
"Kamu sudah bertumbuh besar sekarang, Ryan," kata bu Diana sambil menyeka air mata di pipi Ryan. Perempuan itu pun turut bersimpuh di hadapan laki-laki yang baru saja menodongkan pistol ke kepalanya.
"Kamu masih sama seperti dulu. Hidungmu, matamu, bahkan saat menangis pun kamu masih tetap seperti Ryan kecil." Imbuh bu Diana.
Semua orang yang ada di tempat itu terkejut. Luna, Rendra, bahkan Max tidak bisa melepaskan pandangannya dari Ryan. Selain karena baru pertama kali dirinya bertemu dengan saudara kandungnya, laki-laki itu juga waspada jika Ryan menyakiti bu Diana.
"Ibu..", Rendra hendak maju untuk menolong sang ibu dan juga untuk menjauhkan dari Ryan. Namun Luna menarik tangannya, memberi tanda agar sang suami tidak ikut campur.
"Ryan, ibu sangat merindukanmu. Masih ingatkah saat dulu kita sering bermain bersama? Petak umpet, bukankah itu permainan kegemaranmu? Meskipun ibu selalu bisa menemukanmu." Bu Diana tersenyum kecil mengingat masa lalu. Dan saat ini tangan lembut perempuan itu telah mengusap rambut laki-laki yang kini telah berada di pangkuannya.
"Oh iya, apakah kamu masih suka dengan tahu? Dulu kamu tidak mau makan jika tidak ada tahu." Kali ini pun Ryan juga tertawa kecil di tengah tangisnya.
"Ibu masih ingat dulu kamu selalu tidur seperti ini di pangkuan ibu."
Ibumasih terus berbicara mengenang saat-saat dahulu bersama Ryan. Sementara Rendra berkata kepada Luna, "aku tidak mengerti apa yang terjadi,aku tidak bisa mengingat apapun."
"Pasti ada cerita yang kita sama sekali tidak tahu Mas. Itu antara ibu dan Ryan."
Mereka masih terus memperhatikan bu Diana dan juga Ryan. Selain memperhatikan cerita kenangan bu Diana, mereka juga siap siaga jika sewaktu-waktu Ryan menyerang.
"Tidak, itu semua bohong. Ini tidak benar, ini tidak benar!" Tiba-tiba Ryan beranjak dari posisinya. Laki-laki itu seperti sedang depresi, sambil memegang kepalanya dia terus mengatakan bahwa ini semua tidak benar, ini semua salah.
"Ryan kamu kenapa Nak?" Bu Diana khawatir dengan keadaan Ryan. Perempuan itu berusaha mendekati dan menenangkannya. Namun Ryan menolak, tanpa berkata apapun Ryan pergi dari rumah itu.
Bu Diana berteriak memanggil nama Ryan dan bergegas hendak mengejarnya. Akan tetapi Rendra dan Luna mencegah, "biarkan Ryan pergi Bu," ucap Rendra. Bu Diana pun mengangguk dan mengurungkan niatnya.
"Siapa sebenarnya Ryan, Bu?" tanya Rendra pelan setelah bu Diana lebih tenang. Luna dan Rani memberikan minum dan juga obat kepada perempuan itu untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
"Dia Ryan, putranya Fatma dan Haris." Jawab bu diana. Semua yang ada di situ mulai memasang telinga untuk mendengarkan. Terutama Max, karena ini menyangkut mama kandungnya.
"Ibu mengenalnya?" tanya Max.
Bu Diana tersenyum mendengar pertanyaan itu. "Ibu sangat mengenal Ryan dan juga Fatma."
"Ibu memiliki hubungan dengan bu Fatma?" tanya Luna antusias, sementara Rendra memejamkan mata mendengar nama itu, rasa sakit masih terasa di dadanya.
"Fatma adalah temanku, kami dibesarkan di panti asuhan yang sama. Sebelum akhirnya Fatma menikah dengan Haris. Awalnya kehidupan mereka bahagia, apalagi Ryan datang dan melengkapi kebahagiaan mereka. Tapi hidup memang rumit dan kadang tidak bisa dimengerti." Terlihat rona wajah tidak suka dari bu Diana saat mengucap kalimat terakhir nya.
"Haris terkena PHK di kantornya. Saat itu Fatma tidak bisa menerima. Bayi Ryan dititipkan Fatma kepadaku, kemudian dia pergi meninggalkan Haris dan juga Ryan." Max menghela nafas dalam mendengar cerita itu. Bukan hal yang baru baginya, bahkan dirinya juga merasakan hal yang sama.
