* imbuhnya lagi, "ah beristirahatlah Max, maaf aku harus membawa ibu ke dalam untuk istirahat."
Luna meninggalkan Max dan membawa perempuan yang kini memeluknya erat itu. Melihat orang baru membuat bu Diana ketakutan.
"Kak, kenapa kak Luna masih mau menyapaku setelah apa yang ibu lakukan kepadanya?" tanya Max sambil melihat punggung Luna yang semakin menjauh.
"Apa yang kamu katakan Max, sudahlah semua baik-baik saja Max." Rendra pun mengajak Max ke dapur dan menyediakan beberapa minuman untuk adiknya itu.
"Siapa perempuan yang bersama kak Luna itu kak? Aku belum pernah melihatnya." Max membuka obrolan.
"Apa? Jadi itu adalah bu Diana yang..."
"Ya, bu Fatma dan Ryan telah menyekap ibu selama puluhan tahun. Hingga ibu mengalami gangguan jiwa."
Max tak kuasa menahan tangis. Pemuda itu pun menangis mendengarnya. "Aku tidak percaya mama bisa sejahat itu. Mama telah membuat Chloe meninggal, dan mama juga telah membuat orang lain menderita dengan penderitaan yang sangat besar. Oh Tuhan."
"Uang bisa merubah segalanya Max. Bu Fatma dan juga Ryan melakukan itu semua untuk menguasai semua harta ini."
"Aku tidak habis fikir, dulu papa sering marah saat melihat mama meminta uang kepadamu dengan alasan untuk pendidikanku dan Chloe. Padahal uang itu dia gunakan untuk bersenang-senang dengan teman-temannya di club." Max tersenyum menyeringai kala mengingat kejadian masa lalu.
"Tapi Kak, siapa Ryan? Aku baru mendengarnya."
"Ryan adalah anak tertua bu Fatma dengan suaminya sebelum menikah dengan ayahku. Aku pun juga tidak pernah mengenalnya."
"Aku heran, mama bahkan membuat kita dekat. Tapi kenapa dia tidak pernah mengenalkan Ryan kepada kita?"
"Entahlah, aku tidak tahu. Pasti ada rahasia lain dibaliknya."
*****
"Apa? Kamu habis menemui bu fatma, untuk apa Mas?" Omel Luna tidak suka setelah Rendra menceritakan apa saja yang telah dia lakukan hari ini.
"Lun, bagaimana pun juga pernah menjadi istri ayahku." Rendra berusaha menjelaskan.
"Kamu terlalu baik Mas. Aku takut jika Bu Fatma dan Ryan akan menyakitimu kembali Sayang. Aku tidak bisa menerima hal itu Mas."
"Tidak akan terjadi apa-apa Lun. Itu hanya sebatas rasa hormatku untuk istri ayah."
Luna menghela nafas panjang berusaha memahami apa yang ada di fikiran sang suami.
"Bagaimana kamu bisa bertemu dengan Max?" Luna mengalihkan pembicaraan. Rendra pun menceritakan apa yang terjadi kepada kedua adiknya itu. Luna hanya bisa memegang mulut sambil meneteskan air mata merasakan penderitaan yang dialami kedua anak tersebut.
"Bisakah Max tinggal di sini Sayang?"
Luna menghela nafas, "meskipun dia anaknya Bu Fatma tapi Max orang yang baik. Dia pun juga korban atas kejahatan perempuan itu. Kita akan selalu mendukungnya Mas."
Rendra tersenyum sambil memeluk istri tercintanya itu, "aku tidak bisa membayangkan jika tidak ada dirimu dalam hidupku Sayang. Aku pasti tidak akan mampu menjalani ini semua."
Luna membalas pelukan sang suami dan mencium bibirnya pelan. "Aku akan selalu menemanimu hingga akhir nafasku."
keduanya pun terbuai dengan cinta masing-masing. Kecupan mesra, ******* lembut, mengiri keduanya hingga puncak kenikm*tan.
"I love you Luna"
"I love you too"