PANGERANKU OM-OM

PANGERANKU OM-OM
BAB 12


“Cieee, ada yang jatuh cinta. Pengumuman, Luna sedang jatuh cinta sama suaminya,” teriak Rani saat keduanya tengah makan siang di kantin kampus.


“Diem, diem enggak, apaan sih Ran,” Luna yang merasa malu segera menutup mulut sahabatnya itu yang semakin lama semakin tidak bisa dikendalikan. Gadis itu hanya bisa tertunduk malu saat beberapa orang mulai tersenyum ke arahnya dan memberikan ucapan selamat.


“Gila kamu tuh!” bentak Luna kepada sahabatnya itu.


“Ini harus dirayakan. Seorang Luna yang tidak pernah jatuh cinta, kini jatuh cinta kepada suaminya.”


“Apaan sih? Siapa juga yang jatuh cinta? Enggak mungkin juga aku jatuh cinta sama om-om. Lagi pula Rendra bukan pangeran impianku.”


“Halah, menghalumu itu ketinggian. Untung aja Rendra mau sama kamu. Tuh liat, Rendra tuh penulis terkenal, pemilik perusahaan penerbitan yang besar, cakep, kaya. Di luar sana pasti banyak cewek yang pengen dapetin cintanya. Kamu udah dapat gratis, masih aja kurang,” omel Rani yang hanya bisa membuat gadis itu tersenyum manyun.


Tidak hanya sekali dua kali kalimat itu dia dengar, bahkan kalimat seperti itu dia dengar juga dari sang ibu. Benar-benar ibu dan sahabat adalah musuh dalam selimut yang kompak.


Tapi bukan Luna namanya jika tidak keras kepala. Gadis itu tetap kekeh tidak mengakui perasaannya kepada Rendra. Entahlah seperti apa bentukan pangeran impiannya itu.


*****


Hari ini hari minggu, hari untuk bermalas-malasan. Sudah pukul 9 pagi, namun Luna masih enggan melepas selimut yang menempel di tubuhnya. Aroma masakan Rendra yang selalu membuatnya tergoda dan membuka mata, kini hilang pamor.


Rendra yang sudah lima kali bolak-balik ke kamar untuk meminta istrinya sarapan selalu saja keluar dengan tangan kosong. Laki-laki itu tidak tega melihat Luna yang tengah tidur dengan sangat pulas. “Bukankah semalam kamu tidur cepat, kenapa sampai jam segini belum ingin bangun?” ucap Rendra lirih.


Suami idaman itu hanya tersenyum, kemudian menuju meja kerjanya untuk memeriksa beberapa email yang masuk.


“Auuu,” rintih Luna sambil memijat kepalanya yang terasa berat. Gadis itu merasa tidak enak badan hari ini. “Apa kambuh lagi ya?” ucapnya sambil mencoba bangkit dari tempat tidur.


Luna meneguk air putih yang ada di nakas tempat tidurnya. Beberapa teguk berhasil membuat keadaannya menjadi lebih baik. “Sepertinya aku harus mandi,” gumamnya kemudian berjalan menuju kamar mandi.


Sesaat setelah Luna masuk ke kamar mandi, Rendra masuk ke dalam kamar. Menyaksikan tempat tidur yang telah kosong, lelaki itu tahu jika istrinya telah bangun. Kemudian mengganti niatnya yang semula masuk ke dalam kamar untuk mengambil beberapa berkas, kini berbalik untuk kembali meminta Luna sarapan.


“Aaaaaa, tolong…, tolong.., Mas Rendra tolong..,” teriak Luna dari dalam kamar mandi.


Rendra sangat terkejut, dengan wajah cemas laki-laki itu segera berlari menuju kamar mandi. “Ada apa Luna? Kamu kenapa?” teriaknya sambil menggedor pintu kamar mandi.


“Tolong, Mas Rendra tolong..,” Luna terus berteriak yang semakin membuat Rendra cemas. Tanpa babibu lagi laki-laki itu segera mendobrak pintu.