"Waktu terus berlalu, ibu pun akhirnya menikah dengan ayahnya Rendra. Ryan adalah pangeran kecil di keluarga kami. Sementara Haris bekerja di perusahaan ayahnya Rendra. Setidaknya hidup Haris dan Ryan menjadi lebih baik, meskipun keduanya masih sangat merindukan Fatma." Bu Diana menghela nafas panjang disela ceritanya. Entah mengingat sesuatu atau tengah memberikan kekuatan untuk dirinya sendiri.
"Lalu Fatma pulang, dia mengambil kembali Ryan dari tanganku. Mereka hidup bertiga seperti dulu. Tapi entahlah, setan mana yang meracuni fikiran Fatma. Dia selalu mencari masalah."
"Bukan mencari masalah bu, mama tidk pernah bersyukur dengan kehidupan yang dimilikinya, dia selalu ingin lebih. Meskipun dia sadar bahwa itu akan menyakiti orang-orang di dekatnya." Max angkat bicara. Rendra pun memegang punggung adik kesayangannya itu agar bisa lebih tenang.
"Lalu apa yang terjadi bu?" Luna bertanya, tidak hanya Luna mungkin yang lain pun juga ingin tahu kelanjutan kisahnya.
"Tiba pada hari yang merubah segalanya. Haris ditemukan meninggal gantung diri di kamarnya. Ya, papanya Ryan mengakhiri hidupnya."
"Ya Tuhan, kenapa bisa seperti itu bu?"
"Ibu tidak tahu. Yang ibu tahu, sebelum kejadian itu ayah Rendra pulang ke rumah dengan marah. Dia merasa dibohongi dan dizalimi oleh Haris. Haris telah mencuri uang perusahaan hingga perusahaan terancam bangkrut."
"Apa?"
"Ya, tidak ada yang menyangka jika Haris akan melakukan hal rendah itu. Bahkan ayah Rendra sudah menganggap Haris sebagai saudara sendiri. Haris pun dipecat dari perusahaan."
"Apakah itu yang menyebabkan Haris bunuh diri?"
"Ibu tidak tahu, tapi seharusnya tidak. Karena Haris sendirilah yang mengaku melakukan kejahatan itu."
"Lalu bagaimana dengan Ryan dan bu Fatma?" Rani yang sedari tadi juga menyimak kini mulai bertanya-tanya.
"Sejak Haris meninggal, ibu tidak bertemu dengan Ryan. Ibu mencari kemana-mana tetapi tidak ketemu. Hingga penculikan itu terjadi selama berpuluh-puluh tahu. Fatma memisahkan ku dari suami dan putraku." Bu Diana mulai meneteskan air mata. Sebuah kesedihan besar terlihat dari sorot matanya. Namun perempuan itu masih terus berusaha tampak tegar.
"Ibu masih memiliki kami semua." Luna memeluk bu Diana, diikuti Rendra, Max, dan juga Rani.
*****
"Bodoh kamu Ryan!" umpat bu Fatma kepada laki-laki di hadapannya.
"Tenang Ma!" ucap laki-laki di hadapannya yang tak lain adalah Ryan. Laki-laki itu melihat ke kanan dan ke kiri untuk meyakinkan dirinya bahwa tidak ada orang di sekitar yang memperhatikan keduanya. Bagaimana pun juga saat ini status Ryan adalah tahanan yang kabur dari penjara. Dan kini laki-laki itu menyamar demi menemui sang ibu.
"Kamu memang sama bodohnya seperti Haris." Kali ini umpatan itu diucapkannya dengan pelan, namun tegas dan menyakitkan.
Ryan hanya diam mendengarnya. Sebenarnya laki-laki itu tidak tahan jika mamanya membawa nama sang papa untuk dijadikan bahan umpatan. Tapi dirinya tidak bisa melakukan apapun.
"Dengan mudahnya kamu melupakan apa yang telah terjadi pada kita puluhan tahun yang lalu hanya karena belaian Dian. Cihh, kamu tak hayal hanyalah anak manja Ryan." Bu Fatma berusaha menjatuhkan mental sang putra.
"Kamu lupa bagaimana mereka memperlakukan kita, hah? Kamu lupa bagaimana papamu gantung diri karena mendapatkan tekanan oleh ayahnya Rendra? Papamu dipecat, bunuh diri, kita menjadi gelandangan, ibu harus menjual diri untuk membeli makan, kamu harus mencuri, itu semua karena mereka Ryan. Jangan lupa dengan itu!" Ucap bu Fatma dengan wajah merah marah. Sementara Ryan hanya bisa menunduk mendengar apa yang ibunya katakan.