
“Mas Rendra…,” teriak Luna dengan sangat keras. Entah mengapa hanya nama itu yang mampu dia keluarkan saat ini. Dia ingat betul bagaimana Rendra selalu datang saat dirinya berada dalam kesulitan.
Buuugggg, buuugggg..
Dua orang berpakaian hitam yang menarik Luna tiba-tiba jatuh ke tanah dengan merintih kesakitan. Luna terkejut dengan apa yang terjadi. Matanya tak bisa berkedip saat seorang laki-laki yang mengenakan jaket berwarna putih, celana jeans, dan topi putih itu dengan membabi buta memukul kedua preman tersebut.
Luna hanya diam dengan mulut sedikit terbuka. Apakah dia mas Rendra? Pertanyaan yang muncul di dalam hatinya dan sangat ingin dia jawab sendiri dengan kata iya.
Laki-laki itu sungguh hebat, kedua preman tersebut babak belur dibuatnya. Hingga keduanya kembali masuk ke dalam mobil box dan kabur.
Luna melihat laki-laki yang telah menolongnya itu dengan tatapan tajam. Gadis itu ingin sekali melihat dengan jelas wajahnya, namun laki-laki itu selalu menutupi wajahnya dengan topi.
“Anda siapa? Terimakasih telah menolong saya,” ucap Luna sopan. Laki-laki itu hanya mengangguk dan bergegas pergi.
“Tunggu!” teriak Luna sambil berlari menghampiri laki-laki tersebut, “maaf apakah Anda tahu dimana alamat ini?” Luna menunjukkan kartu nama yang dibawanya.
Laki-laki itu terus berusaha menyembunyikan wajahnya sambil menerima kartu nama tersebut. “Tempatnya sangat jauh, kamu akan sampai sore hari. Lebih baik kembalilah! Jalan di sini tidak aman,” ucap laki-laki itu yang membuat Luna kembali menganga.
“Mas Rendra,” ucapnya lirih, suara laki-laki itu sangat mirip dengan warna suara suaminya.
“Saya Doni,” laki-laki itu mengulurkan tangan kanan dan memberi tahu namanya.
“Hah,” ucap Luna yang saat ini tidak bisa berfikir jernih. Dalam otaknya hanya ada Rendra saat ini.
“Saya Doni, lebih baik Anda pulang sekarang.” Laki-laki itu kembali mengulang kalimatnya kemudian bergegas pergi meninggalkan Luna.
Selama beberapa detik Luna berusaha menyadarkan dirinya. Dia Doni, bukan mas Rendra. Kalimat itu diulang-ulangnya beberapa kali untuk meyakinkan dirinya yang masih tidak percaya jika laki-laki yang menolongnya tadi bukan Rendra.
*****
“Dari mana kamu Luna?” Sebuah p ertanyaan dengan suara keras mampu membuat Luna terkejut hingga detak jantungnya berdetak cepat.
“Mama,” kataLuna sambil menghembuskan nafas. Gadis itu lega karena sang empunya suara adalah ibu mertuanya yang tengah duduk di ruang tamu.
“Mama tanya, dari mana kamu hah?”
“Luna, Luna dari, Luna keluar bersama Rani.”
“Kenapa mama berteriak?” tanya Luna berusaha tetap sopan.
“Kamu pasti pergi ke tempat yang tidak benar, semudah itu kamu melupakan suami kamu Lun. Kamu pasti telah bersenang-senang dengan laki-laki lain.”
“Mama ngomong apa?”
“Alah, kamu sok suci. Mama tahu jika kamu sama sekali tidak mencintai Rendra. Kamu hanya ingin menguasai hartanya saja. Dan kini, setelah putra mama tiada, kamu bisa bebas bersenang-senang di luar sana.”
“Maa…,” ucap Luna dengan suara yang sedikit lebih dikerasakan.
“Apa? Kamu berani melawan mama hahh?”
Luna mendekati ibu mertuanya dengan tatapan tajam, “apa mama kira aku tidak tahu apa yang sebenarnya mama rencanakan bersama Ryan? Asal mama tahu, aku tidak akan memindah tangankan warisan suamiku kepada Ryan. Ryan ataupun putra-putramu yang lain, tidak memiliki hak sama sekali atas harta ini.”
“Luna apa yang kamu katakan?” seringai bu Fatma dengan wajah sedikit tegang karena apa yang telah Luna katakan.
Luna tersenyum menyeringai, “situasi seperti ini sangat tidak nyaman untukmu Ma, lebih baik Mama kembali ke kamar dan beristirahat. Aku pun juga ingin beristirahat.”
“Luna kamu sangat tidak sopan, bagaimana bisa putraku menikahi perempuan tidak beratitude sepertimu?”
“Hei, hei Mama, sstttt.” Luna meletakkan jari telunjuk ke bibirnya, sebagai pertanda agar bu Fatma diam.
“Jangan sebut suamiku sebagai putramu! Orang lain lebih berhak menyebut suamiku sebagai putranya daripada dirimu Ma. Apa mama lupa? Mas Rendra dikuburkan lebih dari dua minggu yang lalu. Tapi Mama, perempuan yang selalu dianggap suamiku sebagai ibunya sama sekali belum pernah mengunjungi makamnya. Perempuan yang sangat mas Rendra sayangi ini lebih memilih reuni, arisan, jalan-jalan, daripada datang ke makam putranya. Dan perempuan yang sangat disayangi suamiku ini, ternyata berusaha menghancurkannya, berusaha menguasai hartanya.”
“Luna, apa yang kamu katakan hahh?”
“Mama, aku mengatakan fakta. Sudahlah Mama, aku sangat lelah. Sebaiknya kita beristirahat di kamar,” pinta Luna kemudian melangkahkan kakinya.
“Dasar kurang ajar kamu, pergi kamu dari rumah ini Luna!” teriak bu Fatma yang membuat Luna menghentikan langkah.
Gadis itu berbalik dan kembali menatap ibu mertuanya tersebut dengan senyum manis di bibirnya. “Mama lupa ya, rumah ini milik Luna, perusahaan, aset, deposito, semua milik Luna. Jadi menurut Mama, siapa yang seharusnya keluar dari rumah ini?”
Jantung Bu Fatma berdegup kencang, tampak sekali amarah di mata perempuan ini. Namun perempuan ini tidak bisa berkata-kata lagi, Bu Fatma hanya bisa melangkahkan kaki dan kembali ke kamarnya dengan amarah yang tidak bisa dia lampiaskan.