PANGERANKU OM-OM

PANGERANKU OM-OM
BAB 34


Malam telah larut, namun Luna masih belum bisa memejamkan mata. Kejadian hari ini benar-benar menguras habis seluruh energinya. Bayangan si bajingan Roby dan juga wajah bu fatma secara bergantian memenuhi otaknya.


“Huufff,” ucap Luna sambil memijat kepalanya yang terasa pening. Gadis itu benar-benar tidak mengira bahwa hidupnya akan seperti ini. Dikelilingi dengan orang-orang jahat yang selalu menunggu saat dirinya lengah. Lantas bagaimana dengan Rendra? Bagaimana kehidupannya selama ini?


Andai mas Rendra tahu bagaimana kelakuan ibu tirinya, apa suaminya itu juga masih menganggap bu Fatma sebagai ibu? Ah, dirimu terlalu baik untuk menjadi anak tirinya mas, batin Luna sambil tersenyum.


“Kamu pasti terlahir dari rahim perempuan mulia mas,” ucap Luna lirih. Lamunan gadis itu semakin melayang. “Aku pernah melihat foto almarhum ayahmu, tapi aku belum pernah melihat foto ibumu. Kamu pasti sangat merindukan beliau mas.”


Memikirkan Rendra membuat Luna menjadi merindukannya, “Mas Rendra sedang apa kamu sekarang?” katanya.


“Sedang memperhatikanmu.” Tiba-tiba sebuah suara berhasil mengagetkan Luna. Gadis itu segera menoleh ke sumber suara dan tampaklah Rendra telah berdiri di depan jendela.


“Mas Rendra,” seru Luna sambil berlari ke arah suaminya. “Bagaimana kamu bisa ke sini Mas?” tanya Luna sambil melihat bagian bawah rumahnya melalui jendela.


“Aku adalah cintamu yang akan selalu hadir saat dirimu membutuhkanku, Sayang.”


“Halah gombal,” ucap Luna sambil memukul dada suaminya, namun memeluk erat setelah itu. “Mas, bu Fatma tidak seperti yang kamu bayangkan. Perempuan itu sangat…”


“Jangan bebani dirimu dengan hal itu Sayang!”


“Jadi Mas Rendra sudah tahu bahwa…”


Rendra mengangguk sambil tersenyum. Hal ini membuat Luna semakin tidak mengerti. Rendra pasti tidak mengerti apa yang saat ini dia bicarakan.


“Maksudku bu Fatma…”


“Mama telah menggelar pesta di rumah ini bersama teman-temannya.”


“Tidak hanya itu Mas, mereka juga menyewa laki-laki….”


“Iya Sayang, Mas tahu.” Seperti tidak ingin mendengar apa yang akan istrinya katakan, Rendra segera memotong ucapan Luna kemudian memeluknya.


“Lalu..”


“Aku selalu berharap mama bisa merubah sikap,” jawab Rendra yang mampu membuat Luna menganga. Gadis itu benar-benar tidak mengerti akan cinta suaminya kepada sang ibu tiri. Apakah Rendra sebucin itu dengan ibu tirinya?


“Tidak Mas, itu tidak mungkin. Perempuan itu sudah melewati batas dan aku…”


“Dia ibuku Luna,” ucap Rendra dengan suara sedikit ditekankan. Luna terkejut, pasalnya baru kali ini Rendra berbicara seperti itu dengan dirinya. Dan ini semua hanya karena perempuan tidak tahu malu itu.


“Maafkan aku Sayang,” ucap Rendra yang melihat ekspresi ketakutan dari wajah istrinya. “Kamu tidak mengerti Luna bagaimana sulitnya hidup tanpa seorang Ibu. Aku sangat menyayangi ibuku, ibu yang telah melahirkanku. Meskipun, aku hanya diberi kesempatan sebentar untuk melihatnya.” Rendra menghela nafas panjang, kemudian berjalan menuju kursi panjangnya.