Mata  Rendra terbelalak saat melihat tubuh Luna polos tanpa sehelai benang pun yang menutupi. Dan yang lebih


membuat Rendra terkejut, saat tiba-tiba Luna berlari dan memeluk Rendra dengan erat. Laki-laki itu bisa merasakan benda kenyal yang kini menempel di tubuhnya, apalagi dirinya hanya memakai kaos tipis.


Aroma sabun yang masih melekat di tubuh Luna, membuat Rendra semakin melayang. Dekapan Luna yang juga semakin erat, benar-benar membuat Rendra semakin terjebak pada situasi yang sangat diinginkannya selama ini.


“Tolong, tolong Mas..,” teriakan Luna membuat Rendra kembali tersadar akan ilusinya.


“Ada kecoak di sana,” kata Luna sambil tangannya menunjukkan salah satu sudut dimana hewan menjijikkan itu bersembunyi.


Rendra ingin tertawa melihat kelakuan Luna. Tapi tidak, situasi ini pasti akan berubah jika dirinya tertawa. Dan Rendra tidak menginginkan hal itu.


Rendra pun memeluk Luna erat sambil memanfaatkan kesempatan langka ini dalam hidupnya. “Dari mana kecoa ini bisa muncul? Hush, hush..”


“Udah pergi belum?”


“Eh eh malah mendekat,”


“Aaaa, jangan-jangan! Mas Rendra suruh kecoanya pergi!” teriak Luna yang sedari tadi tidak mau membuka mata, hingga dirinya tidak sadar jika Rendra tengah mengerjainya.


“Hush, hush, jangan ke sini, pergi, pergi!” Rendra masih terus mengerjai sang istri sambil memeluk Luna erat.


“Udah pergi belum?”


“Udah”


Luna menghembuskan nafas panjang sambil membuka mata. Di saat itu pula gadis itu baru menyadari jika dirinya tengah tanpa busana, bahkan busa sabun pun masih melekat di tubuhnya. Sementara tubuh polos itu tengah menempel erat di tubuh Rendra.


“Aaaa,” kembali Luna berteriak.


Rendra yang terkejut segera melepas pelukannya. “Ada apa Lun? Ada kecoa lagi?”


“Dasar om-om mesum,” teriak Luna lagi sambil menutup bagian-bagian penting tubuhnya dengan tangan.


“Kamu yang meluk Lun,” Rendra berusaha membela diri untuk membuktikan jika dirinya tidak seperti yang Luna katakan.


Luna segera mengambil handuk untuk membungkus tubuhnya. Namun karena tubuhnya masih penuh dengan cairan sabun, kaki Luna terpeleset.


Dan begg, tubuh polos itu kembali jatuh di pelukan Rendra. Karena posisi Rendra yang tidak siap dan juga lantai yang licin, membuat keduanya jatuh di lantai dengan posisi tubuh Luna tepat di atas tubuh Rendra.


Untuk sesaat, Luna bisa melihat wajah tampan Rendra dari dekat. Rani benar, Rendra adalah laki-laki yang sangat tampan. Kenapa aku tidak melihatnya selama ini? batin Luna.


Sementara Rendra, posisi seperti ini membuat laki-laki itu tidak mampu untuk menahan adik kecil di bagian bawahnya. Adik kecil yang sedari tadi sudah berdiri dengan tegak, kini mulai siap untuk melakukan job disk yang selama ini belum pernah dilakukannya.


“Tuan Rendra, Tuan Rendra,” sebuah suara membuat Luna dan Rendra terhenyak dan kembali ke dunia nyata.


Keduanya pun segera bangkit untuk memperbaiki posisi. Rendra segera keluar untuk menemui bik Inah yang memanggil dari balik pintu kamar.


Sementara Luna dengan senyum tipis di bibir, berusaha menutupi rasa gugup yang tiba-tiba muncul dari dalam hatinnya.