
“Saya minta sekali lagi, tolong periksa kembali surat wasiat itu Tuan!” imbuh perempuan itu sambil menjauhkan dirinya dari Luna.
Luna semakin bingung dengan apa yang terjadi. Ibu mertuanya datang setelah tujuh hari kematian putranya, tapi mengapa sama sekali tidak ada duka dalam hatinya? Kenapa malah mempermasalahkan surat wasiat? Fikirnya.
“Baik Ibu, saya akan memeriksa kembali surat ini. Esok saya akan kembali,” ucap laki-laki itu kemudian pergi meninggalkan rumah.
Luna kembali memandang ibu mertuanya yang kini tengah menghela nafas panjang. Beribu-ribu pertanyaan muncul di kepala gadis itu.
“Luna, maaf Sayang. Tadi mama terlalu lelah. Bagaimana kabarmu Nak?” ucap perempuan itu sambil mendekat ke arah Luna dan memeluk menantunya tersebut.
“Baik Ma,” jawab Luna lirih. Gadis itu berusaha melupakan semua ada yang ada di fikirannya.
“Mama tidak menyangka Rendra akan meninggalkan kita secepat ini. Masih sangat jelas bagaimana Rendra kecil berada di gendongan mama, merajuk manja. Tapi kini putraku…”
“Ma, ini semua sudah kehendak Tuhan,” Luna terbata karena air matanya telah mengalir dengan deras bersamaan dengan nama suaminya yang telah disebut. Tapi menurut Luna, sang mertua lah yang memiliki rasa sedih lebih besar. Seorang anak yang telah dibesarkannya, pasti akan sangat sulit untuk dilupakan.
Luna melepas pelukannya, menghapus air mata di pipi, kemudian berusaha tersenyum. “Mama ke sini sama siapa? Dimana adik-adik? Apa mereka tidak ikut?”
“Tidak, mereka harus menghadapi ujian saat ini. Jadi tidak bisa datang,” jawab ibu Rendra yang pastinya membuat Luna sedikit terbelalak. Bagaimana bisa sang kakak meninggal tapi adik-adiknya masih mempedulikan ujian? Apakah memang seperti itu di keluarga ini? Batinnya.
“Mama datang dengan Ryan, dia kakak Rendra,” jawab mama bersamaan dengan munculnya seorang laki-laki dari luar.
Jika dilihat dari wajahnya, mungkin laki-laki ini berusia sekitar empat tahunan di atas Rendra. Tapi kenapa Rendra tidak pernah bercerita jika dia memiliki kakak?
Luna sedikit berfikir sambil menatap laki-laki tersebut, sepertinya aku pernah melihatmya tapi dimana? Fikir Luna. Ah, mungkin duka kehilangan Rendra juga mempengaruhi ingatan gadis itu.
“Hai Luna,” sapa laki-laki itu.
“Hai Kak,” jawab Luna sambil menjabat tangan laki-laki yang wajahnya sama sekali tidak mirip dengan suaminya itu.
“Ah Luna, mungkin kamu belum mengenal Ryan. Saat kamu dan Rendra menikah, Ryan tidak bisa datang. Jadi ini pertama kalinya kalian bertemu,” ucap ibu Rendra yang sepertinya mengerti kebingungan Luna.
“Iya Ma, ahh Mama ingin langsung ke makam Mas Rendra? Mari Luna antar.”
“Tidak Luna, nanti saja mama kesana. Mama ingin istirahat terlebih dahulu. Minta bi Inah untuk menyiapkan kamar mama dan Ryan!” perintah mertua Luna.
Luna hanya bisa mengangguk dan melakukan perintah mertuanya. Gadis itu mencoba tidak mempermasalahkan apapun. Perjalanan panjang pasti membuat mama lelah, fikirnya.
*****
Sore hari ibu Rendra meminta Luna berkumpul. Ada tiga orang di ruang keluarga, Luna, Ryan, dan juga perempuan yang dipanggilnya mama.
“Luna, mama ingin mengatakan sesuatu kepadamu. Ini mungkin akan sedikit menyinggung perasaan atau apapun itu, tapi mama harus mengatakannya Nak.”
“Katakan saja Ma, apa yang terjadi?”
“Begini Luna, masalah surat wasiat yang Rendra tinggalkan. Kamu tahu kan Lun, Rendra masih memiliki dua orang adik yang memerlukan biaya pendidikan. Apa yang akan terjadi dengan adik-adik Rendra jika mereka sama
sekali tidak memiliki hak atas harta yang kakaknya tinggalkan? Seperti yang dikatakan pengacara tadi bahwa semua aset dan harta Rendra diwariskan ke kamu.”
“Ma, kenapa Mama berkata seperti itu? Ini adalah harta Mas Rendra, semua berhak atas harta ini. Apalagi adik-adik mas Rendra.”
“Jadi kamu setuju jika semua harta dan aset Rendra diwariskan ke Ryan?”
“Apa?” Luna sangat terkejut dengan kalimat yang baru saja mertuanya ucapkan. Kenapa harus Ryan? Dan kenapa Mama seperti sangat berharap jika semua ini dimiliki Ryan?
“Iya Nak, Ryan juga berhak atas semua ini. dia adalah kakaknya Rendra, apa yang Rendra miliki juga seharusnya dimiliki oleh saudaranya bukan?”
“Iya tapi…”
“Kamu jangan khawatir, kamu bisa tetap tinggal di sini. Lagi pula kamu adalah perempuan, kamu tidak mungkin bisa selincah Ryan dalam menjalankan perusahaan. Lebih baik perusahaan Rendra yang sudah berkembang itu
jatuh di tangan yang tepat. Bukan begitu Lun?”
Luna menatap mertuanya, dari sorot mata sang mertua tampak jika perempuan itu sangat menginginkan jawaban iya dari mulutnya. Luna mengalihkan pandangannya ke Ryan, sejak awal Luna sudah tidak respect dengan lelaki itu. Entahlah, dengan cepat Luna menilai jika Ryan bukan orang baik-baik, sangat berbeda dengan Rendra.
“Bagaimana Lun?”
“Ah, Luna.. Luna…”
“Lun, ingat! Kamu hanya istrinya. Bahkan kalian berdua menikah belum ada satu tahun. Sementara saudara-saudara Rendra? Kita memiliki ikatan darah. Bahkan sebelum menikahimu, Rendra sudah mendapatkan ini semua.
Luna tersenyum, mertuanya mampu membuat dirinya kembali ke asal. Dia bukan siapa-siapa, hanya seorang jandanya Rendra. Dirinya tidak berhak atas apapun, termasuk harta suaminya.
“Iya Ma, semua kekayaan mas Rendra akan menjadi milik kak Ryan. Jika surat wasiat tersebut memang benar seperti itu adanya, Luna akan membuat surat kuasa untuk peralihan hak.”
“Terimakasih Sayang, mama tahu kamu pasti akan melakukan hal ini,” ucap sang mertua sambil tersenyum puas.
Ibu Rendra dan Ryan saling berpandangan dengan senyum lebar tersungging di bibir masing-masing. Tampak sebuah rasa puas dari dalam hati keduanya. Sementara Luna hanya bisa memperhatikan ibu dan anak tersebut dengan hati gundah.
Kenapa aku merasa ada yang salah? Ahh, mungkin ini hanya fikiran burukku. Mama benar, harta peninggalan mas Rendra harus jatuh ke tangan yang tepat. Ucap Luna dalam hati.