“Kamu tahu Luna, kepergian ibu meninggalkan kepedihan yang begitu mendalam bagiku dan ayah. Mungkin aku hanya anak kecil yang bisa menangis saat merindukan ibuku. Tapi ayahku? Setelah ibu pergi, ayah hidup tapi mati. Kamu pasti tahu bagaimana sedihnya aku saat melihat ayah menangis di depan foto ibu.” Rendra mulai


menteskan air mata. Sementara Luna hanya diam sambil mendengarkan cerita sang suami.


“Mas..” Luna mendekati Rendra dan memegang tangannya.


“Saat ayah pergi, segala kejahatan dari bu Fatma telah aku terima. Melakukan semua pekerjaan rumah, tidak diberi makan, membersihkan sisa-sisa pestanya, dimaki, dihajar, bahkan hampir dilecehkan oleh gigolo simpanannya. Dan itu semua, sekalipun aku tidak pernah mengadu. Aku tidak ingin ayah kehilangan untuk kedua kalinya. Cukup ayah sedih kehilangan ibu, jangan sampai ayah kembali kehilangan bu Fatma.”


“Mas..” Kali ini dengan air mata yang telah jatuh Luna memeluk tubuh suaminya. “Terbuat dari apa hatimu Mas?”


Rendra mengecup kening Luna, “ada banyak hal yang tidak bisa difikirkan dengan akal sehat, Sayang.”


“Tapi…” Luna melepaskan pelukan suaminya.


“Ada apa Lun?”


“Aku tidak mau meminta maaf kepada perempuan jahat itu,” ucap Luna dengan mulut yang dimoncongkan.


“Kamu bos di rumah ini,” jawab Rendra yang membuat Luna tersenyum senang.


“Malam ini tidurlah bersamaku Mas, aku ingin tidur dalam pelukanmu. Aku ingin bermimpi indah dalam dekapan cinta om-om berhati emas ini.”


Rendra tersenyum sambil mencubit pipi Luna, “iya sayang.”


“Eits, tapi cuma tidur. Enggak lebih.” Luna memberikan ultimatum. Hal ini membuat Rendra kembali tersenyum kecut.


*****


Pagi ini Luna membuka mata dengan hati bahagia. Berada di pelukan Rendra semalaman membuat energinya tercharge sampai penuh. Meskipun saat ini Rendra sudah tidak ada di tempat tidurnya, tapi tidak masalah. Akan lebih sangat bermasalah jika sampai jam segini Rendra belum pergi.


Luna memeriksa ponselnya, mengecek schedule yang harus dia lakukan hari ini. “Huff, kapan semua ini berakhir? Aku tidak ingin bekerja Mas, aku hanya ingin di rumah rebahan sambil menerima banyak uang darimu,” racau Luna saat menyadari bahwa jadwalnya saat ini sangat padat.


Drrt.. drrtt.. sebuah pesan muncul di notifikasi ponsel Luna.


[Cepatlah bersiap! Banyak kejutan menunggu hari ini.]


Pesan dari Rendra yang membuat gadis itu tersenyum. “Tumben romantis, pake mau ngasih kejutan. Tapi enggak apa-apa, I like surprise.”


Luna segera mempersiapkan diri dengan cepat, make up tipis, blouse coklat, dan rok hitam selututnya membuat gadis itu terlihat menawan. Tangannya menenteng sebuah tas dan jas hitam miliknya. “Berangkat..,” ucap Luna setelah memeriksa polesan lipstik di bibirnya.


Dengan semangat gadis itu segera keluar kamar dan menuruni tangga.


“Hai princes Luna,” bu Fatma yang sudah siap di bawah tangga menyapa dirinya. Wajah Luna pun sedikit berubah, moodnya menjadi tidak begitu baik.


Namun tidak hanya bu Fatma, di tempat itu pun juga ada Ryan, dan juga seorang laki-laki berpakaian rapi. “Apa lagi ini?” batin Luna yang sudah merasa akan mengadapi hal buruk.